Imajinarium, kolektif rock asal Solo

Tentang Bumi, Manusia, dan Amanat Imajinarium

Artikel : Rizza Hujan

| HujanMusik!, Solo – Kadang, terlalu lama berdiam diri bisa menumpulkan imajinasi. Menumbuhkan rasa malas serta menjauhkan diri dari rezeki. Dan yang paling parah adalah merajanya rasa tidak peduli. Buat saya ini bencana. Kebiasaan menulis pun sempat tersisihkan sementara, kalah oleh derasnya arus dunia yang lain. Serangannya sederas musim hujan jelang akhir tahun. Hal itu beradu kuat dengan usaha menjaga rutinitas positif guna menjaga kewarasan diri. Jika tidak maka tragedi mendekati. Depresi. Seolah mengerti dengan kondisi, karya sekelompok manusia dari Solo sampai di telinga saya. Sebuah rilisan dengan pesan yang kuat nan tajam.

Hari ini tragedi terjadi seolah kebetulan, bencana terjadi seperti tidak terduga, dan panen hasil alam layaknya keberuntungan semata. Manusia gagal dalam membaca hukum alam, dimana kita seharusnya mengambil dari apa yang kita beri, merawat dari apa yang disediakan alam, dan menjaga keseimbangan rantai kehidupan. Ketamakan telah membutakan logika, perasaan dan nurani. Manusia telah banyak mengacau dan cenderung memiliki keinginan untuk meraih kelebihan dibanding yang lain. Siapa saja ingin menjadi lebih kaya, lebih pintar, lebih berpengaruh, lebih berkuasa, lebih terkenal, dan seterusnya.

Tiga orang pegiat seni yang bernaung di bawah ruang Imajinarium mencoba menceritakan gambaran metafora dari fenomena ini kedalam lagu berjudul Sacrifice. Sebuah komposisi yang melukiskan manusia yang banyak melakukan kesalahan terus menerus dan menimbulkan dampak buruk bagi keseimbangan di bumi. Pada akhirnya mereka tersadar bahwa semua yang dilakukan telah berdampak buruk terhadap bumi. Sang pertiwi perlahan sekarat, menjadi korban utama dari keserakahan manusia dari banyaknya eksploitasi alam dan kerusakan lingkungan hidup.

Imaji yang saya dapat saat mendengarkan debut trio ini adalah kuatnya keresahan personil Imajinarium yang berbalut kemegahan aransemen musik yang beragam. Tidak heran karena katanya karya ini mengkombinasikan banyak formula. Pengaruh dari berbagai referensi seperti Pink Floyd hingga Led Zeppelin menjadi landasan Imajinarium membuat riff, lick, dan ritmik musik rock pada lagu ini. Semua itu dihias bunyi synthesizer yang tidak terlalu dominan. Orkestrasi strings section dan brass section yang seringkali digunakan oleh Hans Zimmer, John Williams, dan lain-lain untuk memperkuat suasana juga diterapkan dalam karya-karya mereka. Selain itu, Radiohead juga menjadi referensi Imajinarium saat mengaransemen musik dalam lagu ini.

Imajinarium memproklamirkan diri sebagai grup musikal dan berpusat di Kota Solo/Surakarta. Gandhi Asta (vocal, guitar, synth), Hangga Sakti (bass guitar), Bagas Prabowo (drums) membentuk proyek ini berlandaskan rasa ingin lebih merdeka dan leluasa dalam bermusik dan membuat musik. Soal nama, Imajinarium memiliki arti yaitu ruang atau tempat dimana yang terjadi di sana adalah wujud manifestasi imajinasi/pikiran/perasaan orang yang berada di dalamnya. Grup ini adalah wujud dari Imajinarium itu sendiri, sebagai ruang berimajinasi lalu diwujudkan ke dalam karya,  entah dalam konteks musikal maupun non-musikal.

Album artwork Imajinarium

Pesan dari lagu Sacrifice adalah ajakan untuk menumbuhkan kepekaan yang lebih terhadap bumi dan lingkungan hidup. Membentuk kesadaran bahwa kita telah mengacau selama ini dan sudah saatnya kita memperbaiki ini semua dengan cara membangun sikap lalu melakukan perubahan melalui aksi nyata. Tak melulu tentang hal yang besar, perubahan kecil secara utuh, teratur, kemudian terus dikembangkan akan berdampak signifikan. Misalnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, tidak melakukan pemborosan terhadap sumber daya dan banyak lagi hal yang mampu kita lakukan yang mampu berdampak baik pada keseimbangan bumi dan lingkungan hidup.

“Kehadiran manusia sebagai entitas tertinggi menurut banyak paham dan ajaran kini menjadi sebuah pertanyaan besar. Berkah berupa akal dan logika berubah jadi pisau bermata dua, meski sama-sama difungsikan sebagai alat untuk bertahan hidup, beberapa manusia memiliki metode yang berbeda-beda dalam melangsungkan kehidupan. papar Imajinarium dalam rilisnya.

Memang, harusnya manusia bisa memulai untuk menahan nafsu dan sadar akan pentingnya kehidupan. Melawan kehendak alam diibaratkan seperti berlari melawan laju gravitasi, sejauh apapun kita terbang tetap akan jatuh diujung waktu. Bumi memiliki siklus dalam beradaptasi melawan kerusakan. Bencana dan wabah bukanlah kejadian kebetulan, melainkan tidak lebih karena ulah dari manusia sendiri yang selalu digadang-gadang sebagai entitas termulia dan tertinggi.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *