Menyesap Hardcore Punk Singkawang ala Tropical West

Menyesap Hardcore Punk Singkawang ala Tropical West

Artikel Anggitane

| Hujanmusik!, Singkawang – Untuk sepersekian detik, kernyit dahi ini bertahan. Mendapati sebuah kolektif musik bernama Tropical West di kotak masuk surat elektronik HujanMusik!.

Asal daerah di mana mereka bertumpu membuat mata saya berbinar-binar dan berhasrat menyimak lebih dalam. Tropical West, mencatatkan dirinya sebagai salah satu band yang terbentuk pada akhir tahun 2020 dari Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Indonesia.

Saya tak memiliki kisah penuh untuk menceritakan Kota Singkawang. Hanya sempat singgah sejenak layaknya turis antar kota, berkunjung setengah hari setelah beberapa hari bermalam di Kota Pontianak.

Meski demikian, ikatan makna tropis barat sepertinya cukup untuk menyatukan minat. Apalagi pilihan Tropical West pada jalur Hardcore Punk kian menguatkan dugaan bahwa Dzaky (vokal), Auzel (gitar), Faris (bass), dan Vazril (drum) sedang menunjukkan rasa bangga dengan skena kota mereka.

Nama Tropical West diambil dari kata “Tropical” yang berarti tropis dan “West” berarti barat. Dari dua kata ini, mereka ingin menonjolkan kehadiran band ini untuk menguatkan kepada para penyimaknya, bahwa band ini berasal dari negara beriklim tropis (Indonesia) dan berada di West Borneo (Kalimantan Barat).

Sebagai materi perjumpaan, Tropical West merilis single “Rat”. Karya penuh distorsi yang sempat saya duga patuh pada disiplin grunge itu. Faktanya, band yang merekam lagu perdananya di Salt River Studio itu kukuh menyebut mereka memainkan Hardcore Punk.

Mereka memainkan gaya punk rock dekade 1970-an. Punk Rock yang lebih cepat, lebih keras, dan lebih agresif tentunya. Saya tak cakap menduga, sebagai Hardcore Punk mereka mendominasi referensinya pada musik Blag Flag, Bad Brains, Youth of Today atau Hatebread sekalipun.

Meski pada beberapa sisi justru terdengar nuansa pergaulan hardcore boston Jerry’s Kids, Negative FX dan lainnya yang banyak dipengaruhi straight edge. Saya tak tahu, toh dugaan saya sering salah.

Di luar itu, saya suka cara kolektif ini menempatkan simbol “Rat” dalam noktah artwork yang dikerjakan oleh kolega mereka bernama Adit (IG : (@coldchillin_). Simbol yang tampaknya sengaja dibuat untuk menguatkan isi pesan pada lagu “Rat”.

Mereka bertutur seputar pengalaman pribadi salah satu personil yang ditulis dalam lirik. Menyampaikan bahwasanya kita dapat memulai satu hal yang baru dan jangan mendengarkan kritik orang yang tidak membangun.

Prinsipnya, ketika kita mengerjakan suatu hal dengan serius serta penuh semangat, maka reaksi positif dari orang-orang akan datang.

“Rat” dirilis dengan dukungan Ade Satria selaku produser. Dirilis tepat pada 12 Januari 2021 lalu di platform musik digital melalui distributor @enamempatrecord.

Tropical West seperti ingin memberikan energi dan pesan yang dapat dinikmati banyak kalangan, terutama kalangan muda se-usianya.

Uniknnya, mereka memiliki niat membuat suatu hal yang sedikit berbeda dengan single “Rat” ini.

Jika umumnya, Hardcore identik dengan warna hitam putih serta beberapa dari musisi aliran ini terlihat berpenampilan lebih gahar, Tropical West justru ingin menjadikan gaya dan cara bertutur musiknya penuh energi namun disajikan dengan gaya yang penuh warna.

Oke, apapun itu, saya suka cara anak muda Singkawang memberi warna. Kelak tak melulu seputar kuil dan jejak peranakan yang bisa saya dalami ketika ke Singkawang.

Ada skena yang bisa menjadi jalan menyapa sembari menyesap kopi di Warung Kopi Akong, Toko Kopi Nikmat atau Kopi Tiam Rusen. Pun di tepi jalan kota sekalipun.

https://www.youtube.com/watch?v=uc5K-IBgmHw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *