Ceramah Asmara BEN dalam Rock 80-90an

Ceramah Asmara BEN dalam Rock 80-90an

Artikel Anggitane

| Hujanmusik!, Tangerang – Lembayung sedang mengayun. Membisik memberi tanda tanya, pun juga menikam dalam kesenduannya. Menutur bahwa cerita cinta tak semata kuasa mitologi semata. Ada kebebasan menterjemahkan menjadi aneka fragmen. 

Persis bagaimana BEN memulainya dengan “Residu” –  “Asmarandana”. Dua single anyar perkenalan yang menjadi jawaban. Lantas meneruskannya dengan “Lupakan Aku Bunga”, “Falsafah” dan “ Di Kota Ini”. Lima karya yang keluar bukanlah jargon kosong semata. Ada sembilan karya lainnya yang menanti proses finishing sebagai sebuah album.

BEN bukanlah Amor yang memilih arah panahnya. Mereka adalah kolektif musisi yang memantik karya dengan proyek musik. Mengisi waktu ketika panggung masih didera kekosongan. 

Barangkali Benny Navaro (keyboard), Johan Nurrokhman (guitar) dan Surya Luckmana (vokal) perlu mengambil sisi positif dari dampak pandemi. Membuat mereka terhimpun, berkumpul dan memutuskan untuk membuat sebuah proyek musik bernama BEN. Sesaat kemudian proyeknya berkembang menjadi sebuah rencana produksi album.

“Asmarandana” terpilih sebagai penamaan album perdana mereka. Nama yang diambil dari single perdananya dengan judul yang sama. 

Bagi saya, “Asmarandana” menjadi semacam penguat ingatan. Nuansa sound yang ditimbulkan membawa kenangan era 80an hingga 90an. Eksplorasi BEN terdengar cukup kaya dan berusaha memberi warna unik pada musiknya. 

Tuturan kisah tentang misteriusnya cerita cinta hidup seseorang. Ada yang Bahagia dan menyenangkan tapi juga ada yang sebaliknya. Bermuara pada satu premis penting “Bisakah kita punya cinta tanpa tanda tanya?”. 

Benny Navaro menyatakan ada makna dibalik judul unik Asmarandana. Diambil dari kekayaan khasanah nusantara, kurang lebih artinya adalah “Api Asmara”. Istilah Asmarandana sendiri sering terdengar dalam kesusastraan Sunda &  Jawa.

Sementara itu, “Residu” bercerita tentang “mencinta dan terluka di waktu yang sama”. Sebuah keadaan yang sering dialami oleh banyak orang. Dikemas dalam balutan musik rock dengan riff gitar menarik.

“Asmaradana” dan “Residu” telah rilis lebih dulu awal Januari 2021.

Medio Maret hingga Oktober 2020 merupakan momentum BEN mencurahkan energi untuk menyelesaikan materi 13 lagu dalam durasi 50 menit. Benny Navaro bak individu hiperaktif mencipta dan mengisi komposisi panduan. Latar belakang sebagai musisi aktif dan sempat menjadi co-producer di beberapa album Zigaz, Zetta, dan almarhum Mike Mohede.

Johan Nurrokhman berlatar belakang sebagai musisi pengiring yang banyak berkeliling ke café-cafe di banyak kota selama 16 Tahun terakhir. Bersama bandnya, Johan sempat menjadi band pengiring beberapa Artis. Diantaranya Citra Scholastika, Dewi Persikk dan lainnya. Sempat juga menjadi home band di sebuah acara di satu stasiun TV.

Sementara Surya Luckmana sebelumnya adalah vokalis Moluska band. Bersama bandnya, dia sempat melahirkan beberapa single. Dan sempat mengikuti satu ajang pencarian bakat Rising Star salah satu stasiun TV. 

Rencananya, Asmarandana akan diluncurkan dalam bentuk Full Album, 13 Lagu berdurasi total 50 menit. Dirilis dalam bentuk fisik dan digital yang puncaknya diharapkan selesai pada April 2021. 

Album Asmarandana versi fisik juga berkolaborasi dengan seniman visual. Salah satunya Lesh Dewika yang membuat sebuah lukisan dengan Judul Asmarandana. Karya ini akan bergabung dengan karya visual lainnya dan menjadi bagian dari booklet cover Asmarandana setebal 24 halaman.

https://www.youtube.com/watch?v=Gsmmq9wz9t0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *