Ungkapan Dere di Antara Tanya yang Berlalu Lalang

Ungkapan Dere di Antara Tanya yang Berlalu Lalang

Artikel Anggitane

| Hujanmusik!, Jakarta – Petang hampir pulang pada sebuah ujung darmaga di Adonara.

Gadis kecil, putri seorang kolega menemani saya mencari kenangan untuk dibawa pulang.

Di antara perasaan rindu saya pada rumah dan suasananya, gadis itu melempar kalimat yang sudah saya duga.

“Kapan om akan kembali ke Adonara?”.

Memulai dengan sebuah tanda yang menggelembung dalam bentuk harapan pada akhir kalimat, roman mukanya yang lurus tampak menunggu jawab, tengadah dengan sembilu yang menusuk-nusuk.

Ah, perpisahan dan pertanyaan yang tertalu sendu.

Rasanya, hendak sampaikan sebuah jawaban pasti. Namun apa daya, saya hanyalah seonggok individu yang mampu berkelana hingga ke Adonara karena sumber daya kantor.

Menemui kolega untuk sebuah proyek dokumentasi. Mudah datang dan pergi, namun tak tahu kapan akan kembali.

Kalimat tanya yang hampir sama ketika saya mendengar Dere melempar bait lirik pertama dalam single puitisnya, “Tanya”.

“Dari sekian bintang cakrawala, apa hanya kita saja yang bernyawa?”

Begitulah, kalimat tanya berlontaran yang kadang hanya mampu dijawab dengan senyuman.

Selalu punya jawaban di hati, namun ragu untuk diucapkan. Karena ia hanya akan menjadi janji yang memiliki konsekuensi.

Kisah itu telah berlalu hampir 5 tahun lamanya, saya dan kolega masih terhubung di sosial media.

Ada rasa bangga ketika ia kabarkan, bahwa putrinya, gadis kecil yang mengantar saya ke darmaga, memenangkan sebuah kamera karena turut serta dalam lomba fotografi di sekolahnya. Ah, itu haru kedua.

Dere telah berhasil membawa saya pada kenangan-kenangan dengan single pop yang terdengar Jazzy namun penuh ritme elektronik itu.

Penyanyi muda yang mengawali debutnya Oktober 2020 lalu, kini kembali meneruskan perjalanan dengan sebuah karya baru bertajuk “Tanya”.

Single kedua Dere, saat menjalani usianya ke-18. Single yang tercipta dari pemikiran tentang besarnya energi manusia yang tersita, untuk banyaknya pertanyaan yang berlalu-lalang di kepala mereka.

Mulai dari pertanyaan sederhana hingga pertanyaan kompleks yang tidak kunjung terpecahkan jawabannya.

“Lewat lagu ini, aku ingin mengajak teman-teman untuk sejenak berhenti memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala, dan lebih menikmati waktu atau momen yang saat ini kita punya,” ungkap Dere.

Saya kagum dengan cara dan pilihan lirik yang ditulis Dere.

Meski untuk sesaat kemudian tak begitu heran, karena ada nama Tulus yang mendampingi proses kreatif-nya.

Keterbatasan mobilitas di masa pandemi ternyata tak menghambat mereka untuk terus berkarya.

Keduannya memanfaatkan teknologi sebagai jalan berkreasi, lagu ini berhasil diciptakan secara daring.

“Kami menggunakan aplikasi di telepon sebagai media komunikasi. Hal yang baru, sekaligus menyenangkan!,” jelas Dere.

Aransemen lagu “Tanya” lahir dari eksplorasi Dere bersama produser Ibnu Dian.

Sejak dibuka, dentuman bas terdengar eksploratif dan merata, menjadi garis merah aransemen lagu sepanjang 3 menit itu.

Single “Tanya” dirilis di bawah naungan label rekaman dan manajemen talenta Tigaduasatu.

Dirilis secara serentak di toko-toko musik digital, seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, Deezer, Resso dan JOOX, sejak 28 Januari 2021 lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *