Piringan Hitam The Brandals dan Kenyataan yang Keluar

Piringan Hitam The Brandals dan Kenyataan yang Keluar

Artikel Anggitane

I HujanMusik!, Jakarta – Derau rock n roll itu masih terdengar menghunus. Uraian gitar Tony dan PM yang keluar dari sepasang speaker sound monitor seperti tak mampu membendung aura urakannya.

Batas venue berjarak seperti tak bertepi, seiring dentuman liar bass Radit yang mengharu biru. Berlawanan cara Firman menemukan pakem permainan drum yang tak biasa.

Keempatnya sepakat menggerakkan Eka untuk terus mencecar microphone dengan beragam serapah lirik yang memukau.

Mereka adalah The Brandals yang saya kenal, kurun waktu silam dalam sebuah pertunjukan musik yang liar.

Kini, Tony memilih hengkang. Menyisakan PM, Firman, Radit dan Eka dengan jejak rilisan vinyl dan sebuah single “The Truth Is Coming Out”.

The Brandals adalah sebuah kenangan. Mereka layak berada dalam piringan hitam, mengingat pengaruh musiknya yang begitu mengemuka.

Saya sepakat jika ada yang menyatakan sebagai salah satu katalog musik terbaik Indonesia dari era 2000an.

Pada Oktober tahun lalu, Lamunai Records saya ketahui merilis ulang debut album band fenonemal asal Jakarta, The Brandals. Album penting yang rilis kali pertama dalam format kaset pita oleh Sirkus Records pada tahun 2003 dan dalam format cakram padat oleh Aksara Records pada 2006.

Kini, berjarak 17 tahun sejak perilisan, album tersebut sudah bisa dinikmati dalam format fisik terbaik. Piringan hitam (vinyl).

“Wacana perilisan album ini sudah menjadi isu sejak 8 tahun yang lalu, disaat “trend” reproduksi piringan hitam kembali ke puncak kejayaannya di seluruh dunia. Pendekatan dari berbagai label rekaman sudah dilalui. Hingga pada tahun 2019 label muda Lamunai Records berani mengambil alih untuk meluncurkan album ini,” tulis Eka Annash, vokalis The Brandals dalam pers rilis yang dikirim Lamunai Records ke redaksi HujanMusik!.

Album debut itu kini sudah resmi dirilis pada 12 Oktober 2020. Tersedia dalam 2 pilihan kemasan (Deluxe & Regular) berisikan 10 lagu orisinil dengan 1 lagu bonus (Ain’t Nobody’s Bitch) beserta poster baru dan orisinil.

Covernya desain ulang dari illustrator berbakat Ahmad Rizzali. Ada sisipan booklet 8 halaman yang berisikan foto, lirik dan album notes yang ditulis wartawan musik senior Reno Nismara.

Koleksi item untuk menambah nostalgia, berikut informasi album untuk semua penikmat musik masa kini.

“Tidak mudah untuk merilis ulang sebuah album dari katalog lama (Indonesia) ke dalam format piringan hitam, berbagai hambatan sering ditemui. Dari isu kepemilikan master, hak cipta, dan sebagainya. Hingga kebiasaan klasik mendapatkan arsip master yang layak, karena tidak pernah disimpan, hilang begitu saja.,” ungkap Johnny T dari Lamunai Records.

Tiga hari setelah piringan hitam keluar, The Brandals melepas single baru “The Truth Is Coming Out”.

Karya baru yang meneruskan energi perilisan vinyl dari album pertamanya, salah satu gerbang untuk mereka menuju album baru yang segera rilis tahun ini.

“The Truth Is Coming Out” adalah single anyar yang seperti menemukan arah pulang, selepas berkelana dalam “Retorika” dua tahun silam.

The Brandals seperti kembali ke dasar, membuat musik dengan mengandalkan naluri dan sisi kreatif mereka melalui intrumennya.

Sisi kemandirian sebagai band indie tampak menyeruak sejak produksi oleh talenta musisi Tony Dwi Setiaji, hingga polesan tata suara mixing dan mastering Harmoko Aguswan (Moko). Lengkap dengan lirik yang ditulis oleh vokalis Eka Annash dalam bahasa Inggris.

Seputar tema fakta-fakta sejarah yang terkubur oleh sistem politik Indonesia. Tentang bagaimana banyak nyawa dikorbankan, sejarah dimanipulasi dan fakta dibelokkan.

Single baru The Brandals ini juga rilis dalam format video musik oleh sutradara muda berbakat Kathleen Malay.

Nama yang sama lewat karya video-nya untuk Rich Brian, Gabber Modus Operandi dan Ras Muhammad.

Artwork dikerjakan oleh seniman muda asal Yogyakarta, Isnandito Henri Saputro.

Tema “The Truth Is Coming Out” seperti menemukan ruh-nya saat The Brandals juga bekerja sama dengan Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), sebuah organisasi non-pemerintah yang bergerak menginvestigasi kasus-kasus penculikan aktivis politik dan kekerasan di Indonesia.

Dari sini saya paham asal profil aktifis serta data kasus yang masih terbuka dan belum terselesaikan sampai sekarang.

Ah, The Brandals memang selalu monumental. Dari dulu sejak saya kenal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *