“Play It Safe Then Go”, Kisah Gerungan Rock Praduga Tak Bersalah

“Play It Safe Then Go”, Kisah Gerungan Rock Praduga Tak Bersalah

Artikel Anggitane

| HujanMusik!, Bogor – Kumpulan nebula tergambar mengawang mengelilingi isi kepala. Menebar dan membahana dengan tata suara yang mengangkasa. Gumpalan debu, gas dan plasma yang digambarkan mewujud sebagai bias semangat. Gambaran yang cukup untuk menemukan gerungan rock Praduga Tak Bersalah dalam album “Play It Safe Then Go”.

Pagi masih terlalu buta untuk meneruskan gerak. Pesona Merapi masih sembunyi, dan jalur Prambanan belum banyak pelintas bersepeda yang memanjang. Saya tengah bersandar selepas perjalanan panjang. Lelah bercampur uap pagi menembus lintasan, menyisakan jalan mengawang dengan pilihan rona stoner rock yang terus menderu.

Jika nebula merupakan awan antar bintang, maka “Play It Safe Then Go” adalah setumpuk kisah penguat. Berujar sejak kolektif asal Yogyakarta ini melepas paket singkat dengan dua single beberapa waktu lalu. Lantas merencanakan peluncuran album pada pertengahan tahun 2020. Mereka pun mewujudkannya jelang 3 bulan tahun berakhir, meluncurkan enam track rock yang padat. Menyempurnakan jalur rock pilihan yang mereka pahami.

“Play It Safe Then Go” menjadi jalan terang kolektif pesinggah yang mengawali proses berkarya dari kamar kost, sebelum meneruskannya ke studio. Jalan terang sejak Lion With a Little Love, Burn, dan Firefly dikenalkan pada 2018 silam. Berlanjut “Pirates and Heroes” dan “Inactive” yang menjadi dua single pengantar yang dilepas sekira 9 bulan yang lalu. Terakhir, mereka melengkapinya dengan “Craven” dan membenamkannya sebagai debut album.

Jalan terang membentang bak obyek astronomi lingkar luar galaksi Bima Sakti. Saya sebut jalan terang karena Septian Maulana (Vokal), Alfian Wahyu Aji (Gitar), Anjasmara Mirunggan Satria (Bass), dan Mirzam Nopriandana (Drum), kukuh meneruskan perjuangan dengan segala keterbatasan. Merampungkan mini album debut Praduga Tak Bersalah yang memakan waktu pengerjaan selama kurang lebih satu tahun itu.

Hasilnya, 6 track dengan karakteristik sound yang terasa cukup berat dan menggebu-gebu. Dalam proses kreatif pembuatan mini album ini, Praduga Tak Bersalah secara sadar memulainya dengan pembuatan riff gitar beserta vokal dalam bentuk yang masih sangat sederhana. Setelah kukuh dengan pondasi utama, mereka mengolah aransemen bersama-sama hingga akhirnya lahir “Play It Safe Then Go”.

Terpampang bahwa ruh Pearl Jam, Black Sabbath, Metallica hingga Creed tertanam disana. Tentu saja dengan tautan dalam negeri semacam The SIGIT, Mooner, Barefood, .Feast, Gaung atau bahkan Kelompok Penerbang Roket sekalipun. Entah benar atau tidak, saya mendengarnya demikian.

6 track dalam album “Play It Safe Then Go” sendiri ditulis dengan berbagai cerita di dalamnya, mulai dari keresahan akan hidup yg monoton, tamparan untuk para pengeluh, sampai cerita tentang angan-angan yang tidak selalu tercapai.

Keseluruhan instrument direkam di Arteri Record, kecuali drum yang dibuat di studio Jogja Audio School. Mixing oleh Fakhri Muhammad dan para personil Praduga Tak Bersalah. Untuk cover album dikerjakan Mirzam Nopriandana.

Album “Play It Safe Then Go” rilis dalam dua format, yaitu fisik dalam bentuk cakram padat (CD) dan digital yang bisa didengarkan di platform-platform musik streaming pada umumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *