Skizoprenia dalam Labirin Logika Mirror

Skizoprenia dalam Labirin Logika Mirror

Artikel : Rizza Hujan

[HujanMusik!], Bogor – Labirin merupakan sebuah sistem jalur yang rumit, berliku-liku, serta memiliki banyak jalan buntu. Labirin bisa menjadi permainan di atas kertas, tetapi dapat juga dibuat dengan skala besar dengan menggunakan tanaman yang cukup besar untuk dilewati dapat juga dengan tembok ataupun pintu-pintu. Sementara logika adalah hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Jika kedua kata itu digabungkan maka bisa diartikan sebagai hal rumit yang berkecamuk dalam pikiran. Jika dikaitkan dengan keadaan seorang manusia maka kondisi tersebut bisa berbentuk stres atau penyakit mental seperti Skizoprenia. Pemaknaan labirin logika di atas memiliki ruh yang sama dengan musik yang dimainkan band progressive metal, Mirror. Rumit dan melaju dengan kecepatan tinggi. Di sisi lain, “Labirin Logika” mereka jadikan judul single terbarunya yang dirilis beberapa waktu lalu.

Melalui “Labirin Logika”, Mirror mencoba mengangkat tema konflik intrapersonal seorang individu, baik itu secara kognitif dan kejiwaan. Mirror mengajak para pendengarnya untuk segera mungkin mendeteksi gejala depresi yang biasanya tidak tampak pada permukaan kehidupan seseorang. “Labirin Logika” juga merupakan sekuel kampanye Mirror setelah single pertama yang bertajuk “Segera” tentang mendeteksi gejala depresi. Sebuah tema besar yang memang jadi perhatian beberapa pihak belakangan ini.

Simak! di HujanMusik! : “Sinisme Jabogar pada “Rocker Palsu””

“Penderita skizofrenia biasanya mengalami kesulitan membedakan realita dengan halusinasi dengan versi yang beragam. Sehingga penderita kerap dianggap berperilaku tidak pantas atau tidak nyambung sehingga dijauhi atau bahkan dicemooh lingkungan sosial. Besar harapan kami agar karya ini dapat membuat khalayak umum untuk lebih memerhatikan lingkungan sekitar,” ujar Mirror melalui rilis yang diterima HujanMusik!.

Lebih jauh, penabuh drum Mirror, Cito menjelaskan bahwa betapa sulitnya penderita untuk berinteraksi, selain harus menghadapi dirinya sendiri, penderita masih harus berurusan dengan reaksi sosial yang kadang tidak pantas.

“Pemahaman tersebut kurang tersosialisasi di masyarakat, sehingga perilaku perilaku tidak wajar cenderung disalahartikan sebagai kenakalan remaja atau bahkan kriminalitas belaka. Ketidaktahuan tersebut mengakibatkan penderita tidak mendapatkan penanganan dini yang dapat berakibat fatal di masa depan, yaitu membahayakan keselamatan penderita atau bahkan orang orang terdekat. Dukungan moril dan empati dari kita dapat membantu penderita agar mempunyai tempat yang lebih indah di kehidupan ini,” ungkap Cito.

Mirror sendiri berawal dari sebuah grup musik cover Dream Theater yang berdiri di pertengahan tahun 2000 di Ciomas, Bogor. Jenuh akan dunia cover-mengcover, akhirnya Mirror mengalami hiatus pada tahun 2008. Pada pertengahan tahun 2018, Donnie, pemain gitar mereka mengalami kecelakaan lalu lintas, yang tanpa sengaja menjadi wadah dari reuni kecil Mirror. Nostalgia Satu dekade itu seperti mengingatkan bahwa mereka saling melengkapi, hingga kemudian memutuskan untuk mengabadikan rasa haus berkarya dan idelaisme masa muda melalui album yang sedang dalam proses perilisan satu per satu.

Dengan Joker yang juga bernyanyi untuk Zigaz sebagai vokalis baru, energi dan kegaharan musik racikan Donnie, Adit, Adik, dan Cito makin terasa menggelora. Nama terakhir dikenal juga sebagai drummer Payung Teduh. Mendengarkan “Labirin Logika” memupuk rasa penasaran, lick dan beat seperti apalagi yang akan dimainkan para pemuda ber-skill mumpuni ini.

Kalaupun Mirror disebut sebagai duplikasi dari Dream Theater, tetap saja mereka yang terbaik yang melakukan itu. Muda, kencang, peka, dan rumit, adalah cara terbaik menggambarkan Mirror. Coba saja simak “Labirin Logika” yang sudah sudah bisa dinikmati melalui video klip yang digarap bersama produser Reyza Amanda dengan Aysa Yasmin sebagai model.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *