Jejak Pelangi Cinta Diskoria dan Afifah Yusuf

Jejak Pelangi Cinta Diskoria dan Afifah Yusuf

Artikel Sekar Puspitasari

| HujanMusik!, Jakarta – Barangkali imajinasi kita tentang konsep belahan jiwa begitu sederhana. Namun kenyataannya semuanya masih sangat misterius, metafisik, dan melampaui nalar yang tidak bisa dijelaskan bahkan oleh kata-kata. Karena sejatinya semua huruf dan kata yang sudah dikalimatkan tidak sepenuhnya bisa kita pahami. Meskipun bahasa manusia begitu kaya untuk kita mengerti seluruhnya, akan tetapi gagasan mengenai belahan dari jiwa bagai samudera luas yang teramat liar, misterius sekaligus selalu gagal disederhanakan. Karena manusia memang tidak pernah diberi tugas untuk mencipta sesuatu yang tiada menjadi ada. Kita hanya diberi tugas untuk memahami untuk mentranformasikannya menjadi keberadaan yang lebih mudah terpahami. Maka untuk memahami konsep tersebut sebuah kolektif musik Diskoria yang dikenal lewat penampilan duo DJ, Merdi Leonardo dan Fadli Aat, kembali merilis sebuah karya kolaborasi. Dan kali ini, Diskoria berkolaborasi dengan Afifah Yusuf, seorang solois muda yang merupakan putri dari Hetty Koes Endang. Diskoria dan Afifah Yusuf. Kemudian bersama-sama mendaur ulang sebuah lagu berjudul “Pelangi Cinta” yang sempat dinyanyikan oleh sang Ibunda di era 80-an.

Kita tahu bahwa setiap kita diciptakan berpasangan layaknya sepasang sepatu. Seperti ketika kita mengandaikan ada orang di seberang pantai sana yang tengah menunggu kita berlayar. Namun disaat bersamaan, kita justru meragu. Sehingga seringkali hanya bisa menunggu, mendambakan orang yang kita nantikan akan lebih dulu merakit sampannya, mengayuh dayungnya, dan mengarahkan kompasnya untuk menjemput kita. Seperti itulah imajinasi saya begitu mendengar lagu “Pelangi Cinta” ini. Dalam lingkup nada disko yang ria dan lirik lagu puitis ala 80-an tentang makna belahan jiwa, saya diajak menyelam ke dalam semesta rasa tentang makna sebuah pencarian dan pertemuan. Dimana kita manusia dibuat terpisah untuk meluaskan, lalu disaat pertemuan itu tiba, maka tepat saat itulah kedua manusia tersebut saling datang dan melepaskan molekul masing-masing dari kekang yang membuat hidup menjadi murung.

Kolaborasi ini bisa terjadi berawal dari sebuah unggahan Diskoria di Instagram Story yang memutarkan piringan hitam lagu dari Hediek’s Group, sebuah vocal group pop lawas yang salah satu anggotanya adalah Hetty Koes Endang. Hal itulah yang menjadi pemantik pembicaraan tentang musik lebih jauh antara Diskoria dengan Afifah, karena tidak banyak orang yang mengetahui album tersebut.

Lagu “Pelangi Cinta” akhirnya dirasa menjadi lagu yang tepat untuk di daur ulang oleh Diskoria dan Afifah Yusuf. “Pelangi Cinta” diciptakan oleh A. Riyanto dan dipopulerkan pertama kali oleh Jamal Mirdad pada tahun 1981. “Pelangi Cinta memiliki emotional touch untuk saya karena pernah dinyanyikan oleh sosok yang sangat inspiratif dalam hidup saya. Secara melodi dan keseluruhan konsep lagu ini sangat sesuai sebagai lagu perkenalan dari projek kolaborasi bersama Diskoria. Ibarat permata, ini adalah permata yang tersembunyi dan layak untuk dikilaukan kembali.” Ungkap Afifah Yusuf.

Proses produksi single kali ini dilakukan oleh Diskoria sendiri dengan dibantu oleh Imam Buana Luthfi dan Pandji Dharma, dua musisi yang pernah tergabung dalam grup elektronik, Animalism. Tidak hanya dari segi musik, hal menarik pada rilisan kali ini juga terdapat pada kolaborasi dalam penggarapan video klip. Diskoria dan Afifah Yusuf, mempercayakan legenda musik Indonesia, Fariz Roestam Munaf, untuk menunjukkan sisi lain kreativitasnya. Mereka melihat sosok Fariz Roestam Munaf sebagai seniman, yang selama ini karyanya didengar dalam bentuk audio, akan sangat menarik untuk melihat visi seorang Fariz Roestam Munaf dari sisi visualnya. Dan hasil dari video klip garapan Fariz Roestam Munaf, sudah bisa disaksikan melalui kanal youtube Suara Disko.

Barangkali memang benar bahwa pertemuan adalah hal yang sederhana. Segalanya berjalan begitu saja mengikuti gelombang meskipun laut, ombak dan isinya selalu menjadi misteri yang tidak terduga. Seperti ketika kita kehilangan sebelah sepatu dan segalanya tidak lagi sempurna. Meskipun kita bisa mendapatkan sepasang sepatu baru, namun selalu ada sisi kosong yang meminta untuk diisi kembali. Kadang-kadang cinta membalas pengorbanan kita dengan caranya yang menyebalkan. Tetapi mau bagaimana lagi? Bukankah cinta dan penemuan belahan jiwa memang bekerja dengan caranya yang rahasia.

Selebihnya hanya semesta yang tahu jalannya, dan kita hanya bisa melepaskan harapan-harapan itu. Karena pada akhirnya kita mengerti bahwa tidak ada bukti cinta yang paling indah di dunia kecuali menyebutkan nama mereka yang kita cintai dalam doa kita yang sederhana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *