Kemeriahan Rock Bersahaja Absolomb Lewat “Won’t Last Forever”

Kemeriahan Rock Bersahaja Absolomb Lewat “Won’t Last Forever”

Artikel : Rizza Hujan

| HujanMusik!, Jakarta – Selama mendengarkan musik dan memerhatikan tingkah pelaku juga penikmat musik, culture-nya, belum pernah saya menemukan pernyataan “Gue pernah suka musik rock tahun sekian”. Pecinta musik rock terus saja setia. Mungkin akan khilaf dan mendengarkan musik lain seperti pop, folk, bahkan dangdut mungkin. Tapi itu biasanya berlaku sementara. Musik rock selalu mengisi daftar putar. Untuk saya, musik rock, tentu dengan turunan alternatif, metal, grunge, punk, adalah oksigen yang dihirup setiap saat. Panasea saat getir melanda, penggembira dikala muram, pembangkit gairah ketika jatuh.

Rock kembali menyapa saya awal 2021 ini lewat “Won’t Last Forever” yang merupakan single milik kolektif asal Jakarta, Absolomb. Rock yang ringan tapi semarak. Sendainya Scott Stap jadi frontman The Calling maka mungkin Absolomb lah hasilnya. Vokal Vano yang tebal tapi tinggi berkelindan dengan permainan gitar sederhana Abie, Nory, dan Richard. Dihantarkan dengan sound bersih dan seimbang antar instrumen berujung pada harmoni ramah di telinga. Sederhana tapi meriah.

April, 2020 lalu, band asal Jakarta ini sukses merilis single pertama mereka bertajuk “Ironi”. Kini, melalui “Won’t Last Forever”, mereka kembali bersenang-senang dan membaginya melalui lagu yang bercerita tentang suatu hubungan yang diperkirakan akan berakhir singkat dikarenakan kecewa terhadap perkataan atau ucapan pasangannya.

“Intinya sih, mulutmu harimaumu” ujar Vano sang penulis lirik.

Artwork “Won’t Last Forever – Absolomb

Dalam suatu hubungan tentu komunikasi menjadi hal yang paling krusial, hal yang harus tetap dijaga baik. Pesan itu yang sepertinya hendak disampaikan Absolomb melalui lagu yang berawal dari ide genjrengan nada-nada gitar sederhana dari Abie. Kesahajaan itu kemudian dibawa ke studio dan diramu oleh semua personil Absolomb. Tidak perlu waktu lama, jadilah lagu yang ditasbihkan sebagai single kedua mereka ini.

“Ya terkadang ide itu bisa dari mana aja. Kayak di lagu “Won’t Last Forever” ini. Memang terdengar sedikit membingungkan dan sedikit nggak nyambung sama ide awalnya. Ya tapi itu lah real fact-nya”. Jelas Abie.

Untuk proses produksi, Absolomb mengerjakannya sendiri secara home recording. “Untuk instrumen kita kerjakan dengan kit kita masing-masing, tapi khusus buat vokal tetap kita kerjain di studio. Soalnya untuk vokal kan butuh treatment khusus, terutama dari segi ruangan. Untuk vokal, kita kerjain di salah satu studio di daerah Tebet, Jakarta Selatan, yaitu studio Mamokiak” ujar Nory, pemain gitar. Sementara untuk proses mixing dan mastering mereka tetap memercayakan kepada Bems dari Harper Studio.

Di lagu “Won’t Last Forever” ini, Absolomb lebih terdengar maskulin dari segi aransemen dan komposisi nada. Meski dibandingkan dengan rilisan-rilisan sebelumnya terdengar sangat berbeda, mereka tetap meyakini bahwa musik tidak perlu dikotak-kotakkan. “Lagu ini memang sedikit berbeda dari lagu yang kita rilis sebelumnya, tapi tetap dengan nuansa rock. Kita suka musik, ya semuanya kita coba!. Kita pengen mainin apa yang kita suka, kita jadiin lagu”, timpal Richard yang juga memainkan gitar.

Segalanya akan berakhir, bahkan matahari pun akan menemui barat sebagi ajalnya, tapi karya tidak akan pernah bisa dihapuskan, abadi dalam ingatan. Setidaknya itu makna lain dari kalimat won’t last forever versi saya. Seperti single Absolomb yang dirilis pada Oktober 2020 melalui gerai-gerai musik digital dan video lyric di kanal youtube Absolomb Official.

https://www.youtube.com/watch?v=VJ4Z765n7pU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *