Settle, unit alternative yang tumbuh di Denpasar Bali

Settle, Diantara Gejolak Rasa Chapter Kedua

Artikel Anggitane

| Hujanmusik!, Denpasar – Catatan bergulung nan lusuh itu kuat di genggaman. Seolah tak mau terlepas sekejap pun. Wujud tubuh rapuhnya berjalan menyisir jalan dengan raut wajah yang menyisakan pengalaman hidup bertahun-tahun. Fragmen sepersekian detik yang meluluhkan rasa. Menemui momentum perjalanan terakhir pada sebuah kota.

Barangkali ada urusan berkait catatan lusuh itu yang harus ia tuntaskan. Saya tak kenal dan tak punya riwayat interaksi. Hanya menerka jejak dari balik jendela moda transportasi berbasis aplikasi. Sementara dinamika suara-suara milik Settle, sebuah kolektif musik asal Bali, menemani perlintasan terkaan saya.

Semua serba kebetulan.

Narasi kehidupan memang penuh gejolak. Pendulum nasib yang berderai bersama ujung bandul takdir tak ada habisnya memutar balik.

Seperti halnya gejolak perasaan yang acap kali menghantui tiap diri manusia. Merenda rasa yang sering kali tak bisa diutarakan. Ia tak berwujud dan tak pernah terlihat. Hanya bisa dirasakan dengan kondisi yang berbeda. Seperti halnya perjumpaan orang tua dan latar musik yang saya dengarkan saat itu.

Saya perlu berterima kasih kepada 5 pemuda asal Bali yang menamakan grup musik mereka Settle. Produk intelektual rasa dari mereka sukses menafsirkan kembali gejolak dalam mini album terbarunya “UNPLEASANT FEELINGS CHAPTER TWO”. Album terakhir yang mereka rilis pada tanggal 15 April 2021.

Mengusung musik alternative dengan beragam elemen warna musik, Settle menawarkan sebuah pilihan tentang menikmati suatu rasa. Meski saya merasakan sebagai ingatan kepada grunge.

Terbentuk ditengah tahun 2016, Settle diisi wajah-wajah lama yang masih aktif dalam peta skena musik independent Pulau Bali.

Mereka adalah Mpol (Vokal), Yudi (Bass), Agung Pranata (Gitar), Bayu Kribz (Gitar) dan GungDe (Drum. Pengalaman dan motivasi merea berkarya adalah jelmaan dari Settle itu sendiri.

Lewat mini album terbarunya, Settle meneruskan narasi-narasi perjalanan antara Ileana dan Floyd yang sebelumnya dilepas bak sebuah puzzle.

Setiap lagu yang direkam medio Desember 2020 hingga Januari 2021 itu mempunyai bagian cerita yang berbeda-beda dan tentunya dengan emosi yang berbeda pula.

Begitulah cara Settle mengenalkan mini albumnya kepada khalayak. Melalui mini album ini, Settle ingin menyampaikan bahwa meski perjalanan cinta itu tidak sempurna dan pasti melewati hambatan, pada akhirnya cinta tetaplah sesuatu yang perlu diperjuangkan dan dirayakan.

“UNPLEASANT FEELINGS CHAPTER TWO” dirilis oleh Native Vision Records selepas merampungkan produksi di Pizza Record Denpasar bersama Pramastya Bayu. Sesi drum direkam di Rock the Beat Music Production Denpasar bersama Bentet “TetStupidPro”. Sementara hasil audio akhir dijahit sempurna oleh Yoni Gayot dari Brokenboard Studio, Bandung.

Simak cerita-cerita terbaru Settle di semua platform music digital seperti Spotify, Apple Music, Tidal, dan lainnya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *