Panjang Umur Jabogar dengan Segala Lantangnya

Panjang Umur Jabogar dengan Segala Lantangnya

Artikel Anggitane

| HujanMusik!, Bogor – Jelajah rock itu masih menggema, pukulan distorsi yang bertubi-tubi menjadikannya energi. Melesatkan tendangan perlawanan tanpa henti, pembuktian bahwa mereka sedang memancangkan target atas segala karya yang dikeluarkannya. Harmonisasi kencang berjalan beriringan dengan aneka kemarahan, sinisme, dan seruan. Begitulah Jabogar, lantang mereka teriak “Panjang Umur Musik Rock” (#PUMR) dalam single terbarunya di akhir tahun lalu.

Melecut diri dengan target rilisan fisik album menjadi cara Bepe Hutabarat (vokal), Heru Maulana (gitar), Yogi Poli (bass) dan Tanchebok Sueb (drum), memberikan pertanggung jawaban musik kepada khalayak. Sementara mimpi konser besar rock sementara harus menahan diri karena pandemi. Untuk itulah mereka melempar single keempat “Panjang Umur Musik Rock” (#PUMR) setelah sebelumnya berkoar-koar dengan “Masa Bodoh Cuek Aja” (2015), “Bucin” (2019) dan “Rocker Palsu” (2020).

Energi “Panjang Umur Musik Rock” (#PUMR) dikendalikan dengan cara khas Jabogar. Melesat penuh energi dengan nadi musik yang sama. Hard rock tulen tanpa basa-basi.

Terdengar bagaimana Heru Maulana membuka “Panjang Umur Musik Rock” (#PUMR) dengan raungan sound gitar vintage yang konstan. Beradu dengan bass Yogi yang berdentum kasar, ditingkahi hentakan repetitive drum Tan-Tan yang tak sabar membalas raungan dengan aneka pukulan. Semuanya terjadi sebelum Bepe Hutabarat melepaskan lirik liarnya.

Pada single keempatnya ini Jabogar memang terdengar lebih natural. Memilih menjadi apa yang mereka sukai tanpa harus pura-pura bersembunyi. Ide spontan mengalir begitu saja tanpa diduga-duga. Membahana pada ruang studio Magon (Macan Gondrong), tempat kelima personil Jabogar bercengkrama. Spontan sejak ide panduan hingga eksekusi perekaman.

Saya suka dengan cara Jabogar mengemas reff setara sing a long “Panjang Umur Musik Rock”. Terdengar powerfull dan mars. Siapa sangka, ini semua dinyanyikan Bepe dan rekan secara spontan saat rekaman. Bahkan untuk urusan teknisnya mereka hanya memerlukan dua kali masuk studio untuk merampungkannya.

“Panjang Umur Musik Rock” (#PUMR) sejak awal memanjakan pendengaran pada karakter sound yang kasar, pola riff yang nakal bahkan terdengar tampak asal. Seolah ada sekuel Eddie Van Halen disana. Meski secara visual mereka lebih senang kredo cita rasa lokal dan memilih mengunjungi Stadion Padjajaran dibanding settingan luar angkasa namun hanya angan-angan.

Single nyata yang mengajak pendengarnya untuk memahami, pandemi memang perlu diwaspadai, namun jangan sampai hati terkunci. Berkarya dengan merdeka sudah jadi keharusan.

“Lagu ini dipersembahkan bagi jiwa-jiwa merdeka di ujung sana, tetaplah berkarya dan jangan patah semangat seberat apapun kondisimu saat ini”, tulis Jabogar pada akhir video musik #PUMR.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *