Tuturan Kisah Persahabatan Krista Monica

Tuturan Kisah Persahabatan Krista Monica

Artikel Anggitane

| Hujanmusik!, Sidney –Suatu waktu, dalam suasana remang saya tak sengaja membaca bulir kesedihan. Catatan haru seorang kawan yang hendak memperbaharui kisah tentang sisa hidupnya. Berniat untuk menanggalkan semua kemewahan dan kemapanan, bersiap balik kanan untuk sebuah tujuan.

Bulir kesedihan yang sama, ketika secara tak sengaja juga, seorang Krista Monica tiba-tiba muncul dalam ruang dengar. Spektrum yang serta merta saling melengkapi.

Memastikan semua dalam kendali dengan pop ballad yang kuat. Menutur bersama “Be Alright”, catatan temuan tentang seseorang yang peduli terhadap sahabatnya yang sedang bersedih dan dalam situasi dibekap kesendirian.

Jika Krista Monica mencoba untuk memberikan bentuk dukungan emosional kepada sahabatnya dan berpesan agar terus berjuang, dan menyatakan bahwa dia akan tetap berada di sisinya.

Saya pun demikian.

Dalam situasi apapaun, saya mendukung keputusannya untuk menepi menuju penyembuhan diri. Pun tak yakin pasti apakah kelak ia bisa kembali.

Ia tidak pergi, hanya pulang mempersiapkan jalan keabadian.

Krista Monica, seorang penyanyi dan penulis lagu asal Indonesia yang kini bermukim di Sidney.

Ia merupakan alumni Contemporary Performance pada Australia Institute of Music.

Jalan musikal yang dianutnya sejak menghabiskan masa remajanya dengan belajar musik di D’Jazz Music School di Jakarta.

Karakter musik besutannya cukup kuat menampakkan sisi lembut seorang Krista Monica, sejak single “Mind” hingga karya terbarunya, “Be Allright”.

Musisi yang sudah memiliki pengalaman tampil di Enmore Theatre dan City Recital Hall itu memilih genre pop ballad untuk lagu dirilisnya secara digital pada 29 Januari 2021 itu.

“Be Allright” merupakan sebuah lagu yang bertemakan persahabatan dan kasih sayang.

Dalam catatan tertulisnya yang dikirim untuk HujanMusik!, Krista Monica mengaku terinspirasi dari musisi luar negeri, seperti Daniel Caesar dan Bon Iver.

Selain itu, Krista juga terinspirasi dari seorang musisi indie yang bernama Ardhito Pramono.

Bisa jadi, ikatan inspirasi itu yang membuat Krista secara cepat dan cerdas membubuhkan lirik pelapang makna.

“I know you will be back home again When u forgive yourself. Promise me someday you will be alright again.”

Lirik yang secara khusus ia tulis dari inspirasi kisah nyata produsernya, Julian Sanchez. Sosok musisi kelahiran Filipina yang tumbuh besar di Sydney, Australia.

Krista Monica dan Julian memang sudah cukup lama berteman dan sudah bermain musik bersama.

Suatu hari, Julian terlihat sangat murung dan menceritakan semua masalah pribadinya ke Krista.

Sebagai sahabat yang baik, Krista memberikan dukungan emosional kepada Julian. Lantas Krista menulis lirik dan membuat lagu yang indah.

Inspirasi persahabatan dan dukungan menjadi jejak yang semakin indah, mana kala Krista dan Chromatic Production memilih mendedikasikan “Be Allright” untuk kampanye kanker anak.

Bersama YKAI (Yayasan Kanker Anak Indonesia), Krista melakukan penggalangan dana untuk pasien-pasien kanker anak yang ada di Indonesia.

Tujuan kampanye ini, selain melakukan penggalangan dana, juga sebagai bentuk kiprah Krista Monica yang rindu untuk membagikan pesan indah dalam bentuk lagu ke semua masyarakat yang membutuhkan dukungan secara emosional.

Ah, sungguh sedemikian emosialnya. Persis dengan terjemahan visual yang dipaparkan Deffry Septian Prajito dan Adeline Vania. Keduanya mampu menempatkan vokal Krista, iringan piano Julian Sanchez, isian gitar Stehen Zrnic dan paparan double bass Rob Hamilton dengan cermat. Gambar yang juga terasa ballad dengan goresan drum Gian Timothy.

“Be Allright” yang diproduksi Chromatic production ini menempatkan nama Julian dan Stephen untuk mixing. Sedangkan Mastering oleh Dimas Pradipta.

https://www.youtube.com/watch?v=Ojb2zuUoAWk&t=2s

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *