Ziarah Waktu Pale Skies dengan “Larung Memori”

Ziarah Waktu Pale Skies dengan “Larung Memori”

Artikel : Sekar Puspitasari

[HujanMusik!], Banten – Saya percaya bahwa membuka kenangan itu seperti membuka pintu besar yang terkunci. Satu ketika pintu itu terbuka, kita akan menyimpannya sebagai ziarah waktu. Tetapi ada kalanya mengetuk pintu berkali-kali pun bisa menjadi pekerjaan yang sia-sia. Sedangkan kenangan menjelma dupa yang wanginya merasuk kemana-mana membelai helai rindu yang bergerak bersama pagi biru muda dalam secangkir warna perak dari halimun yang bergerak perlahan di lereng-lereng perbukitan di satu pagi. Segala pundi kenangan yang tersimpan melarut bersama lapisan putih kabut bersama semburat merah matahari yang membungkus bulir embun.

Hingga di detik pertama embun itu jatuh, wangi lembab khas pagi ikut terkondensasi dalam pelepasan nafas di udara. Segala kenangan dan kehidupan saling berintegrasi dan bergerak mengikuti sistematika semesta untuk menumbuhkan harapan. Dan dengan segala kenangan yang telah tersimpan di balik pintu, Pale Skies menyematkan larungan memori itu agar siapapun yang terjaga dapat memeluk rindu dalam peristirahatan di atas pucuk hati untuk mengisi kotak ingatan tentang satu hari yang sempurna.

Simak! di HujanMusik! : ““It’s Alright”, Tanda Maaf Album Tertunda, EP Mengudara!”

Seringkali kita senang memutar waktu ke satu masa dimana ada kupu-kupu berterbangan perlahan dalam perutmu untuk mengukur rindu dengan jengkal dimana segala pahit tidak lagi menyakitkan. Seperti memutar knop pintu dan kita masuk ke dalam satu ruangan yang akrab hingga setiap perpisahan dalam kenangan itu tengah berganti wajah menjadi pagi yang tetap menghidupi sarwa dan terhela bersama sejumput cahaya.

Demi kenangan itu lah, sebuah duo pop ambient Pale Skies melepas single pertama mereka pada 15 April 2020 dalam pelukan lagu berjudul “Larung Memori” yang sebelumnya telah mereka rilis juga dalam bentuk live session melalui Soundcloud. Di antara pepohonan yang berjejal dalam cerita kilas balik, Pale Skies yang digawangi oleh Miftah Bravenda (instrument) dan Lingga Salaga sebagai pengisi suara menuturkan bahwa single “Larung Memori” ini merupakan jembatan untuk garapan mini album mereka. Di bawah naungan Gerbang Kecil Records, grup musik asal Tangerang ini mencoba menceritakan pengalaman mereka berkaitan dengan sebuah situasi perpisahan dimana segalanya sering kita keluhkan.

Di setiap kenangan yang berjejak dalam dinding waktu dimana kita menyaksikan milyaran detik menyapa untuk belajar memaknai rindu dan segala perpisahan yang rumit dalam setiap hidup di manusia menjadi latar penulisan sebuah narasi dari lagu “Larung Memori”. Setiap larik dalam lirik lagunya bergoyang rendah bersama nada dalam kecupan hujan puisi seolah tengah membungkus kerinduan yang fana akan satu masa dimana kita justru lebih merasa bahagia berada dalam rengkuhannya. Seperti halimun yang datang mengerlingkan matanya untuk melahirkan gugusan kenangan di dada, “Larung Memori” yang dikerjakan oleh Miftah Bravendra dan Lingga Salega serta dibantu pula oleh Hardi Novian dalam proses mixing dan mastering di Hexa Music, Jakarta ini seperti tengah memberitahu kita bahwa kata-kata melegakan dan menghangatkan diri menjadi penanda bahwa apa yang datang dari hati akan sampai ke hati. Hingga segala kata tidak akan kehilangan makna dan menjelma menjadi sebuah narasi untuk membangunkan mimpi-mimpi besar dari tidur panjangnya.

Mungkin benar adanya bahwa membuka kenangan adalah seperti membuka sebuah pintu dimana setiap momen ada di batas pintu kaca hingga segala rasa yang tersimpan disana seperti garis tipis gerimis. Maka semua kesedihan dan perpisahan itu telah menjadi bagian-bagian indah dalam kenangan. Hingga pada saatnya kita melepaskan masa lalu, seolah tengah membebaskan genggaman tangan dan ikut menghilang sejenak untuk mempersiapkan hati yang akan membawamu ke pintu lain dari pertemuan. Dan jika perpisahan begitu menjemukan, maka simpan saja semuanya dalam ruang kenangan berpintu yang bisa kita buka sewaktu-waktu jika kita ingin. Sementara itu, jika KawanHujan merasa begitu lemah akan kenangan perpisahan, semoga lagu dan tulisan ini kembali menguatkan dan semoga matahari menumbuhkan segala yang dipatahkan hujan.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *