Kisah Vikri Rasta Tutup Album Sederhana

Kisah Vikri Rasta Tutup Album Sederhana

Artikel Anggitane

| HujanMusik!, Bogor – Sore itu, 23 Oktober 2020, waktu terus merambat, menipiskan siang yang sedari tadi menenteng beban kerja untuk dituntaskan. Sekelebat, bandul-bandul pengingat berkejutan, memberi pesan bahwa sore menuju petang ada riwayat yang harus disaksikan. Riwayat perjalanan karya musik yang dititipkan dalam bentuk “Tutup Album Sederhana”. Showcase musik seorang Vikri Rahmat dengan aneka cerita dan pesan-pesan tentang teman ajaibnya.

Jalanan berjejalan menuntun saya menuju lokasi acara. Bogor yang syahdu tampaknya sedang terburu-buru. Pun saya yang tetap harus bertanya soal lokasi trzy coffe, venue dimana Vikri & My Magic Friend merilis showcase tutup tahun-nya. Saya mensyukuri hari itu memilih mengabaikan gawai yang menampilkan penanda peta. Bertanya menjadi cara mengenali kembali, se-Bogor apa saya bisa tiba ke lokasi acara.

“Tutup Album Sederhana” memanglah demikian adanya. Tak ada rupa-rupa dan aneka rekayasa. Tiba dengan jadwal yang sedikit terlambat, namun Vikri dan kolega masih sibuk berbenah merayakan panggungnya. Memastikan intrumen berfungsi, juga menyambut tetamu yang berdatangan menyapa. Saya memilih menepi dan berdiri dipinggir. Disana sudah ada Rinjani Reza, kolega yang juga terjadwal untuk tampil membacakan puisi.

Simak di HujanMusik! : “Album Sederhana dan Pencapaian Musik Vikri and My Magic Friend”

Sedari dulu saya memang menaruh kagum pada talenta Vikri Rasta yang seperti tak pernah kehabisan energi. Kemampuannya bertutur dengan spontan membawanya mudah menguasai etalase pertunjukan, kapanpun, dimanapun dan dalam bentuk apapun. Persiapan showcase yang biasanya dimaklumi sebelum acara resmi seperti tak berlaku. Vikri dan tim produksi mengemasnya menjadi pertunjukan sederhana yang tetap menarik.

Panggung masih sepi. Saat itu hanya Vikri yang mencoba berceloteh tentang rana panorama perjalanan musiknya, hingga kenapa akhirnya memilih menggelah showcase “Tutup Album Sederhana”. Kisah yang bermula dari kebulatan hati dan ego seorang Vikri, hingga perjalanan menuntunnya pada perjumpaan bersama beberapa seniman. Lalu, secara perlahan Vikri mengundang teman ajaibnya untuk datang menemaninya diatas panggung. Former personil SHORE Abraham “Bram” Albert Ongirwalu dan Denis Slepo hadir dengan kisah sederhana mereka menemani Vikri. Berikutnya ada Beraldy “Bebe” Dean, gitaris pengiring Rizky Febian melengkapi formasi. Lantas ada Muhamad “Ichan” Ichsan, aktivis komunitas Imah Luhur di Bogor, juga Suryana “Ncunk” Ramadhan yang memandu divisi pertunjukan tradisi. 

Momentum showcase penutup sekaligus pembuka album baru, menggelinding dengan “Bukan Abu-abu”, “Ibu”, “Langkah” yang featuring bersama Firda, “Cinta Tlah Hilang” dengan iringan puisi Rinjani Reza. Kemudian featuring Ambara “Amba” Handy dari Ambarila dan iringan Saxophone Umay dalam “Rindu dalam Rindu” dan “Tentang Aku dan si Doi”

Menuju lewat petang, Vikri & My Magic Friend dalam formasi penuh telah menguasai panggung. Penglihatan saya menangkap ada enam musisi tangguh yang menemani atraksi Vikri. Ada Bram, Denis, Bebe, Ichan, Amba dan Ncunk yang menemani.

Celoteh Vikri masih terdengar mendominasi sebelum saya mengenali satu nomor perlahan yang ditampilkan berjudul “Merah Putih”. 

“Terimakasih buat kalian yang datang dan tetap menjaga protokol kesehatan, saling menjaga jarak. Respect,” celetuknya.

Kisah-kisah sederhana lantas bermunculan. Mulai dari seputaran keluh kesah dan gugatan untuk tak mau diatur dalam “Lagu Santai”, cerita komunitas masa muda dalam “Sedang Ingin Berdanska”. Untuk kemudian menutup sesi penampilannya dengan “Cinta”.

Tampaknya Vikri dan kolega berusaha menjadikan showcase “Tutup Album Sederhana” menjadikan pertemuan para sahabat yang selama ini mendukung perjalanan album musiknya itu. Album perdana Vikri bersama Vikri and My Magic Friend berjudul #albumsederhana. 

Sebuah album penuh yang bertajuk #albumsederhana yang kental dengan nuansa alternative, folk dan tak jarang menyematkan reggae. Proyek musik yang dijalaninya sejak 2010 dan mulai merekam setahun kemudian. Hingga tahun 2016 album tersebut diperkenalkan secara luas.

Lantas pintasan karya itu terus bertumbukan dari panggung ke panggung. Memecahkan kebuntuan bahwa karya harus diedarkan dan diperdengarkan dalam urutan 5 tahun kebelakang. 

Menutup penampilan pada “Tutup Album Sederhana” Vikri mengajak Lutfi “Abaow” Frimasyah tampil. Musisi Bogor yang sibuk sebagai gitaris pendukung band Kotak itu memang banyak disebut-sebut Vikri sebagai sosok yang berjasa pada awal pembuatan albumnya. 

Bagi seorang Vikri, konsisten dan tekun bermusik dengan Vikri and My Magic Friend adalah sebuah pencapaian. Awal dan ujung dari semua usaha berkesenian yang dijalaninya adalah musik. Tak heran jika ia melakukannya dengan segenap kesungguhan. Untuknya, musik itu tak bisa berbohong, karena nada tidak bisa direkayasa. Muatan kejujuran yang menunjukan kedalaman rasa, mengarahkan ia untuk tetap sujud syukur dan mengingat penciptanya.

“Kami tutup persembahan album sederhana ini dengan Cinta, sampai ketemu album berikutnya,”

Dalam kesederhanaan semoga kita banyak memetik makna didalamnya.

Sukses terus Vikri and My Magic Friend.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *