Sua Sapa Tiara Effendy dan Harra untuk Para Pemimpi

Artikel : Sekar Puspitasari

| HujanMusik!, Jakarta – Suka atau tidak, kita adalah manusia penuh luka yang tidak pernah berhenti menjaga duka. Kita terlampau sering mendera diri dengan kesah. Mengglorifikasi keresahan seolah diri adalah makhluk paling tidak berdaya, yang diam-diam diseret waktu dan terseok dalam perjalanan seolah tidak rela untuk tunduk pada jarak. Kita semua tahu, ketakutan itu ada tapi tidak sepenuhnya menjadi kenyataan. Karena kita terlalu sering disibukkan oleh perasaan cemas, ragu dan seterusnya, yang membuat hati kita tidak berada dimana-mana. Kita seolah tengah menikmati laranya dan memelihara gelisahnya. Maka, seperti pagi yang tengah membuka pintu-pintu kemungkinan lewat jemari gemulai embun di ujung dahan juga dedaunan, Tiara Effendy dan Harra mulai berjalan dan berlari untuk mengibarkan bendera mimpi mereka lewat sebuah lagu berjudul “Sua Sapa” agar kita pun turut ambil bagian untuk terus melangkahkan kaki dalam sebuah petualangan.

Pagi ini cerah datang menghampiri setelah derapan kaki-kaki mungil gerimis sisa semalam mengitari ujung rumput beraroma atsiri. Seolah wewangian dini hari sedang men-stimulasi mimpi yang sempat mati suri, Tiara Effendy, seorang solois asal Jakarta dan grup band asal Bandung bernama Harra membebat luka mereka dalam segenap harmoni lagu “Sua Sapa” dan kembali memijakkan diri di atas lintasan. Lewat lagu ini, Tiara dan Harra menceritakan tentang sebuah perjalanan yang ditempuh bersama untuk saling mengejar mimpi. Meskipun mimpi yang menjadi tujuan terkadang berbeda, sebuah perpisahan tidak akan selalu berakhir menjadi sebuah kesedihan. Alih-alih menjadi sebuah pengalaman dimana akan melahirkan cerita baru saat kembali bersama.

Dalam memproduksi lagu ini, Tiara dan Harra menggandeng Rainer Bangsawan, Haryo Tejo, dan Vico Wibowo sebagai produser. Dibantu pula oleh Asilah Andreina dalam penulisan liriknya. Sementara itu, Kamga berperan sebagai vocal director dan backing vocal. Tugas mixing & mastering diserahkan pada Dendy Sukarno. Dan strings oleh Anime String Quartet yang digawangi oleh Ahmad Ramadhan pada Violin 1, Fitrah Ramdhan pada Violin 2, Angga Aditrya pada Viola, Robby Subarja pada Cello. Tak ketinggalan orchestrate arahan Dorry Windhu Sanjaya turut menambah keramaian. Mereka semua membuat lekukan pada nada “Sua Sapa” menari di ujung bibir untuk turut serta menyanyikan lagunya dan menyetrum semangat. Pun itu yang ingin diceritakan oleh kedua kolaborator ini, lewat lagunya tersebut sejatinya merupakan perwujudan bentuk sebuah visi dan motivasi bagi tiga orang pesepeda Indonesia yaitu Jerry Rachman, Gisza Gabriella, dan Alman Julhijan yang melakukan perjalanan sepeda mereka sejauh 1.000 KM dari Bandung menuju Bali.

Bersamaan dengan perjalanan menggunakan sepeda tadi, digelar pula “Bersua Sapa” langsung di lima kota di Indonesia yaitu Tasikmalaya, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan diakhiri di Bali pada tanggal 28 Januari 2022 lalu. Selain untuk memberikan dukungan pada tiga pesepeda dengan mimpi luar biasa tadi, acara ini diadakan untuk saling berkenalan dan menyapa kembali para pahlawan lokal di tiap kota yang disinggahi. Harapannya, dengan adanya “Bersua Sapa” dapat menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya, berkontribusi, dan memberi dampak positif bagi lingkungannya.

Dalam eksistensialisme Sartre, rasa takut sesungguhnya adalah salah satu rasa mendasar yang dimiliki oleh manusia. Karena rasa takut adalah penanda agar kita selalu waspada. Namun, alih-alih berhati-hati, seringkali kita malah berakhir pada situasi stagnansi. Meski kita diciptakan sebagai makhluk dengan kebebasannya, seringkali kita tersesat pada kebebasan itu sendiri. Maka jika demikian, yang perlu kita lakukan hanyalah melepaskan segala rasa itu pada pemilik-Nya untuk menggenapkan segala kesedihan maupun kebahagiaan. Sebab itulah yang membuat kita tetap menjadi manusia. Yang tetap tegap berdiri meski satu kaki terluka, kita masih memiliki satu kaki lainnya untuk menemani perjalanan walau sampai lebih pelan. Karena mengeja perjalanan, kadang butuh luka bukan?