DKTMI, unit alternative post-rock asal Tangerang

Bacaan “Gania” dan Elemen Imajinasi Ketiga DKTMI

Artikel Anggitane

| Hujanmusik!, Tangerang – Narasi kelok itu terdengar bersahutan, membasuh dan mengobati luka yang terdengar biasa. Kelok menjadi derai menekan, diutarakan demi menghindari kenyataan. Saya bisa mendengarnya demikian, sejak term departemen gitar menampilkan intro “Gania” yang disuarakan trio alternative asal Tangerang, DKTMI.

Entah kenapa, sepertinya tak ingin selesai cepat dan membiarkan telinga ini mengantarkan imajinasi pembuka. Bacaan tentang “Gania” yang terdengar eksploratif tak biasa, namun nyata.

Jika boleh diutarakan sebagai perasaan, lirih alurnya menjembatani figur ‘mengerang’ dengan ragam derita bawaan. Persis sebagaimana catatan penghantar yang saya terima, bahwa Gania adalah nama yang menggambarkan persona seorang penjaja cinta.

Sejenak, seperti terjebak pada permainan rock instrumental yang ramai dikumandangkan sebagai post-rock pada 1994. Sebelum akhirnya disadarkan bahwa Ardika (gitar/vokal), Tamaro (gitar), Velyo (drum) sejatinya memilih berbelok menguatkan musiknya dengan vokal alternative.

“Gania” mengantarkan proses perilisan setelah 7 bulan single “Suaka” mengudara. Jalinan proses mini album ‘Berinkarnasi’ yang sedang dalam proses penggarapan.

Dengan dukungan kolega musisi bernama Rudi, DKTMI terus membulatkan kesenangan mereka melakukan eksperimen perpaduan 2 atau 3 elemen musik ritmik. Barangkali itu yang menarik dugaan saya tentang post-rock, pun psychedelic sekalipun.

Dalam proses pembuatan lirik, beberapa personil memilih berbicara langsung dengan beberapa pekerja seks, dan melihat sendiri bagaimana kehidupan mereka sehari-hari.

Riset sosial yang menghasilkan analisa bahwa ini miris. Jika masyarakat menganggap semua pelacur adalah perempuan hina, tidak layak dibumi, pada kenyataan lain bisa dilihat sebagai perempuan tangguh dan amat layak dikasihi.

Kembali pada elemen musik, “Gania” membenamkan unsur-unsur mathrock, psychedelic, dengan sedikit sentuhan alternative sound era- 90an.

Saya tak hendak menghakimi dan mempengaruhi pendapat terkait jenis dan jalur musik apa yang ditekuni DKTMI.

Karena semua akan dikembalikan pada intepretasi setiap pendengar. Hari ini saya mendengarnya sebagai alternative, tapi entah esok.

Begitulah visi dan pengalaman musik Tamaro, Ardika dan Velyo. Membiarkan imajinasi karya dan riset diproduksi di Dusonrecords dengan mixing dan mastering oleh Ronnie Lim. Imajinasi yang membentuk musik seperti yang mereka tawarkan secara digital itu.

“Gania” telah rilis pada Februari lalu, visualisasi imajinasi juga telah tersedia di Youtube DKTMI.

Buktikan saja.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *