Titipan Rindu Billkiss dalam “25 Jam”

Titipan Rindu Billkiss dalam “25 Jam”

Artikel Anggitane

| HujanMusik!, Bogor – Alunan riang itu masih berlinangan disekitar pendengaran. Susunan part musiknya yang sederhana mampu menyajikan karakter vokal yang tepat dengan suasana yang menerpa. Terjebak dalam lingkaran kaca dengan pemandangan hujan merata di luar sana. Ah, mereka menitipkan rindu dalam ragam musiknya. Rindu “25 Jam” yang membuka aura dengan kandungan harapan, kegembiraan, pun kesakitan. “25 Jam” noktah rindu Billkiss dengan taburan pop rock yang mengena.

Kemunculan pop rock Billkiss seperti menundukkan daya serampangan dan cara pandang. Menyadari bahwa syahdu itu temannya rindu dan cinta itu berkawan dengan rasa. Keduanya bisa nyata, maya, bahkan ambigu.

Jika boleh bertutur, hingga awal tahun lalu, banyak yang berpikir untuk memisahkan diri dari hiruk pikuk dunia ambigu yang tak henti-hentinya berujar. Ragam kekhawatiran banyak berkeliaran dibandingkan harapan untuk tumbuh lebih kreatif. Ujung tahun yang memisahkan antara berdamai atau luluh lantak, karena melawan bukan pilihan. Lalu menenggelamkan diri dalam bebunyian keras, mengabaikan keluhan dan tetap kukuh untuk berlabuh.

Analogi 25 jam mungkin tak cukup, namun secara makna ia bisa menjadi penenang. Ada dunia yang bisa kita kendalikan suasananya.

Billkiss adalah kolektif pop rock Bogor yang saya kenal sejak namanya dituliskan BilQis. Seorang kolega mengenalkan musiknya sebagai pop rock kekinian sejak “Aku Kamu Tau” dan “Pergilah Dengannya”. Kini, dengan “25 jam” mereka memperkenalkan dirinya kembali dalam penulisan nama berbeda.

“25 Jam” terdengar berbeda dari “Aku Kamu Tau” yang rilis awal tahun 2020 lalu. Saya mendengarnya lengkap, lagu “25 Jam” dikemas dalam tempo upbeat. Pop berkekuatan lirik yang dibalut sentuhan musik elektronik. Ramuan talenta Helvi (bass), Maulina (vokal) dan Taufik Opot (gitar) yang berteman sejak 2010. Meski ketiganya mengaku tak memiliki ramuan khusus saat menggarapnya, hasilnya “25 Jam” mampu menunjukkan mereka dalam satu warna.

Kisah “25 Jam” berawal dari gitaris Qpot yang membuat aransemen untuk sebuah ajang kompetisi meng-cover lagu yang akan diikuti Bilkiss. Qpot dan kolega merasa aransemen lagu tersebut terlalu bagus untuk sekadar diikutkan dalam ajang kompetisi. “Akhirnya kami bertiga sepakat bahwa aransemen lagu ini kami pakai untuk single terbaru Billkiss,” ujar Qpot.

Aransemen lagu yang mengena mendorong Helvi menuliskannya menjadi lirik. Mengeluarkan segala isi kepala yang membuncah, meski belum ketahuan akan memberinya judul apa. Sepulangnya dari studio, Helvi mendapat ide bagian chorus lagu yang ia nyanyikan di sepanjang perjalanan.

“Si Mpi (Helvi) bikin lagu pas di jalan mau pulang abis bikin cover lagu. Terus dia kirim voice note ke grup WhatsApp dan kami langsung suka,” cerita Maul.

Proses kreatif yang cukup adaptif. Mereka lantas menyelesaikan prosesnya di Tamara Studio, Bogor.

“Enggak seperti judulnya, lagu ini malah enggak nyampe 25 jam untuk proses penyempurnaan liriknya,” Helvi menimpali.

Secara lirik “25 Jam” bercerita tentang cinta yang bukan cuma ditujukan kepada pasangan yang sudah tidak sabar ingin bertemu. Tetapi, bisa juga untuk menunjukan rasa kangen kepada sahabat.

Bersyukur, ada tangan dingin musisi Acoy (Rocker Kasarunk) yang penuh talenta. Dengan bantuannya urusan tambahan aransemen dan mixing menjadi lebih mudah dan cepat.

“25 Jam” kini sudah tersedia di platfom musik digital sejak 29 Januari 2021 dengan dukungan distribusi Aquarius Musikindo. Beriringan dengan video musik yang tersedia di kanal YouTube satu pekan kemudian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *