Premis Hutan Hujan Tentang Kondisi Pancaroba Peradaban

Premis Hutan Hujan Tentang Kondisi Pancaroba Peradaban

Artikel Sekar Puspitasari

| HujanMusik!, Malang – Barangkali ada yang pernah atau sedang kita sesali saat ini. Semacam puncak kulminasi yang kita pikir lebih baik tidak usah terjadi dimana segala sesuatunya selalu membuat kita kembali mengenang semua peristiwa seraya mencari cara terbaik untuk melupakannya. Barangkali ada hal-hal lain yang membuat kita murung. Semacam sisi gelap yang menguasai pikiran dan perasaan kita dengan pertanyaan dan keraguan. Seperti tentang mengapa sejumlah pertemuan harus terjadi. Tentang mungkinkah waktu bisa diulang kembali agar kita bisa melewatkan apapun yang tidak pernah kita inginkan terjadi. Tentang bagaimana melupakan rasa sakit atau meredakan amarah yang begitu membakar. Tentang adakah cara menemukan pemaafan untuk sebuah pernyataan yang sebetulnya tidak ingin kita lontarkan. Kita semua mengarifi bahwa dalam hidup, ada banyak perjumpaan yang harus kita temui untuk kemudian kita tinggalkan. Ada banyak peristiwa yang harus kita alami untuk selanjutnya kita lupakan. Kita tahu bahwa hidup ditegakan oleh paradoks-paradoks ganjil yang membuat kita gagap membaca alurnya. Dalam ruang lingkup itu lah, Hutan Hujan melukiskan keresahannya lewat single terbaru mereka bertajuk “Pancaroba Peradaban”. Sebuah keresahan yang terencana melalui sejumlah perjumpaan takdir yang mereka kehendaki untuk membuka lagi cakrawala kita terhadap pendakian rasa.

Dalam perjalanan, kita akan menyadari bahwa selalu ada tujuan untuk semua yang pernah kita lihat. Terlalu banyak kemarahan dan kesedihan yang kemudian membuat kita resah. Dan dengan segala amarah dan kegaduhan itu pula Sigit Prasetyo, si penulis lirik “Pancaroba Peradaban” menuliskan lagunya dimana ia terinspirasi dari kekacauan hari-hari ini.

“Liriknya adalah keluh kesah perubahan perilaku manusia di era digital sekarang ini. Manusia lebih berani berekspresi dan berucap kata tanpa mempedulikan lawan bicaranya,” Tuturnya.

Hingga akhirnya keresahaan itu bersambut dan saling memeluk ketika Edy Priono sang gitaris bersama Syahdan meramu melodi hingga saling merajut kesamaan frekuensi mereka menjadi sebuah karya utuh dalam aransemen musik bersahutan.

Aransemen dan musik, “Pancaroba Peradaban” lebih kaya dengan perubahan nada, tempo dan birama. Lompatan-lompatan ketukan dari 6/8 menjadi 4/4 dengan balutan nada-nada timur tengah khas Ottoman membuat progresi dan groove lagu ini berbeda dengan kebanyakan musik yang sedang beredar di pasaran hari ini.

Semua itu dibarengi dengan perilisan video musik “Pancaroba Peradaban” yang sudah dapat dinikmati di kanal Youtube Hutan Hujan sejak 30 September 2020 silam. Bersamaan dengan itu, akan dirilis pula secara berurutan di toko digital hingga radio-radio di Indonesia.

Senja semakin tua ketika kita terhimpit oleh keadaan rasa yang terlalu nyata. Kita adalah makhluk kompleks yang lebih sering mengedepankan rasa tanpa diimbangi logika. Meski logika memaparkan kebenarannya, kita cenderung pura-pura lupa. Namun kita tahu bahwa keresahan dan rasa itu seperti ruang-antara yang terdapat di antara dua anak tangga. Artinya, untuk beranjak ke wilayah yang lebih tinggi, kita mesti (akan) mengalami segala macam keresahan terlebih dahulu.

Namun kita tahu bahwa keresahan dan amarah bukanlah tempat berpijak yang baik, ia hanya harus dialami untuk kemudian dilewati. Maka marahlah saat harus marah, tertawalah saat berbahagia. Lakukan semuanya dengan seimbang, tidak berlebihan. Adakah yang salah dengan berbagai rasa macam itu? Mungkin tidak ada. Barangkali memang ada beberapa jenis keresahan yang perlu kita hidupkan dan ada beberapa jenis keresahan lainnya yang harus kita bunuh sambil tertawa. Tetaplah berbahagia karena senja sudah terlalu tua untuk terus kita isi dengan persoalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *