Propaganda Vox Mortis Tentang Kesejahteraan Hewan

Propaganda Vox Mortis Tentang Kesejahteraan Hewan

Artikel : Rizza Hujan

| HujanMusik!, Jakarta– Apa hubungan hewan dengan musik? Jika jawaban yang terlintas di kepala adalah “Tidak ada!” maka kita harus berpikir ulang, banyak membaca, dan menyimak propaganda kolektif metal asal Jakarta, Vox Mortis. Dalam dua single debutnya, mereka menderu dan berteriak lantang tentang kebrutalan manusia terhadap hewan. Vox Mortis telah merampungkan sesi rekaman serta merilis album debut dengan dua nomor andalan “Primata Durjana” dan “Forever No To Dog Meat” termaktub di dalamnya.

Manusia sebagai makhluk yang dibekali akal pikiran, tidak lantas membuatnya lebih tinggi derajatnya dibanding makhluk hidup lain. Sebab pada kenyataan, manusia sendiri yang lebih banyak berkontribusi dalam penghancuran alam maupun sesamanya.

Fenomena tersebut berusaha ditangkap lewat kacamata Doni Herdaru Tona. Sebagai seorang aktivis hewan sekaligus pendiri Animal Defenders Indonesia, ia merasa perlu untuk menyuarakan hal-hal yang berdekatan dengan aktivitasnya sehari-hari yakni membangun kesadaran tentang kesejahteraan hewan domestik.

Apa yang disuarakan Doni melalui proyek musik terbarunya ini tentu bukan omong kosong belaka. Perilaku menyayangi hewan sudah diterapkan sejak kecil, hingga pada suatu titik ia benar-benar mendedikasikan hidupnya merawat hewan-hewan terlantar, terluka, maupun menyelamatkan mereka jadi sajian di meja makan.

Dalam perjalanannya, Doni menyaksikan bagaimana manusia menindas makhluk lain yang dianggap lebih rendah derajatnya—dalam konteks ini adalah hewan. Menurutnya, tindak kekejaman pada hewan adalah suatu sinyalemen adanya gangguan kejiwaan yang pada tahap selanjutnya, akan mengincar korban yang lebih besar yakni manusia. Hal tersebut dibuktikan dari berbagai penelitian kejiwaan pada kasus-kasus animal cruelty.

Banyaknya kasus kekejaman pada hewan yang ia jumpai membentuk konsistensi akan perjuangannya sampai pada titik ini. Kekesalan, kemarahan, dan kemuakan atas superioritas manusia ia manifestasikan dalam tembang berjudul “Primata Durjana” sebagai salah satu single yang dilepas Vox Mortis beberapa waktu lalu.

Lewat momentum ini pula Vox Mortis berkolaborasi dengan animator andal M. Irvan Dionisi untuk menciptakan video animasi berdurasi sekira 4 menit yang diangkat dari single tersebut. Alur cerita dan visualisasinya dikembangkan berdasarkan narasi dari Doni sendiri. Proyek ini didukung rumah produksi Scott Rudd Film (Inggris) yang kerap menangani penggarapan video musik dari raksasa metal diantaranya Aborted, Deeds of Flesh, Opeth, dan lainnya. Video musik tersebut dapat disimak melalui kanal YouTube Vox Mortis.

Sementara lewat “Forever No To Dog Meat”, Vox Mortis kembali menyerukan perlawanan terkait peredaran serta konsumsi daging anjing di tengah masyarakat. Seperti yang telah disampaikan jika band ini dibentuk guna mempropagandakan kesejahteraan hewan, salah satunya mengajak masyarakat untuk berhenti mengonsumsi daging anjing.

Trio dedengkot ranah death metal ini beranalogi tentang bagaimana rasanya diculik, disekap, kemudian disiksa dan dijadikan kudapan karena dianggap berkhasiat atau sekadar untuk memenuhi rasa lapar? Tentu bukan hal menyenangkan apalagi jika dialami makhluk hidup.

Seperti judulnya, “Forever No To Dog Meat” merupakan pernyataan sikap Vox Mortis menolak makanan berbahan dasar daging anjing sekaligus upaya mengedukasi masyarakat tentang perlindungan hewan tersebut.

Semua lirik tertuang gamblang lewat langgam death metal yang agresif, dibarengi visual cadas hasil olah digital M. Irvan Dionisi. Menguak sisi kelam proses peredaran daging anjing serta kekejaman dibaliknya hingga disajikan di meja makan.

Doni dan kolega memilih jalur musik cadas sebagai corong agitasi bukan tanpa sebab. Bersama Vox Mortis, ia ingin meletakkan sudut pandang berbeda dimana orang-orang dari komunitas dengan stigma negatif pun mampu membawa pesan positif tentang kesejahteraan hewan.

“Ya, kami harus memilih Metal. Karena Metal erat kaitannya dengan pemberontakan akan ide-ide normatif dan belenggu tema konservatif. Kami berontak atas ketidakadilan pada hewan-hewan domestik ini,” ujarnya.

Nomor kedua dari album debut “Avignam Jagat Samagram” ini pula membantah rumor terkait khasiat mengonsumsi daging anjing, seperti anggapan banyak orang. Selain tidak terbukti secara empirik, aktivitas Doni sebagai penyelamat hewan domestik yakni anjing dan kucing membuat ia tegas menolak menjadikan hewan kesayangannya sebagai bahan baku masakan.

“Kami menyanyangi anjing dan kucing, keduanya bukan hewan ternak. Maka kami perlu membuat propaganda untuk melindungi serta menolak menjadikan hewan tersebut sebagai makanan. Jika kamu rasa hewan lain perlu dilindungi, silakan buat propagandamu,” tegas Doni.

Terkait dengan tradisi, Doni turut membantah jika daging anjing terlibat dalam sebuah ritus maupun produk budaya. Mengkonsumsi daging anjing di kalangan masyarakat tertentu menurutnya merupakan kebiasaan yang telanjur lumrah. “Ada yang salah dengan kebiasaan tersebut dan hal ini perlu dibereskan”, pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *