Transisi Seduhan “Camomile Dream” Rrefal

Transisi Seduhan “Camomile Dream” Rrefal

Artikel Anggitane

| Hujanmusik!, Semarang – Kesan itu bergerak memudar. Memutar dan memainkan pranala penuh jejak mimpi. Seperti hantaman ketenanngan yang menerpa dengan santainya. Seolah memberi tanda bahwa kehadirannya nyata sejak ia memperdengarkannya.

Ya…cara yang sama, kesan yang sama pula. Bagaimana saya mengenali Rrefal, semburat pop manis asal Kota Semarang.

Seduhan single “Camomile Dream” semacam meneguhkan bahwa mereka masih enggan mendarat selepas “Lavender Song”.

Rrefal merupakan proyek musik yang menyelipkan nama musisi Afif Refal Fiqrianto sebagai penggagas. “Sweet Sweet Palm Sugar” adalah album perdananya tahun 2019 lalu.

Dream pop menjadi lajur pilihan mengemuka sejak kali pertama muncul. Bermain-main dengan awan hingga terlalu sibuk melayang.

Kini, pada caturwulan pertama tahun 2021, musisi yang juga dikenal dengan moniker Rrefal, mengajak Inis untuk berkaloborasi di single terbarunya “Camomile Dream”. Single hantaran kedua menuju EP Sourbites.

“Camomile Dream” merupakan unggahan inspirasi, sensasi menyeduh dan menuang segelas teh chamomile yang dipercaya memberikan efek tenang dan kesejukan alami.

“Bercerita tentang pengalaman mimpi indah dan terus ingin mengulanginya. Mimpi indah yang diciptakan dari segelas teh camomile yang memberikan efek ketenangan yang alami, jadi, bisa memulai tidur dengan tenang dan itu ketenganan yang dicari, so, I make another cup of tea…” tulis Rrefal dalam keterangan tertulisnya kepada HujanMusik!.

“Camomile Dream” menjadi single perdana Rrefal dalam pola kolaborasi. Melibatkan musisi perempuan bernama Inis sebagai featuring Rrefal. Satu-satunya lagu featuring di EP Sourbites.

“Camomile Dream” ft. Inis telah rilis pada tanggal 22 Januari 2021 lalu di seluruh layanan musik streaming digital oleh Ivy League Music.

Mendengar “Camomile Dream” sejak intro diputar tak dapat memutupi ingatan saya pada 2008 silam, saat kali pertama menyimak Alex Ayuli dan band-nya A.R. Kane membawakan sub-genre rock alternatif akhir 80an. Sama dengan Cocteau Twins, atau sedikit lebih baru Drauve, kolektif indie dari Pittsburgh, Pennsylvania.

Karakteristik musiknya unik dengan olah vokal yang cenderung berbisik dan bernafas berat. Pun demikian halnya penggunaan efek gitar yang terkadang menyebabkan noise.

Menyimak “Camomile Dream” dengan tenang membawa saya pada posisi trance, secara tidak sadar bergoyang mengikuti alur irama yang mereka susun.

Dengung synthesizer yang ditimbulkan mengingatkan saya pada cara main band pengusung Shoegaze lainnya.

Entahlah, saya cukup nyaman mendengar musik-musik dream pop semacam ini. Musik latar pengiring saat sedang menyusuri jalan, bersantai atau mengerjakan editan gambar.

Cukup membantu menjaga imajinasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *