Memantik Ujung Resah Ocean Ocean dalam “Be Mouthy Talky”

Artikel Anggitane

| Hujanmusik!, Yogyakarta – Gemuruh lautan sedang menampakan pendarnya yang membius. Membawa suasana diam menjadi lamunan. Mulut terkunci, namun batin dan pikiran serasa kompak menembus batas sudra pertapaan malam.

Jogja selatan sedang mengundang. Mengajak saya untuk menepi beberapa waktu, seraya menimbang pesan-pesan masa depan.

Diantara roman kebetulan itu, kolega ruang redaksi HujanMusik! mengingatkan adanya lonceng peringatan, tentang sebuah kolektif yang menamakan dirinya Ocean Ocean. Mereka tengah memperdengarkan “Be Mouthy Talky” yang didapuk sebagai materi kedua.

Ya, memang kebetulan. Dalam penelusuran setelahnya saya dapati materi pemecah ombak. Lamunan terhenti demi menikmati aransemen pembuka yang saya suka. Mengingatkan masa-masa sekuat tenaga saya meng-cover band-band British Pop  dengan deru rock n roll mainstreamnya.

Masa rindu panggung berkualitas dengan kolektifitas pengelola skena musik yang hidup dan menghidupi.

Ocean Ocean hadir pada kebetulan yang tepat. Utamanya untuk saya yang merindu British Pop dengan seduhan rock n roll yang memantik. Mereka muncul dengan narasi musik sederhana dan tak rumit, kesederhanaan Jogja yang saya kenal.

“Be Mouthy Talky” menjadi ujaran rock n roll  kejujuran Dibta Mahatma (drum), Candra Praba (vokal), dan Arvin Situmorang (gitar). Sejak bersekutu sekira 2016 silam, mereka memusatkan perhatian pada tema-tema yang menggejala secara sosial.

Diluar narasi British Pop yang mereka usung, trio Yogyakarta ini menaburkan perhatian pada kehadiran media sosial yang tak hanya menjadi sebuah wadah bagi seseorang untuk berbagi, namun juga digunakan untuk meraih pundi-pundi. Banyak yang diuntungkan karena kehadirannya, namun tidak sedikit pula hal buruk terjadi akibat adanya platform yang berkeliaran secara bebas di dunia maya tersebut.

Kegemaran mengumbar hal keburukan yang menyulut ketersinggungan pihak lain misalnya. Menjadi contoh buruk penyelesaian perselisihan yang tak jarang berakhir pada sidang pengadilan.

Barangkali disinilah “Be Mouthy Talky” diperkenalkan Ocean Ocean untuk menggambarkan tentang kondisi yang selama ini membuat mereka resah.

Fenomena tersebut mereka gambarkan melalui sebuah kisah dari sepasang kekasih, yang malah memilih untuk mengumbar permasalahannya kepada banyak orang ketimbang untuk menyelesaikan masalahnya secara langsung.

“Dalam lagu ini kami mencoba menggambarkan, bahwa ketika sepasang kekasih memiliki masalah dalam hubungannya, alangkah lebih baik untuk langsung dikomunikasikan dan diselesaikan. Karena mengumbar masalah kepada banyak orang, baik secara langsung atau melalui media sosial bukan malah memberikan solusi, tapi malah menimbulkan permasalahan baru dari masalah yang luput untuk diselesaikan sebelumnya,” ujar Arvin Situmorang, gitaris dan penulis lagu. Sebagaimana ditulisnya untuk HujanMusik!.

Pernyataan yang didukung koleganya, Candra Prada, bahwa yang seharusnya menjadi fokus seseorang terhadap permasalahannya adalah upaya untuk mencari solusi.

Begitulah, dalam balutan lirik sederhana berbahasa inggris, “Be Mouthy Talky” adalah perpaduan yang pas untuk menyampaikan apa yang membuat mereka gundah. Paling tidak representasi personil Ocean Ocean dan pendenngarnya.

“Semoga dengan hadirnya karya terbaru kami bisa menjadi bahan renungan dan tentunya juga bisa diterima oleh banyak pendengar musik di Indonesia. Selain itu, “Be Mouthy Talky” merupakan karya pengantar kami menuju mini album yang akan kami perkenalkan pada pertengahan tahun 2021 nanti,” tutup Candra.

“Be Mouthy Talky” sudah bisa dinikmati di kanal Spotify, Deezer, iTunes, Youtube Music dan lainnya. Terbaru, mereka juga merilis official video lirik di kanal Youtube Ocean Ocean.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *