Pancaran Lunar Tantra Singlar Dalam Siklus Hidup Halimun

Pancaran Lunar Tantra Singlar Dalam Siklus Hidup Halimun

Artikel Sekar Puspitasari

| HujanMusik!, Bandung – Langit tenggelam tanpa ikatan warna sementara lampu malam memaksa saya membuka sebuah ruang reminisensi spesifik yang tidak berjarak pada batas-batas kota. Mencoba memutar kembali lompatan yang sudah tertinggal di masa itu dan mengulang lagi rasanya. Membuka mimpi yang sebelumnya memang sengaja ditinggalkan tanpa ingin dihidupkan atau hanya sebatas mimpi yang berkembang secara prematur. Dari segala ingatan itu, selalu ada hal yang membuat saya kembali hidup secara utuh. Seperti ketika seorang sahabat yang tiba-tiba meminta saya untuk ikut dalam membuat cetak biru sebuah karya bersama band bernama Singlar. Ketika itu juga saya seolah dipaksa mengeluarkan sisi liar saya yang tengah terjebak dalam sebuah pasir hisap ketika aksara rasa menguap dari kepala. Namun ia percaya bahwa saya bisa, dan akhirnya terbukti benar juga. Lewat penggabungan seni opera dan tradisional saya menyelami secangkir warna perak dalam alunan magis “Halimun”. Lalu jadilah sebuah karya untuk mengisi kotak waktu, kenangan juga sebuah mimpi yang semuanya telah terkondensasi dalam sebuah Video Story dimana antara lagu dan lirik saling bersahutan bersama vokal opera yang tebal membuat degup jantung tidak beraturan oleh haru.

Setiap orang punya banyak mimpi untuk diwujudkan. Dan ketika mimpi itu tidak terwujud, kita tahu bahwa ada momen tertentu dimana setiap orang akan memulai atau melanjutkan mimpi mereka. Maka mengelola harapan menjadi hal yang layak disebut bijak. Seperti yang telah di muat dalam artikel di HujanMusik! sebelumnya, Singlar dibentuk sebagai sebuah proyek ambisi dimana mereka sepakat ingin membuka pintu lain dari dogma indenpendensi sebuah kesenian yang kian kini terdengar nyaris serupa. Maka, untuk mewujudkan mimpi dan imajinasi dari lagu tersebut dalam bentuk padat yang mudah dijangkau siapa saja, sebuah Video Story dari lagu “Halimun” telah terunggah di kanal YouTube tepat pada tanggal 1 Januari 2021. Setelah sebelumnya album Singlar dilantingkan dengan isi 4 lagu dengan turunan Video Story dari “Lunar”. Ini pun menjadi pijakan awal sebuah petualangan dari kanal Singlar Music. Untuk proyek selanjutnya, lagu “Tantra” akan jadi kelanjutan cerita dari perjalanan karsa dalam magma doa dan pujian dari sebuah lagu kebaikan untuk mengingatkan kita bahwa kita hanyalah makhluk fana.

Bersamaan dengan itu semua, Ujang Gobed (Gitar 1), Deden Rantang (Gitar 2), Asep Kepang (Perkusi), Atang Posyandu (Kecapi), Maman Cangkeng (Suling), Emen Kabel (Engineer), dan Esih Pikok (Vokal), mengisi aransemen lagu yang magis seolah tengah menjawab sebuah misteri teka-teki 3 dimensi dalam sebuah cerita berlagu di kanal kolektif tersebut. Diawali dengan “Halimun” yang turun perlahan di lereng-lereng kemudian menjadi proyeksi awal dari romantisme pribadi akan sebuah tempat yang hening dan dingin. Dan ketika Singlar melepas mantra dengan menyanyikan dengan nada tertentu, kita pun seperti diminta untuk menyelesaikan liriknya. Gesekan gitar, alunan suling, dan pekikan vokal khas penyanyi opera Eropa sayup-sayup terdengar di tanah Davindra bersama sejumput sunyi di dini hari.

Mungkin benar bahwa segalanya berawal dari mimpi. Karena dari mimpi tersebut membawa kita terbang jauh, sedangkan kepaknya menyentuh dinding perut membuat senyuman di bibir. Meski tidak selamanya mimpi bisa kita wujudkan, namun darinya kita seolah tengah dibimbing untuk kembali menelusuri sejumlah ingatan di dinding langit yang kemudian menjadi hadiah yang harus direngkuh dan diterima. Karena setiap mimpi dan kenangan yang sudah tercipta seolah mengisi kembali rongga paru-paru dan meringankan sesak nafas siapapun yang berada direngkuhannya. Hingga lewat itu semua kita terbentuk menjadi pemberani, seperti halimun yang tidak pernah takut luka meski harus hilang berkali-kali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *