Eddie Van Halen Sebagai Simbol dan Penutup Sebuah Era

Eddie Van Halen Sebagai Simbol dan Penutup Sebuah Era

Artikel : Rizza Hujan

[HujanMusik!], Bandung – Tahun 2020 bisa disebut sebagai tahun yang suram. Banyak sosok berpengaruh berpulang hampir di setiap bulannya. Di dunia seni Indonesia tak kurang dari sepuluh orang meninggal dunia dengan beragam sebab. Sebut saja Rama Aiphama, Erwin Prasetya, Andy Ayunir, Benny Likumahuwa, Papa T. Bob, Sapardi Djoko Damono, Adi Kurdi, Yopie Latul, hingga Didi Kempot yang fenomenal kembali ke haribaan. Kabar pilu juga datang bertubi-tubi dari dunia hiburan luar negeri. Pebasket Kobe Bryant, aktor Chadwick Boseman, dan mantan personil Red Hot Chili Peppers Jack Sherman meninggal dunia. Yang terbaru, seorang maestro gitar pendiri band legendaris Van Hallen menghembuskan nafas terakhir setelah berjuang melawan kanker yang dideritanya. Edward Lodewijk Van Halen meninggal pada Selasa, 6 Oktober 2020 lalu.

Kabar meninggalnya gitaris berusia 65 tahun itu menggemparkan dunia. Beragam reaksi terkejut dan ucapan belasungkawa datang dari banyak rekan seprofesi Eddie. Flea, Metallica, Mike McCready, Muse, sampai Joe Satriani ikut berduka. Satu kehilangan besar.

Simak! di HujanMusik! : “Tantra Marie Fredriksson Sebagai Manusia”

Sebagai gitaris, Eddie Van Halen terbilang lengkap dengan teknik, terobosan, dan gayanya diatas panggung yang tergolong nekat. Namanya melambung saat memperkenalkan teknik solo gitar tapping atau menekan dengan dua tangan di fret gitar, sambil memainkan arpeggio dengan cepat. Pada tahun 2012, dia terpilih dalam polling majalah Guitar World sebagai salah satu gitaris terbesar sepanjang masa.

Dikutip dari Variety, Eddie Van Halen mendirikan Van Halen dengan kakak laki-lakinya, Alex, seorang drummer. Dua bersaudara itu lalu bergabung dengan vokalis David Lee Roth dan bassis Michael Anthony di lineup rekaman pertama grup, yang lagunya meledak setelah pertunjukan bintang di klub-klub Hollywood Barat seperti Gazzarri dan Starwood.

Sementara itu, masih lekat dalam ingatan, seorang sahabat saya yang jurnalis tv nasional begitu bersemangat membagikan kabar bahwa idolanya itu lahir di Banten. Sampai mengajak napak tilas ke Rangkasbitung. Saya yakin hal ini terjadi pada setiap penggemar Van Halen di Indonesia. Dan ternyata memang kenyataannya seperti itu. Lahir di Amsterdam pada 26 Januari 1955, Eddie adalah anak dari Jan van Halen dan Eugenia van Halen. Ayahnya adalah seorang pemain klarinet, saksofon dan pinanis Belanda. Sementara ibunya keturunan Indonesia-Belanda yang lahir di Rangkasbitung, Provinsi Banten. Ayahnya ditugaskan untuk bermain musik di Indonesia. Saat itulah ayah dan ibunya bertemu dan kemudian menikah.

Saya yang jarang menyimak musik-musik rock rambut panjang tidak begitu hafal dengan rekam jejak seorang Eddie Van Halen. Meski begitu, Eko Hadi, sahabat saya tadi sering sekali memperdengarkan musik Van Halen. Dia juga gemar bercerita, hingga nama Eddie dan Alex Van Halen, Sammy Hagar, David Lee Roth, dan Michael Anthony tidak asing di telinga. Akhirnya saya pun ‘terpaksa’ mendengarkan “Eruption” yang dibawakan Van Halen di album debutnya tahun 1978 silam. “Human Being”, “Jump”, “Can’t Stop Loving You” menyusul dijejalkan Eko di telinga saya.

Eddie Van Halen adalah ikon yang bisa dibilang cepat menemukan kesuksesan, tidak hanya itu, ia juga disebut sebagai perumus gaya yang akan ditiru oleh gerombolan rocker yang satu ruang dengannya. Van Halen sendiri terbilang hebat dalam hal penjualan album. LP pertama yang bertajuk “Van Halen” misalnya, meski awalnya hanya menduduki peringkat 19 penjualan album terbanyak di Amerika Serikat, tapi pada akhirnya disertifikasi untuk penjualan 10 juta kopi. Lima album multi-platinum berikutnya semuanya mencapai 10 besar, di antaranya “1984,” dirilis pada tahun titulernya, di mana lagu “Jump” menjadi satu-satunya lagu yang berhasil menduduki posisi pertama dan lagu itu digerakkan oleh synthesizer, serta berhasil mencapai 10 juta unit lainnya. Prestasi Eddie yang lain yaitu berhasil menempati posisi kedelapan dari 100 gitaris terhebat antara Duane Allman dan Chuck Berry dalam jajak pendapat Rolling Stone tahun 2015.

Namun, sehebat apapun manusia, akan selalu menemui akhir, seperti semua yang bernyawa. Setinggi apapun ia melompat namun akhirnya harus sampai di tepi. Legenda itu pun menyerah pada takdir dengan meninggalkan kenangan dan warisan yang tidak ternilai. Perginya Eddie Van Halen adalah simbol bergantinya sebuah era, diganti dengan semangat dan kreatifitas baru yang tentu nama Eddie Van Halen akan tetap menyertai dan termaktub dalam sejarah hingga akhir waktu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *