Alienasi dan Monolog Masa Lalu Sun Grass Roots di Tepi Sunset Boulevard

Alienasi dan Monolog Masa Lalu Sun Grass Roots di Tepi Sunset Boulevard

Artikel : Sekar Puspitasari

[HujanMusik!], Bandung – Berawal dari secangkir kopi di sebuah kedai kopi yang cukup ramai di senja hari pada akhir pekan, tiba-tiba saya teringat sebuah teori dari Karl Marx tentang ‘Alienasi’. Kata Marx “Mereka yang terpisah dari kediriannya adalah manusia yang lupa cara menjadi manusia”. Mau tidak mau saya berpikir bahwa keterasingan dari diri sendiri adalah sebuah konsekuensi dimana kita menjadi bagian mekanistik dari kelas sosial dan setiap manusia berada pada satu kondisi yang menjauhkan dirinya dari kemanusiaannya. Seperti di hari-hari setiap orang menjadi ‘alien’ yang sibuk dengan dirinya hingga tanpa sadar melupakan detail-detail kecil dari jalan-jalan basah dan matahari yang beranjak perlahan untuk bersandar pada awan. Atau segala hal sederhana yang kian terpisah dari kehidupan lain di sekeliling kita, dari hal-hal yang sebetulnya penting kita jaga agar tetap menjadi manusia. Dan cara agar kita kembali menjadi manusia adalah ingatan, hingga segala momen yang tersimpan dalam hipokampus terburai sempurna bersama lagu “Sunset Boulevard” yang riaknya menyusup perlahan dalam limbik untuk kita hisap bersama banyaknya kenangan pada senja.

Simak! di HujanMusik! : “Penuh Spririt dan Emosional, Kolaborasi Kedua Sandhy Sondoro dan Lala Karmela”

Terkadang dalam satu masa, kita rindu pada episode hidup yang telah terjadi, dimana ada pertemuan dan perpisahan. Tawa dan air mata. Harapan, pemenuhan, dan kekecewaan. Bahagia dan luka. Lalu hidup mengulang dirinya lagi, lagi, dan lagi hingga yang tersisa hanya kerinduan dalam kenangan. Dan demi semua kerinduan yang tengah mengetuk itu, Sun Grass Roots menorehkan ingatan mereka dalam lirik monolog masa lalu dalam sebuah lagu senja berjudul “Sunset Boulevard”. Secara terperinci lagu ini dimulai dalam kalimat tanya sabagai satu wadah komunikasi secara langsung dengan jiwa yang tenang untuk menerawang pada masa lalu yang dianggap terbaik dalam sejarah hidup. Hingga pada satu sore dalam lagu yang terbalut dalam neosoul, low beat dan groovy yang kental itu, kita seolah ditarik mundur dari putaran waktu untuk kembali mengingat hal-hal yang terlewatkan. Seperti hujan, lirik senja “Sunset Boulevard’ turut serta menyampaikan pesan untuk sesekali kembali pada momen-momen yang menyentuh untuk kita.

Lagu “Sunset Boulevard” merupakan ciptaan bersama para personil Sun Grass Roots dan direkam di Escape Studio Bandung. Dalam lagunya, grup yang terdiri dari Yuhka Sundaya (gitar), Nopan Riefanto (drum) dan Dani Irjayana (bas dan synth) tersebut menggandeng rekan-rekan musisi satu kotanya; solois perempuan Sarah Saputri dan salah satu vokalis utama dari band Harra bernama Asilah Andreina. Hingga pada akhirnya lagu ini dirilis pada Kamis 4 Juni 2020.“Killing time riding slow saat sunset atau matahari terbenam di ufuk barat merupakan suatu yang menyenangkan dan menenangkan, disaat yang sama muncul ingatan-ingatan masa lalu,” ujar Yuhka Sundaya.

Lagu “Sunset Boulevard” yang telah tersedia di berbagai gerai musik digital seperti Spotify, iTunes, YouTube music dan lain sebagainya seolah menandakan bahwa akhirnya senja pun akan selesai. Semua kisahnya terangkum dalam satu masa, yang seolah hanya lewat sekejap mata. Ketika esok mentari hadir lagi, semoga kita bisa melangkahkan kaki dengan ringan menikmati setiap tangis dan tawa. Mempergunakan waktu sebaik-baiknya. Untuk mereguk semuanya. Untuk tidak menunda-nunda. Untuk jujur terhadap apapun yang kita rasa. Untuk mempersembahkan waktu bagi mereka yang kita cintai. Karena kita tidak pernah tahu berapa banyak lagi waktu yang kita punya, mari rayakan saja hari ini dan kembali menjadi manusia. Semoga kita bisa bercermin tanpa terpaku pada kantung mata hingga kita bisa terhubung dengan manusia-manusia lainnya dalam ikatan perasaan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *