Serigala Penyendiri Bernama Antartick

Serigala Penyendiri Bernama Antartick

Artikel Anggitane

| HujanMusik!, Bogor – Talenta positif itu terus berkejaran, mengajak untuk sadar bahwa kontemplasi harus dibulatkan menjadi aksi nyata. Rencana nir retorika yang menjadi pegangan, bahwa seni mereka itu nyata, tinggal dan berkembang secara konsisten dalam lingkaran musik. Sama hal-nya saya melihat konsistensi sekumpulan rock bernama Antartick. Mengenal sejak release party single perdana, lantas bergumul dengan banyak karya dalam skema independen. Lalu tibalah waktunya mereka mengejutkan dengan album perdana bertajuk “The Lone White Wolf”.

Tak perlu mengurai bagaimana band yang mengawali kisahnya dari dataran tinggi Bogor ini memantapkan laju musiknya. Kemasan album dalam format digital diluncurkan sebelum mereka bergerak dengan catatan musik dalam kepingan cakram padat. Sekelebat, saya mencoba menarik mundur, menikmati racikan “Speak Up!”, “Indonesia Kita”, “Biru Kelabu”, “Mobil Butut”, hingga single perkenalan Antartick “Kebas”.

Sementara pada laga album perdananya, Anang (gitar), Joean (vokal), Helvi (bass) dan Sandy (drum) mengemasnya menjadi bungkusan sembilan track single. Berisi single yang pernah dirilis Antartick sebelumnya beserta lagu lainnya. Beberapa pun dikemas dalam bahasa Inggris dengan tema dan nuansa yang beragam.

Meski terlihat jamak dengan cara-cara kolektif lain meluncurkan karya. Saya merasa perlu memberi acungan jempol, karena jejak mereka membawa rock Bogor kepermukaan seolah tak henti-hentinya. Jejaknya melengkapi kolektif lain lebih dulu menyeruak.
“Album pertama kami ini adalah awal perjalanan. Terima kasih untuk yang selalu menunggu karya-karya terbaru Antartick. Selamat menikmati album pertama kami,” tulis Helvi, sosok pengajar, youtuber dan pemain bass Antartick.

Muatan 9 karya Antartick dalam “The Lone White Wolf” memajang dengan jalur distribusi Aquarius Musikindo. Membuka dengan “Take Me Higher – Unbeaten” yang kuat dan enerjik, meliku dengan rock bertabur funk “Speak Up! (feat. Yacko)”, melantai santai dengan “Sweet Monday”, membiru dengan “Biru Kelabu (feat. Didiet Violin)”. Lalu menderas bersama “Hujan (feat. Noh Salleh)”, dan kembali liar dan berbahaya dengan “Mobil Butut (feat. Melanie Subono & SUPERIOTS)”. Babak berikutnya menawarkan single paling baru “Every Hello Has a Sweet Goodbye (feat. Cute Papa)”, menyuarakan suara solidaritas ”Indonesia Kita (feat. Bogorian Voices)” dan mengenang bagaimana awal mula mereka muncul dengan “Kebas (feat. Wisnu Adji)”.

“The Lone White Wolf” menjelma sebagai jebakan distorsi, seperti berada dalam ruangan penuh raungan gitar yang sesekali mengurai jernih.

Pendengaran saya tak bisa menolak untuk menuliskan John Frusciante, Nial Rodger hingga Kim Thayil menyemat di antara partnya.

Seperti halnya serigala penyendiri yang mengusik dengan cabikan bass berkarakter Melanie Ann Sisneros saat bermain untuk Whole Lotta Rosies.

Meletup beriringan dengan dentuman drum yang konstan. Pun karakter vokal sedang yang tak begitu mendominasi.

Menarik untuk menemukan jalan baru Antartick lewat “Every Hello Has A Sweet Goodbye” feat. Cute Papa. Sebuah single berbahasa Inggris, buah eksplorasi Antartick dengan lirik yang berbeda.

Barangkali ini upaya keras lainnya menggapai lebih banyak pendengar. Utamanya dari luar lingkar tutur melayu yang selama ini mereka tulis.

“Lagu ini terinspirasi dari siklus yang dialami setiap orang dalam kehidupan sosialnya, terutama hubungannya dengan orang lain. Setiap salam perjumpaan akan selalu bertemu salam perpisahan. Atau setiap ucapan selamat tinggal akan mempertemukan dengan perjumpaan-perjumpaan lainnya. Selalu ada hal dan pelajaran baru yang bisa kita ambil untuk membuat diri kita menjadi pribadi yang lebih baik,” tutur Anang, seperti dituliskannya untuk HujanMusik!.

Keterlibatan musisi Cute Papa bukan tanpa sebab. Kesamaan visi dan beda karakter memungkinkan mereka untuk saling berkolaborasi.

Baginya proyek kolaborasi single ini memberi tantangan baru.

Menurutnya ini tidak mudah untuk nge-blend dengan sebuah band yang sudah memiliki karakter sendiri.

“Sebuah hal yang menyenangkan PAPA bisa bekerjasama dengan band keren Antartick, dengan musiknya yang sangat berkarakter. Apalagi menerapkan style permainan PAPA pada musik Antartick bukanlah hal yang mudah. Menjadi tantangan dan pengalaman tersendiri. Semoga menghibur,” jelas Cute Papa.

“Every Hello Has A Sweet Goodbye” direkam di Fakehero Studio Bogor dengan recording engineer Bime (Superiots).

Untuk Mixing & Mastering Engineer oleh Bemz di Harper Studio, Jakarta .

Album “The Lone White Wolf” juga menambatkan nama seniman sekaligus ilustrator Monica Hapsari.

Pilihan tema serigala putih menjadi karakter yang tepat mewakili karya perdana Antartick ini.

“Biarlah gambar ini menjadi tanda pengingat, untuk tidak pernah menyerah dan selalu sangat percaya pada tujuan hidup kita. Meskipun kamu harus menjalaninya sendiri. Meskipun kamu tidak memiliki siapa pun untuk mendukungmu. Meskipun tidak ada yang mengerti dirimu. Meskipun kamu direndahkan sekalipun. Meskipun kamu merasa sendirian. Kamu tidak akan pernah benar-benar sendirian. Karena sahabat sejatimu sampai hari kematianmu, adalah Dirimu sendiri,” begitu kira-kira cerita Monica, orang yang sama yang ada di balik film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.

Pada akhirnya Antartick memberi bukti, dalam rentang 4 tahun mereka memiliki buliran karya dengan satu album penuh yang serius.

Lebih baik dari saya tentunya, lewat 8 tahun belum ada tambahan album, cuma ada proyek setengah jadi.

Baru tahun ini ada rencana untuk kembali.

Sekali lagi, selamat dan sukses Antartick.

https://youtu.be/SkWaDJr5pkM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *