Jeda Prasangka dan Paradoks Kesabaran Nona Sepatu Kaca

Jeda Prasangka dan Paradoks Kesabaran Nona Sepatu Kaca

Artikel : Sekar Puspitasari

[HujanMusik!], Yogyakarta – Pagi hari adalah dimana bermacam-macam cerita tentang hidup, tentang Tuhan, tentang perasaan-perasaan yang saling berhubungan dengan manusia lain dimulai. Seperti perasaan ibu yang memiliki cinta luar biasa terhadap anak–anaknya, kemudian berpindah menjadi seorang pecinta akut yang melipat rindunya dengan sempurna, kemudian kembali menghayati perasaan manusia biasa yang menjadi luar biasa ketika menemukan belahan dirinya di badan orang lain. Bermacam-macam kisah yang di dalamnya ada tawa dan tangis yang menemani hari-hari setiap individu, diselingi candu cinta yang memilin semua rasa dalam laju waktu. Seperti kisah perjalanan seribu malam dimana setiap mimpi begitu menyentak dan membangkitkan getar yang terus memanggil hingga berdenyar dalam hati. Seperti kisah sebuah mimpi tentang pertemuan dengan para Nabi yang dicintai sebagai cara manusia agar keluar dari jebakan keterpisahan yang memiliki arti penting bagi kehidupan. Sebuah kisah dimana banyak nilai universal yang diajarkan kepada kita namun terkadang kita gagal untuk menangkap maknanya. Dan di satu momentum tepat itu, Nona Sepatu Kaca datang untuk mengkonversikan sejumlah kelemahan jamak manusia menjadi keyakinan-keyakinan dalam sebuah kisah Nabi Musa.

Dalam hidup, ada beberapa peristiwa yang harus kita alami untuk kita lupakan. Ada beberapa orang yang harus kita temui untuk kemudian kita tinggalkan. Demikianlah adanya, karena hidup memang ditegakkan dengan kemungkinan-kemungkinan semacam itu. Semacam oksimoron dalam paradoks yang ganjil dan aneka kontradiksi yang menemani konsep-konsep kehidupan di semesta raya. Dan dari segala perspektif itu, band alternative asal Yogyakarta Nona Sepatu Kaca hadir untuk mengembara di lautan bergelombang dengan melepas single terbaru mereka berjudul “Moses”. Penggubahan lagu ini sendiri terinspirasi dari cerita tentang diutusnya seorang Nabi bernama Musa kepada kaumnya yang hadir untuk memberikan perubahan besar terhadap kehidupan dan menyelamatkan pengikutnya dari kekejaman eksodus. “Moses” menjadi single pertama Nona Sepatu Kaca di tahun 2020 dalam momen bulan suci Ramadhan. Meski bukan dalam nafas lagu religi, namun lagu itu terlahir sebagai spasi dalam jeda untuk menunda asumsi dan prasangka, kemudian melihat ke kedalamanan diri masing-masing untuk kembali percaya dan berziarah dalam hikayat Nabi Musa. Karena berziarah adalah ikhtiar manusia untuk melawan lupa terhadap cinta abadi yang senantiasa berkeliling untuk merawat kita dengan kesabaran di kehidupan.

Simak! di HujanMusik! : “Trilogi Akustik Bias Ditengah Huru Hara Pandemi”

Single “Moses” adalah pembuka album penuh dari kolektif beranggotakan lima personil ini hingga kehadiran lagu tersebut seperti burung gereja yang sujud sembahyang di pelataran rumah suci sementara gaungan liriknya terbang membimbing angin dan menyalakan dupa dalam hikayat sebuah nama. Seperti dikutip dari Gabrez sang penulis lagu bahwa “Nama Musa tidak secara eksplisit ada di lirik lagu ini, secara lirik lagu ini mengambil diksi yang lebih luas, sehingga karakter yang ada di dalamnya bisa digantikan dengan siapapun yang pantas. Hanya saja secara pembuatannya memang terinspirasi dari cerita Musa”.

Meski tidak diceritakan dalam dongeng mendetail, namun lagu ini ingin mengungkapkan filosofi tentang kehidupan yang tidak disandarkan pada kesepakatan terhadap permasalahan, tetapi kebijaksanaan untuk menerima dan memahami bahwa hidup tidak selalu baik-baik saja. Dan dengan bersama-sama menghadapi hidup dengan ketegaran, keteguhan dan perjuangan membuat kita baik-baik saja seperti ketangguhan Nabi Musa dalam menaklukkan angkuh dunia. Sehingga obyek agung itu dapat membuat kita merasa kecil agar kita tidak menjadi sombong di hadapan manusia yang lain.

Dimanapun sebenarnya tidak ada manusia yang kuat, yang ada hanyalah mereka yang berpura-pura kuat. Kita memang tidak bisa menyelesaikan semua masalah, namun berdoa adala cara kita meminta bantuan Tuhan karena doa adalah cahaya bagi ketidak-mengertian kita. Seperti Nabi Musa yang berdoa dan memohon hingga terbelahnya lautan sebagai jawaban doa. Sebab Tuhan maha tahu yang paling baik bagi kita sementara kita hanya bisa mengira-ngira. Jika semuanya baik-baik saja, maka beristirahatlah sejenak kemudian lihatlah sampai segala urusan kembali pada takdir utamanya. Jika saat itu tiba, kembalilah bekerja dan berdoa. Kapan pun kita merasa bawah kita bisa hidup dengan masalah, jangan khawatir karena kita akan selalu bisa menyelesaikannya. Lakukan semuanya dengan seimbang dan tidak berlebihan, tetaplah berdiri dalam harapan, dan tetaplah tenang dalam kesabaran. Semoga kekebalan tumbuh tanpa hilang kepekaan.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *