Gabriela, Insomnia, dan Kesehatan Mental yang Terjaga

Gabriela, Insomnia, dan Kesehatan Mental yang Terjaga

Artikel Sekar Puspitasari

| HujanMusik!, Tangsel – Udara dingin mengambang di ruangan empat meter persegi ketika saya terbangun di dini hari tadi. Uap demi uap dari hembusan nafas dan suara dengkuran terdengar bersahutan pelan dari pemiliknya dan saya merasa sedikit demi sedikit kantuk tadi terlupa dari pelupuk dan alam pikiran saya mulai membuka halaman-halaman kudus satu persatu, sambil mengeja ayat-ayat dan sesekali memejamkan mata untuk menangkap suara hening seraya menggumamkan nama Tuhan dalam hitungan-hitungan zikir yang rahasia. Kemudian tanpa sadar saya telah berkawan dengan rasa asing yang membuat rantai pikiran saya berada dalam kondisi ambivalen. Barangkali begitu pula yang dipikirkan oleh Gabriela Fernandez saat menuliskan single terbarunya yang dirilis di awal terjadinya pandemi ini yang berjudul “Insomnia Song” yang sudah tersedia di berbagai pemutar digital. Boleh jadi ia pun sama-sama pernah mengalami dimana saat keterjagaan di malam hari adalah saat setiap pikiran memacu dirinya untuk berada di posisi sentra dalam diri kita untuk memikirkan berbagai macam hal plus dengan segala rasa yang terkemas di dalamnya.

Dalam keadaan insomnia, saya teringat sebuat ungkapan ‘Nihil sub sôle novum’ atau tidak ada yang baru di bawah matahari. Karena lagi-lagi kita dihadapkan pada pengulangan hidup dan kita tidak lagi bisa mengklaim kebaruan apapun, kita hanya bisa menerimanya dengan perasaan janggal sedangkan masa lalu terlalu nisbi. Pun Gabriela yang menulis lagunya ini tidak hanya semata-mata tentang keengganan tidur malam saja. Menurut Gabriela, lagu ini menceritakan tentang pikiran-pikiran yang terlalu banyak (overthinking), rasa bersalah, kekhawatiran dan kecemasan akan masa depan, yang sebenarnya bisa dilatih dengan mindfulness atau berlatih disini dan kini.

Dalam aransemen lagunya, Gabriela bersama beberapa orang lainnya menggabungkan berbagai macam instrumen terasa begitu sensibel dan ceria seolah sedang menyalakan kayu bakar yang sudah ada, dengan api yang juga sudah ditemukan dengan udara yang sudah tersedia pula hingga segalanya menari dalam frekuensi senada.

Ada yang menarik dari video klip lagu “Insomnia Song” ini adalah kehadiran Rhesa Aditya, bassist dari Endah n Rhesa.

“Ketika mas Rhesa menawarkan untuk mengisi bass di lagu ini, dan bersedia mengerjakan mixing mastering untuk lagu ini, aku senang sekali. Rasanya campur aduk, tidak tahu bagaimana lagi harus berterimakasih. Mas Rhesa dan Mbak Endah orang-orang baik, mereka nggak segan mendukung musisi-musisi muda dengan berbagai cara,” ungkap Gabriela.

Video lagu ini pun merupakan proyek jarak jauh antara Jogja-Pamulang, di mana semua dikerjakan dari rumah, dengan peralatan yang sederhana. Selain itu, video ini mengangkat pula seorang Raditya ‘Somay’ Darmo, musisi dari Yogyakarta, yang membuat seluruh bunyi perkusi dari lagu ini.

Kurang lebih, demikianlah hari-hari kita sebagai manusia modern yang terperangkap dalam ilusi waktu dan kecepatan. Kita hanya terjebak dalam pengulangan masa dimana kita mengalami dilema kecepatan dan reaksi berlebihan dari pikiran-pikiran negatif kita sendiri. Maka yang perlu kita lakukan hanyalah melepaskan segala hal yang selama ini menyesakkan napas kebahagiaan dan mulai berkaca pada diri. Barangkali introspeksi diri tidak mampu mengubah hal yang telah menyakiti dan tidak membuat waktu hidup kita lebih panjang, tetapi tentu ia mengubah diri. Membuat perasaan lebih lapang, pikiran lebih benderang, dan hidup lebih tenang. Dan demi lembut subuh, mudah-mudahan getar ini sederhana, karena pemaafan memang tidak mengubah masa lalu, tetapi ia melapangkan masa depan. Jadi tenang saja, dan tidurlah. Semoga mimpi indah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *