Jalan Kesaksian di Keboen Sastra

Jalan Kesaksian di Keboen Sastra

Artikel Tatan Daniel 

| HujanMusik!, Bogor – “Apakah artinya kesenian, jika terpisah dari derita lingkungan? Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan?” (Rendra: Sajak Sebatang Lisong)

***

Sebuah petang di Keboen Sastra, terasa berharga. Sudah lama saya tak blusukan ke  Bogor. Padahal Bogor itu kota yang asyik. Kulinernya segar rupa-rupa. Gerimisnya romantik. 

Setelah melintasi lima belas stasiun sejak dari Manggarai, sejenak berteduh di Terminal Bubulak karena dikejar hujan, saya menemukan kehangatan di ‘rumah suaka’ Keboen Sastra. Sebuah rumah, ruang berhimpun para seniman muda, yang sebagian datang dari jalanan. Dindingnya berhias kata-kata: “Jika yang kau senangi tak kunjung terjadi, maka belajarlah menjalani yang tak kau ingini”, ada metafora tentang pahit kopi, penggalan teks lagu KPJ, sejumlah buku tersusun di rak, kaligrafi nama Tuhan, beberapa lukisan dan piagam terpajang rapi,  di atas meja ada kemasan kopi dan peraciknya, alat-alat musik di ruang tengah dilengkapi satu set taganing. 

***

Di Keboen Sastra, petang itu, pekan lalu, kami membaca buku “jalan kesaksian dan sajak”. Sebuah buku dengan 50 sajak dan 5 catatan yang ditulis oleh Harris Priadie Bah , sepanjang Februari 2019 sampai Oktober 2020. Buku yang diawali dengan puisi satu baris bertajuk Sajak: atas nama kata. Bertautan dengan puisi kedua, Kesaksian: 

hanya 

kata

yang

bisa 

menyelamatkan

hanya 

kata

Saya menemukan Harris di banyak persimpangan. Aktor, pendiri Teater Kami, yang menulis puisi dengan sungguh hati. Ia yang berjalan sendirian, menempuh bermacam jalan. Di sebuah kota dengan halte yang  terbakar, gedung dengan kamar-kamar isolasi, mimbar ibadah di layar komputer yang ditinggalkan jemaatnya, warga rukun tetangga yang tak saling kenal muka. Jalan-jalan tak berujung dan tak bernama. Kota dengan rambu-rambu dilabur grafiti. 

Tegak bersaksi, dengan sajak-sajak, gelisah karena berhadapan dengan realitas sosial keseharian yang banal. “Lewat sajak/aku hendak bersaksi”, ujarnya, dan memuliakan kata yang menggelegak. Bukan kata yang beku, mati, arkais. Atau harum berbunga-bunga. Menemukan jalan kesederhanaan, mengabarkan Rangga kecil yang dibunuh, Gie, Rudi, pendeta muda, politisi busuk, mahasiswa, joki politik yang gentayangan, Ribka dan senyumannya, Salto, Salvo, Cut, Suko, orang sialan di sebuah kota, Ramadhan, lebaran, Tuhan. Kaum seniman yang sibuk berwebinar, sembari asyik menyeruput kopi di kamar. Dan, Taman Ismail Marzuki. 

Harris yang mempercayai kata-kata, sebagai mazmur, requiem, doa yang dilafazkan. Bukan gemeremang bisikan di dalam hati. Bahwa kata-kata bukanlah labirin bawah tanah, tempat bersembunyi dari peperangan. Ia adalah sungai berarus berjeram, angin beliung mematahkan, jalan keras dan berdebu. Nyata. Hidup. Menggeliat. Jujur, terang, apa adanya. Yang tak digelap-gelapkan, yang dinikmati hanya oleh sang penyair semata. Ia tak bertendensi ingin berasyik-masyuk di ruang transendental, yang kerapkali malah tak bermakna apa-apa. 

Ia tak  berbicara soal mawar. Jika pun ia, tapi mawar yang luka, berdarah. Harris mendudukkan simbol-simbol fonetik yang alfabetik itu menjadi titian dialog. Daripada merendamnya dalam genangan yang tak terselami, ia justru memahatkannya di batu-batu. Mungkin tak halus benar, namun ketika kebisuan meraja, pengabaian menjadi hal biasa, tipu dan daya berseteru, mantera-mantera ternyata tak mujarab, kata-kata itu menjadi penting. 

Sajak-sajaknya kemudian terdengar seperti gemerincing pedang, dentang lonceng yang bertalu-talu, atau beduk yang ditabuh berdentam-dentam. Atau seperti bunyi wajan yang digesek dan dihantam, suara rusuh cucian yang dikucek dengan kejengkelan, ritus membersihkan yang kotor, yang tak kunjung usai. Seperti metafora “Gegerungan” yang pernah ia pentaskan lewat teaternya. Suara bising, raungan kemasgulan, dan amarah yang terpendam, menjadi pecahan kerikil yang beterbangan.  

Kata-kata, bunyi yang menggedor-gedor itu ia serukan, setidaknya bagi dirinya sendiri, supaya terhindar dari panci hangat, yang merebus jiwa perlahan-lahan. Nyaman, tapi mematikan. Menolak terjerumus dalam “rezim kegelapan”, yang membuat puisi “mati/bila hanya berdiam dalam  kertas atau buku-buku antologi”, yang ribut “berbantah soal seni yang sekedar menjadi artefak dalam catatan suratkabar”, tulisnya. 

Itulah makanya, Harris dengan lantang bisa menuliskan tiga sajak tentang Taman Ismail Marzuki, dan melengkapkan bukunya dengan lima catatan tentang rumah seniman itu. Dimulai dengan “Pernyataan Bah”, dan ditutup dengan “Penyembah Langit dan Penyembah Bumi Bersatu dalam Semesta.” Luapan gagasan dan pemikiran yang ia tuangkan antara bulan Februari dan Maret tahun lalu, ketika kulminasi perlawanan Forum Seniman Peduli-TIM tengah memanas. Bahwa #saveTIM, gerakan penyelamatan TIM  “adalah perang melawan ingatan-ingatan/yang kabur atau sengaja dikaburkan/dan nafsu yang bersekutu dengan libido kebendaan,” tegasnya dalam sajak “Aku berdiri Di Sini”.

***

Saya mencatat, inilah buku pertama, yang merekam gemuruh pemikiran tentang gerakan pembelaan terhadap Taman Ismail Marzuki, tatkala revitalisasi sepihak terhadap pusat kesenian itu, dengan peruntuhan jejak sejarah, dilancarkan setahun yang lalu oleh Gubernur Jakarta, tanpa mempedulikan pendapat kalangan seniman. Harris, yang pernah menjabat sebagai Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (2003-2005), adalah salah seorang seniman, yang sejak awal menyatakan sikap yang terang untuk bergabung  menegakkan marwah TIM. 

***

Kami menelusuri ‘jalan kesaksian dan sajak’ sampai malam turun. Keboen Sastra benderang karena lampu-lampu dinyalakan. Kami, Harris, Riri Satria , Babske , Fauzan, Herie Matahari , Denie Matahari, Gunawan, Ari, Putri, dan kawan-kawan penghuni keboen yang kian ramai berdatangan. Cangkir-cangkir kopi kosong dan diisi lagi. Gitar dibunyikan. Puisi dinyanyikan, dengan spirit keseharian tanpa beban, spontan, mengalir, seperti riuh angkot di jalanan, deru api di kompor penggorengan, keramaian di trotoar dan taman kota Bogor. 

Di Keboen Sastra yang sibuk, petang pekan lalu, saya menyesap aroma kehangatan. Harris dan sajak-sajak yang memperjuangkan kemurnian kata-kata, dan seorang Ei, Herie Matahari, lelaki Siregar yang berjuang melaksanakan kata-kata. Duapuluh empat setiap hari. Bertahun-tahun. Membangun ruang teduh bagi serombongan anak jalanan. Berteman dengan hujan, senja, kabut dinihari. Meski harus berjumpalitan, tapi bahagia memilih jalan tak biasa. Naluri berkesenian, naluri menumbuhkan kebaikan, meski menempuh jalan berkelok, dan kerap kali tak terduga. Jalan yang menghadirkan keriangan, tapi juga keajaiban. Bahwa tanah harus dibalik, rumah harus dibangun, benih harus ditanam, tanpa mengeluh. 

Komitmen itu juga yang ia bawa, ketika tanpa banyak bicara, datang bersama serombongan warga Roemah Sastra, tegak menyuarakan ‘silent action’ divenue Teater Kecil, pada sebuah sore bulan Desember yang berujung senja bergerimis. Merayakan pembelaan untuk Taman Ismail Marzuki, ruang ekspresi yang sama dakhsyatnya dengan ruang yang ia bangun, Keboen Sastra. Ei, dan juga Denie, yang berseru di Balai Kota, dan berkali-kali, saban Jumat berdiri di trotoar Cikini 73, menegaskan #saveTIM sebagai kredo berkesenian, kepedulian, dan solidaritas. 

Itu jugalah, yang mengingatkan saya untuk mengabaikan kecemasan, lalu menerobos lima belas stasiun menuju Bogor, meski udara disamun virus korona. 

Disela percakapan, tutur dan tawanya, mengingatkan saya pada kota Medan yang panas, gemuruh, dan tak banyak tawar-menawar. Saya merasa terhormat, diterima singgah di rumah kebersamaan yang guyup itu. Kenangan yang tidak biasa, yang patut saya catat, untuk saya ingat-ingat di suatu hari. 

***

Bersama Babske, sahabat FSP-TIM yang berbulan-bulan aktif di Posko #saveTIM, saya meninggalkan Keboen Sastra, ketika embun mulai turun. Sepanjang perjalanan ke Jakarta, kami mengisi percakapan, yang terasa spritual, tentang Pak Ajip Rosidi, salah seorang eksponen pendiri TIM, di masa Gubernur Ali Sadikin. Babske yang sempat berdiam sebulan di Pabelan, bersama Pak Ajip, beberapa waktu sebelum sastrawan itu wafat di usia 82 tahun. 

“Saya melihat, beliau masih tekun membaca buku. Setiap malam. Biasanya sampai subuh. Hebatnya, bisa empat atau lima buku sekaligus, dengan halaman terbuka, di atas satu meja,” kisah Babske. “Dengan atau tanpa kacamata.” Saya coba membayangkan, tapi sukar. Cara membaca yang fenomenal. 

“Di Pabelan, Pak Ajip punya sekitar tujuh komputer. Sebagian di ruang bawah, sebagian di atas. Dan semuanya masih ia gunakan untuk menulis. Tergantung ia tengah berada di ruang mana. Sangkin banyaknya komputer dan tulisannya, beliau sering lupa, di komputer mana tulisan tertentu yang diperlukan untuk dibuka’, kisah Babske lagi. Saya coba membayangkan, tapi sukar. 

Begitulah. Banyak hal ajaib tentang Pak Ajip, yang pada usia 17 tahun itu telah menerbitkan novel serius, yang kemudian mendapatkan penghargaan. Kisah yang panjang, sementara saya harus turun di Cawang, meneruskan perjalanan pulang, ke Pondok Kelapa. Dan gerimis turun lagi, sebelum saya membuka pagar rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *