Kisah Tentang Waktu Agustin Oendari dalam Empat Musim

Kisah Tentang Waktu Agustin Oendari dalam Empat Musim

Artikel Anggitane

| Hujanmusik!, Jakarta – Untuk segalanya, ada waktunya. Untuk tangis, tawa dan tanya ada jawabnya. Ada yang berlari, berjalan, jatuh, bangkit dan melawan. Lantas mencoba menenangkan hati yang kadang kecewa. Tenang dan bersabarlah.

Sebuah paragraf pembuka coba saya utarakan dari catatan manis seorang Agustin Oendari. Kumpulan bait yang termaktub dalam “Tenang dan Bersabarlah”. Salah satu lingkar karya yang saya terima Januari lalu.

Percaya. Kali ini saya harus percaya. Ada kejujuran lirik yang begitu mengena, menempa dan menggugurkan banyak prasangka. Jeda hari membuat jarak pikir sedikit rileks dan santai. Momen yang pas untuk menikmati kelelahan. 

Agustin Oendari membuka perkenalan dengan alunan gitar sederhana. Ia menyapa dan membuka wacana. Seraya mengajak menyimak detil demi detil ketenangan dan kesabaran. Memutar kenangan masa-masa menikmati perlintasan remaja menuju dewasa. Semua terunggah dengan istimewa dalam sebutan “Waktu”. Album kisah kunjungan nada dan eksplorasi suara penyanyi kelahiran Jakarta yang terlihat jejaknya sejak 2014 itu.

“Tenang dan Bersabarlah” menjadi cara pemilik suara dalam latar pengiring sinema Selamat Pagi Malam itu kembali ke permukaan. Suara memikat sejak terdengar dalam film Galih & Ratna dan Susah Sinyal.

Lama tidak terdengar kabarnya sejak rilisan terakhirnya dua tahun, Agustin Oendari telah menghabiskan banyak waktunya di studio. Menulis dan memproduksi karya untuk banyak musisi pendatang baru. Sentuhannya sebagai pengarah vokal terlintas dalam Lathi (Weird Genius ft. Sara Fajira), Dunia (Mytha Lestari), juga A Million Stars (album kolaborasi Rising Stars). Proses berkarya disamping kesibukannya mengembangkan label musik independen bernama Big Hello Records. 

Tahun 2021 menjadi tahun kembalinya Agustin Oendari bersama “Waktu”. Album perdana yang ia rangkaikan dalam empat musim. Musimnya Air Mata, Musimnya Pengharapan, Musimnya Pertanyaan dan Musimnya Jatuh Cinta. 

“Waktu” adalah sebuah manifes perjalanan seorang Agustin Oendari sejak 2014 hingga 2020. Album ini diproduseri oleh Ivan Gojaya, yang juga merupakan bagian penting dalam perjalanan Oendari enam-tujuh tahun terakhir. Keduanya membagi album ini dalam sembilan lagu untuk empat musim kehidupan.

Rangkaian musim dimulai dengan #MusimnyaAirMata, dibuka dengan rilisnya lagu berjudul “Tenang Dan Bersabarlah”. Lagu penenang hati dan penyejuk jiwa bagi para pendengarnya selepas  melewati tahun 2020 yang penuh tantangan. Penyemangat untuk menjalani tahun 2021, yang diharapkan dapat dijalani dengan lebih kuat dan lebih berbahagia. Lagu ini terasa istimewa untuk saya. Seperti meluapkan pendaman untuk memahami dan menerima kesedihan juga kekecewaan. Suka dengan noktah “dalam air mata, mengalir harapan” yang terangkum dalam mantra: “untuk segalanya, ada waktunya”.

Musim kedua, Musimnya Pengharapan, Oendari berkisah tentang serba-serbi perpisahan. Kisahnya ia sajikan dalam “Telepon Terakhir”, tentang panggilan-panggilan tanda perpisahan yang hadir dengan tak terduga. Lagu ini menempatkan nama Mohammed Kamga sebagai vocal director, sekaligus penyisip vokal latar yang menambah keharuan kenangan dalam “Telepon Terakhir”.

Memasuki Musimnya Pertanyaan ditandai dengan “Hujan Dan Matahari”. Berkolaborasi dengan Chintana Jo, penyanyi dan penulis lagu, berkisah catatan buah tangan dari sebuah perjalanan spiritual antar dimensi. Oendari merangkum lagu ini sebagai sebuah ungkapan rindu antara ayah dan anak perempuannya yang terpisah ruang dan waktu. “Hujan Dan Matahari” juga menjadi catatan produksinya bersama dengan Ivan Gojaya, David Halim dan Mohammed Kamga.

Menuju musim keempat, Musimnya Jatuh Cinta, Oendari mencoba merangkum makna “Waktu”. Jalan tempuh sejak Ivan Gojaya mencetuskan ingatannya tentang ‘Percaya aja sama waktu’.

“Julia” menjadi nomor musim keempat. Nuansa jatuh cinta yang dinyanyikan secara bertiga dengan sahabatnya, yaitu Renedmar dan Frisella Tobing. Nuansa yang benar-benar berbeda, kali pertama dalam album “Waktu” mengandung instrumen drum dan solo gitar. Cukup jelas, ada yang begitu semangat mengingat saat The Corrs akitf-aktif-nya.

“Julia” adalah sebuah lagu tentang semua orang yang pernah jatuh cinta lalu patah hati dan terluka. Tokoh utama dalam perjalanan “Waktu” yang kisahnya bersambung sejak “Tenang dan Bersabarlah”. Pemantik untuk terus melaju menggenapi musim hingga puncak rilisnya album “Waktu” pada akhir 2021 nanti.

Selain yang tersebut dalam empat musim, Oendari menyiapkan album “Waktu” dengan “Penghujung Waktu, “Rindu”, “Cinta Yang Bisu”, “Percaya”, dan “Ruang Untukmu Berdoa”.

Begitulah, album “Waktu” menjadi jejak kolaborasi Agustin Oendari, Ivan Gojaya, Juan Alexander Mandagie (Strings Section Arranger) dan musisi pengiring Michael Septian, Ibnu Aji Wasesa, Chris Chandra, Janice Evelyn, da Jonathan William Abraham.

Proses pengerjaan dilakukan di ROEMAHIPONK Music Studio dengan studio engineer dan editor Irene Edmar Irawan dan asisten Lionel Judy. Mixing & Mastering oleh Ivan Gojaya.

Pengerjaan cover artwork oleh Raphaela Vannya, desain grafis oleh Vicky Sandria. Sedangkan video lirik dilakukan Reza Alif Darmawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *