Ilusi Spiritual Pertama Mata Ketiga

Ilusi Spiritual Pertama Mata Ketiga

Artikel Anggitane

| HujanMusik!, Jakarta – Suar pagi baru saja memberi tanda. Memamerkan kesegaran yang berbalut ilusi dan kesahajaan. Menggoda untuk urungkan niat rebah selepas memanjatkan doa menjelang fajar. Menggantinya dengan gerak raga, menikmati kicau pagi dan alunan waktu yang suatu saat bisa terhenti. Ah, dunia memang indah untuk diabaikan. Sama halnya dengan petikan gitar dan pusaran perkusi yang begitu kawin dalam “Ilusi dan Batas Waktu”. Single pop-etnik milik kolektif Mata Ketiga ini sungguh sayang untuk diacuhkan.

Nadanya yang muncul perlahan, seperti tengah berusaha menunjukkan ilusi dan batas waktu yang saling membujuk. Sebuah karya spiritual yang tak hanya berisi musik, ada harapan dan penerawangan yang dimiliki para pengusung dan pelantunnya. Sebuah kekuatan pikiran dari Shadu Rasjidi, Ronie Udara, Erik Sungkawa, Rayhan Syarif, Jaeko, Hanifa Shabrina, dan Hata Arysatya. Ya, mereka memulainya dari single pertama “Ilusi Dan Batas Waktu”.

Bertemu dan melakukan proses kreatifnya di Jakarta, Mata Ketiga lahir dari ide tiga orang yaitu Erik Sungkawa yang merupakan vokalis dari band Oktaf, Shadu Rasjidi bassist dari Dewa Budjana dan ILP, serta Ronie Udara yang juga merupakan Percussionist dari band Rubah Di Selatan. Secara tak sengaja ketiganya berjumpa di Depok, Jawa Barat pada pertengahan tahun 2019 silam.

Saat itu Erik membuka wacana tentang bagaimana ia memiliki keterkaitan dengan dunia spiritual. Ujaran yang ternyata cukup menarik minat Shadu dan Ronie, lalu membungkus menjadi sedemikian sangat terinspirasi dengan hal tersebut. Kemudian diputuskan, bahwa terhitung sejak tanggal 27 Juni 2020, Mata Ketiga lahir dan sepakat untuk berkarya dengan tema-tema spiritual. Mereka menambahkan nama Hata (drum), Ray (gitar), Jaeko (etnik instrumen) dan Hani (Vokal/keyboard).

Membawa warna musik yang beragam, Mata Ketiga sejatinya tidak ingin terjebak dalam urusan aliran. Mereka ingin membebaskan para pendengarnya untuk menyimpulkan genre dari Mata Ketiga itu sendiri. Meskipun dalam beberapa karya terdapat nuansa Jazz, Rock, Pop, Etnik dan bahkan mantra etnis tertentu sebagai pengingat bersama akan hal-hal petuah hidup sebagai manusia. Pada single pertamanya kali ini, nampak nuansa musik pop dengan kentalnya isian etnik perkusi (Sadatana), Suling Bali dan orchestra dalam komposisinya.

Lantas komitmen berkarya itu mewujud dengan dirilisnya “Ilusi dan Batas Waktu” sejak tanggal 10 Oktober 2020 ke semua gerai digital streaming. Selain itu mereka juga merilis video lirik di paltform YouTube pada tanggal 17 Oktober 2020, sebagai bentuk salam pembuka dari Mata Ketiga.

Begitulah, “Ilusi dan Batas Waktu” dipilih sebagai pembuka dari rangkaian karya yang akan dirilis nantinya. Sebuah bentuk komunikasi atas rasa syukur, mendera segala ilusi keresahan dan kesenangan yang pasti ada batas waktunya. Peran tersirat dan tersurat pada penggalan lirik “Kunikmati alam bernyanyi”, sebuah part bersyukur dalam menikmati peran kita sebagai manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *