Marsha, Kisah Lintas Generasi Idang Rasjidi yang Bukan Ilusi

Marsha, Kisah Lintas Generasi Idang Rasjidi yang Bukan Ilusi

Artikel Anggitane

| Hujanmusik!, Bogor – Perlahan, dara muda itu berlenggak. Meninggalkan bayangan mendalam dengan dominan gelap kecoklatan.

Aura muda-nya sudah menunjukkan talenta yang tampaknya berada dalam penanganan yang baik.

Tak perlu dipamerkan secara berlebih, cukup memipih dengan balutan aransemen musik yang begitu jazzy, namun terdengar ringan.

Saya yang menyimak kisahnya bersama “Hanya Ilusi” sudah cukup menabur harap.

Penghayatan Jazz yang dibawakannya memiliki masa depan membentang.

Marsha Alya Zahra tak perlu pura-pura nyata, konsisten berlaku orisinil dengan kisah musik pilihannya.

Paling tidak itu yang saya temukan pertama ketika berusaha menyimak terjemahan “Hanya Ilusi” oleh sutradara Ry Maulana dalan video musik yang ditunjukkan.

Memadupadankan sosok Marsha dengan karakter vokal yang jauh melampaui usianya.

Pengalaman yang sama saat saya menerima paket rilisan fisik album Marsha yang bertajuk “Hanya Ilusi”.

Paket terkirim dari Tulungagung, sebuah wilayah yang pernah saya dengar kisahnya dengan gelaran “International Jazz Day 2019”.

Pun halnya ketika menemukan Marsha, saat menghadiri peluncuran album musik perdana Dara 14 tahun itu melalui aplikasi zoom, Minggu (14/2/2021) di Bogor.

Marsha Alya Zahra adalah penyanyi kelahiran Surabaya, 4 November 2006 silam.

Profil kesehariannya memang pelajar di SMP Negeri 1 Tulungagung, Jawa Timur.

Namun, dara perempuan ini diketahui sudah aktif bernyanyi sejak kanak-kanak.

Buah kedekatannya bersama keluarga yang memang penghobi musik.

Tak salah jika kebulatan tekat sang Ayah Eko Sudharmono, menurun pada dirinya.

Eko adalah salah satu tokoh sentral di balik penyelenggaraan festival jazz bergengsi di Tulungagung.

Di luar itu, rasa percaya diri Marsha sejatinya tumbuh dan terasah berkat raihan prestasi sebagai Gitapati dan Colorguard Marching band yang ditorehkan hingga ke Filipina.

Akhir tahun lalu, tepatnya pada Desember 2020, Marsha mendapatkan kesempatan perdananya merekam lagu karya cipta musikus senior Idang Rasjidi.

Tak hanya menyanyikan, Marsha juga mendapatkan arahan musik secara langsung dari musisi yang dipanggilnya opa itu.

Sungguh sebuah kolaborasi lintas generasi jazz yang menurut saya cukup brilian. Tak mentah dan jauh dari serampangan.

Kisah yang bermula ketika Marsha bernyanyi dengan iringan Opa Idang saat gelaran ‘International Jazz Day 2019’ di Tulungagung berlangsung.

Kesempatan yang berlanjut dengan perkenalan dan kesediaan Opa Idang membimbing Marsha untuk serius menekuni musik.

“Terima kasih opa Idang Rasjidi yang sudah mempercayakan Marsha untuk menyanyikan 7 buah lagu karya beliau,” tutur Marsha.

Dengan adanya Marsha di tangan Idang Rasjidi, rasa-rasanya adalah sebuah pilihan tepat.

Saya sependapat dengan promotor musik yang juga Board Committee gelaran ‘Ngayogjazz’ Aji Wartono.

Menurutnya, tangan dingin Idang Rasjidi sangat pas untuk menempa musisi muda yang kelak akan bicara banyak di ranah musik nusantara.

Terbukti, begitu karakter suara Marsha yang khas ditemukan, langsung diasah sang maestro dengan tambahan referensi musisi terarah.

Maggie Seiger, Andien, Dira Sugandhi, Rika Roeslan, juga Sierra Sutedjo adalah referensi yang memang disuka Marsha.

“Anak ini polos, tidak terpengaruh gaya penyanyi yang sudah ada. Ada yang khas dari suaranya, masih muda dan mau belajar,” kenang Idang Rasjidi saat kali pertama mengiringi Marsha.

Gaya Idang mendidik musisi memang tak main-main, bukan hanya teknik bernyanyi, kepribadian turut diajarkan. Mental menjadi daya tekannya.

Prinsipnya harus kuat menghadapi seorang Idang Rasjidi untuk bekal menghadapi ribuan orang didepan panggungnya kelak.

Kesuksesan adalah buah kerja keras, dan Marsha harus siap dengan itu untuk maju.

*

“Hanya Ilusi” merupakan hasil ketajaman pengamatan Opa Idang.

Tentang bagaimana persepsi dan kegalauan Idang Rasjidi atas berbagai sikap manusia akhir-akhir ini.

Filosofi kuat cukup tersirat dalam album ini. Idang memilih memuat banyak pesan moral dan sedikit cerita cinta pacaran tapi lebih ke psikologis.

Itulah kenapa album ini diberi nama “Hanya Ilusi”.

“Banyak orang hidup dalam angan-angan mereka. Hidup jangan melihat pelangi. Dilihat indah warna-warni kalau didekati tidak ada,” katanya.

Durasi waktu pembuatan album ini terbilang singkat. Dua bulan menjadi rentang mereka menikmati proses perekaman.

Lagi-lagi Opa Idang lebih banyak menampilkan sisi spontan yang kuat menemani Marsha berproses.

Pertimbangan usia Marsha yang masih belia dengan karakter suaranya yang dewasa menjadi pertimbangan konsep segala proses, berikut tantangannya.

“Rekaman di studio juga unik lho. Marsha duduk di sebelah Saya. Saya cari nadanya, lagunya belum ada. Saya tulis liriknya, kemudian saya ajari notnya. Udah bisa Marsha, langsung sejam kemudian lagu baru ini jadi dan direkam, genuine,” ungkap Opa Idang.

Sungguh suatu proses unik yang mengingatkan saya pada kisah-kisah pengkaryaan lagu yang melegenda.

Sesuatu yang menekankan penghayatan yang genuine.

Faktanya Opa Idang membebaskan Marsha bernyanyi dengan nyaman.

“Nyanyi senyaman kamu dan gak usah dibagus-bagusin. Kita tidak harus membuktikan apa-apa,” beber Opa Idang saat mengisahkan arahannya kepada Marsha ketika rekaman.

Penilaian yang sama dengan wartawan senior, Frans Sartono yang mengenali komposisi keyboard Idang Rasjidi.

Setiap penyanyi yang diiringi pasti beda dan cenderung bermain dengan pilihannya sendiri. Tidak memaksakan egonya untuk masuk dan dominan.

Menurut Mas Frans, cara Idang bekerja adalah mengajak, bukan mengajari.

“Dia itu main musik, bikin komposisi sesuai dengan orang yang terlibat di situ, dalam hal ini Marsha,” ujar Frans Sartono, wartawan yang banyak menulis tentang jazz itu.

Ah, saya pun tergelitik untuk bertanya. Bagaimana sosok maestro yang begitu dihormati di ranah musik tanah air mengatasi gap generasi yang cukup jauh.

Sesuatu yang tak bisa dipungkiri ada jarak pemahaman dan pengalaman yang harus ditempuh keduanya saat berproses.

Secara singkat, Opa Idang menjawab tak menemui kesulitan berarti membimbing penyanyi muda.

Memilih menurunkan tekanan dengan sedikit menunduk sejajar dengan Marsha, menyelami dunia yang ada di usia Marsha.

“Kita pernah muda dan mereka belum pernah tua. Saya dalami lingkungannya, gimana anak ini bercandanya, lingkungannya, betul-betul kita teliti. Kita yang menyesuaikan diri kepada dia. Kita masukkan hal-hal yang baik kepada dia yang membentuk karakternya kelak.”

“Untuk saya, suara bagus saja tidak cukup. Bukan itu, tapi bagaimana kamu menyanyikan lagu itu. Bagaimana orang yang mendengarkan mengerti dan sampai pesannya kepada dia,” tambah Idang.

Setali tiga uang dengan pernyataan Marsha yang mengaku bangga bisa rekaman dengan seorang Idang Rasjidi.

Bangga dipercaya untuk membawakan “Hanya Ilusi”, “Pemimpi”, “Narsis”, “Peradaban”, “Resah”, “Selamat Pagi Dunia”, dan lagu favoritnya “Tak Semua Mimpi”.

“Banyak belajar dari Opa Idang, mengajari teknik vokal dan yang paling penting tentang kedisiplinan dan tanggung jawab,” jelasnya.

Album “Hanya Ilusi” diproduksi oleh Golden Goong dengan Idang Rasjidi yang bertindak sebagai komposer sekaligus produser eksekutif bersama Sandra Fitriani.

Album ini rilis secara fisik dalam format cakram padat saat peluncuran. Selekasnya akan menyusul rilisan versi digital.

Pada bagian akhir dari catatan ini, saya merasa perlu mengulang pernyataan penting dari Opa Idang.

Bahwa urusan popularitas, Opa Idang mengaku tidak punya strategi khusus untuk mengorbitkan Marsha.

Kerja keras Marsha-lah yang akan membuat Marsha diterima khalayak atau membentuk pasar sendiri.

Ya, saya setuju itu. Selamat Marsha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *