Sejumput Pertempuran Retorika Bad Preacher

Sejumput Pertempuran Retorika Bad Preacher

Artikel Anggitane

| Hujanmusik!, Semarang – Dentuman mengawali perkenalan kami secara musikal. Terdengar mendominasi sebelum akhirnya serak distorsi menyeruak mengimbangi. 

Sejurus, saya seperti mengenali karakter dan gaya bermain semacam ini. Ramai namun ada pakem-pakem yang tetap harus ditekan. 

Menyeruak dari tanah Semarang, saat itu saya tengah dikenalkan dengan Bad Preacher dengan single-nya “Persetan”.

Hantaran seorang teman dari platform pesan digital. Telinga kurasinya membantu menemukan jejak materi unit pengusung rock yang terhampar di surel HujanMusik!. 

Seruan audionya tepat pada saat waktu menjerang kopi.

Deru rock menjadi tema menghabiskan hari. Bergulung sederhana dengan sekelumit energi yang dihasilkan oleh sekumpulan mahasiswa. Tak ada distorsi gitar tunggal, mengalir dengan dukungan bass dan drum yang harmonis cum membiarkan orasi sang vokalis yang memang di-setting sedikit pelan. 

Saya mendengarkannya sebagai kedewasaan Varian Kautsar (vokal), Brilliant Adhi (gitar), Iko Joelianto (bass), dan Hafidh Nur Ramli (drum). Bermain musik rock tanpa saling mendominasi.

Bad Preacher lahir dan tumbuh dari Kota Semarang, beranggotakan sekumpulan mahasiswa yang memiliki kesamaan visi dan referensi dalam bermusik. 

Catatan yang mereka kirim menanamkan bahwa persamaan referensi musik-lah yang membuat mereka memutuskan untuk membentuk band pada 31 Juli 2019. Meski tak jelas musik mana yang menjadi referensi para personilnya. Kecuali klaim bahwa Black Sabbath menjadi rujukan mereka secara band.

Nama Bad Preacher dipilih karena ingin merepresentasikan diri sebagai pengkhotbah yang menyampaikan suatu kenyataan buruk yang terjadi dalam hubungan sosial. Bad Preacher memiliki lirik-lirik yang bertemakan keresahan dan kritik sosial. 

Pada tanggal 1 Februari 2021 lalu, Bad Preacher merilis single perdananya berjudul “Persetan”. 

Single “Persetan” berisikan tentang keresahan mereka banyaknya orang yang berdebat dan beradu pendapat secara tidak sehat. Pertempuran retorika yang marak di sosial media maupun kehidupan nyata. 

Latar belakang mahasiswa dengan kesadaran kritisnya turut membuat mereka menemukan kenyataan. Bahwa banyak orang yang menciptakan standar-standar baru dalam kehidupan yang membuat seakan-akan hal-hal yang tidak wajar menjadi hal yang wajar. 

Bad Preacher melalui “Persetan” juga mempertanyakan apa solusi-solusi yang ditawarkan oleh beberapa orang?. Solusi untuk menjawab segala kekisruhan yang terjadi. 

Daya ledak pertanyaan yang hinggap dalam kepala Rian sang vokalis. Lantas ia menuliskan keresahannya itu ke dalam lirik “Persetan” bersama bassist Iko. 

Materi dasar yang kemudian dilakukan aransement lagu bersama personil lain. Mulai menemukan riff gitar, tab bas, pattern drum, hingga pattern vokal. 

Bad Preachers menikmati proses penggarapan lagu “Persetan” dalam rentang waktu tiga bulan, meskipun final keluarnya tak spendek itu. 

Mereka mengakui sempat memiliki kendala dalam teknis pengerjaan rekaman hingga memakan waktu hampir satu tahun untuk menyelesaikan “Persetan”.

Apapun itu, toh “Persetan” kini sudah bisa dinikmati secara digital. Persis ode yang menemani waktu kopi.

Sruput dan nikmati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *