Merengkuh Semadi Godless Symptoms demi Ketenangan Diri

Merengkuh Semadi Godless Symptoms demi Ketenangan Diri

Artikel Rizza Hujan

[HujanMusik!], Bandung – Dulu sekali, saya pernah membeli kaos band Dinning Out di satu Distribution Store di bilangan Ciheuleut. Alasannya sederhana yaitu karena Achie, vokalisnya, merupakan sosok perempuan berjilbab. Saat itu, perempuan, jilbab, dan musik keras adalah anomali, tidak lazim. Hal ini menjadikan band dari Bandung tersebut sebuah fenomena yang cukup menarik para penikmat musik hardcore. Sayangnya kaos yang saya beli kekecilan tapi untungnya kawan saya, Indra mengajak bertukar kaos. Saya pun mengiyakan. Kaos band yang dibeli Indra ternyata pas di badan saya, warnanya pun cocok dengan selera, hitam dengan tulisan Godless Symptoms merona merah di bagian depan. Itulah pertama kali saya mengenal band yang diklaim memainkan musik crossover metal tersebut.

Godless Symptoms dibentuk pada tahun 2003 oleh Baruz, Tommy, Wanda, dan Koca. Katanya waktu itu mereka mengeksplorasi banyak unsur mulai rock, reggae, metal, punk, hardcore, sampai death metal. Band-band seperti Anthrax, Bad Religion, Radiohead, Napalm Death, hingga Bob Marley, memberi banyak pengaruh. Pada Juni 2004, Koca mengundurkan diri karena harus konsentrasi pada kuliah. Godless Symptoms beberapa kali ganti drummer. Mereka sempat dibantu Dadang dari band Faceless dan Papay Cabe Rawit. Dadang juga yang membantu Godless Symptoms saat mereka merekam dua belas lagu di studio Workhouse. Setidaknya begitu cerita dari kumpulan literatur yang saya temukan.

Simak! di HujanMusik! : “Hembusan Hardcore Righting Wrong Siap Dengan Album Kedua”

Cerita berlanjut dengan mundurnya Dadang pada tahun 2005 dan memilih berkonsentrasi bersama Faceless. Sempat bingung mencari pengganti Dadang, Godless Symptoms akhirnya mendapatkan Goestie dari Ommerta. Tidak berselang lama, mereka kembali masuk studio dan merekam empat materi pada April 2006. Setelah menanti cukup panjang, Godless Symptoms merilis debut album pada Juli 2007. Album yang diberi tajuk “Crossover” itu dirilis dengan dengan kocek sendiri.

Selepas itu, Godless Symptoms sempat mencicipi berbagai panggung musik. Pada tahun 2014 majalah metal terbesar Metal Hammer memasukan mereka kedalam nominasi ajang penghargaan Metal Hammer Golden Gods 2014 bersanding dengan Skyharbor, From The Vastland, dan Skiltron. Dari sini mereka seperti menghilang dari radar hingga pada 8 Mei 2020 lalu mereka kembali mengeluarkan single terbaru yang berjudul “Rengkuh Semadi”. Single yang dibuat setelah hampir 2 tahun lebih band ini memutuskan untuk beristirahat selepas Tommy sang founder mundur dari band ini, dan kemudian digantikan oleh Ryan Pratama dari band Bloodsucker.

“Rengkuh Semadi” bercerita tentang perlunya manusia untuk mengistirahatkan pikiran ketika kalut, marah, dan emosi menguasai jiwa. Proses penenangan diri mungkin kata yang lebih tepat untuk digunakan. Saya mengira, lagu ini semacam refleksi Godless Symptons tentang lika-liku perjalanan mereka. Sementara dari sisi musik, mereka masih setia dengan metal lama, hal ini dicirikan oleh ketukan drum dan beberapa part bass juga melodi yang cukup panjang. Dan yang paling saya suka adalah vokal Baruz yang sedikit mengingatkan pada mendiang Ivan Scumbag dari Burgerkill dan Ijen Paper Gangster. Secara keseluruhan, “Rengkuh Semadi” jadi semacam oase dan warna berbeda di tengah keseragaman yang melanda belantara musik.

Single yang direkam di Red Studio Bandung ini dibantu oleh Ako dan Cepi pada proses rekamannya, kemudian di mix oleh Adhit Android (Helm Proyek), dan dimastering oleh Indra Severus (The Sigit & Pure Saturday). Sementara Grimloc Records Bandung membantu perilisan single ini secara digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *