Kesadaran Pop dan Pijakan Cicilia Elsa Tentang Purity

Kesadaran Pop dan Pijakan Cicilia Elsa Tentang Purity

Artikel Anggitane

| Hujanmusik!, Malang – Deru kicau masih bersahutan diluaran ketika saya tengah membaca ulang sebuah riwayat pengelanaan nada. Kisah meliuk pada suatu lingkaran, riwayat terjadinya interaksi antara penikmat dan pengusung musik.

Maka menjelajahlah saya pada suatu tempat bernama Malang. Otak rasanya masih nyaman menerima pesan dari gendang telinga untuk karya puitis era Flanela, Ihsan Skuter, Sal Priadi, Christabel Annora, Atlesta, dan Coldiac.

Kini kenyamanan itu bertambah dengan unggahan Cicilia Elsa, seorang song writer muda bertalenta yang semakin memantapkan jejak Malang sebagai salah satu kota yang tak henti melahirkan potensi.

Pesan itu muncul sejak menyimak “Tentangnya”, single Elsa yang rilis 29 Januari 2021. Sebuah single yang bercerita tentang perasaan bingung dan terganggunya seseorang saat tak mampu mengungkapkan perasaan pada orang yang disuka.

Menjejak sejak sekolah menengah atas, Elsa langsung berkenalan dengan fase pengkaryaan dan pembuatan lagu, sebelum akhirnya memutuskan serius terjun di industri musik.

Motivasi kuat agar ekspresi dan pesan dari karya-karya yang dibuat bisa tersampaikan pada masyarakat secara lebih luas.

Ungkapan keseriusan Elsa terjun di dunia musik terbukti. “Tentangnya” meluncur semacam pengingat. Bahwa pendaman perasaan banyak bermunculan dalam kisah-kisah tautan hati berbentuk lagu.

“Nggak bisa bilang sama orang yang dia suka. Tapi dia sangat berharap kalau orang yang dia suka itu tahu akan perasaannya dia,” tulisnya tentang lagu itu pada HujanMusik!

Bermodal perasaan galau, Elsa menyelesaikan “Tentangnya” dalam rentang waktu yang cukup cepat.

Menempatkan kombinasi minimalis antara vokal intonatif dengan notasi piano yang acceptable. Persis dengan gagasan Elsa untuk membuat karya yang sesimpel mungkin. Pure dan tulus.

Tak semata menghamba pada sepi, melainkan purity, tentang pitch yang terkelola selepas tuts piano ditekan.

“Tentangnya” juga turut membawa interpretasi audio-visual garapan Wahyu Taufani Prialangga. Video musik yang disampaikan membawa perspektif dan sudut pandang tokoh di dalamnya.

Tak semata sosok yang harus selalu hadir, cukup tentang benda-benda yang menyimbolkan sosok yang dicintai.

Perspektif yang menarik dari director yang juga menggarap Coldiac, Atlesta, Sal Priadi, Jajang Bagus, Madukina, Virzha, Fatin, dan Mikha Tambayong.

Karakter Elsa menjadi daya pikat Prialangga mengeksekusi video musik “Tentangnya”. Kelak, jika konsistensinya terus muncul dan semakin berkualitas, bukan tak mungkin ia menjadi sodoran baru penyanyi perempuan Indie semacam Christabel Annora, pun idolanya, Isyana Sarasvati.

Pada akhirnya, purity yang dihadirkan dalam single “Tentangnya” akan menjadi pijakan pertama Cicilia Elsa untuk membuktikan jika Malang tak pernah kehabisan potensi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *