Notasi Pilu Asian Fusion dalam Penantian Rumit Delapan Minggu Enam Hari

Notasi Pilu Asian Fusion dalam Penantian Rumit Delapan Minggu Enam Hari

Artikel : Sekar Puspitasari

| HujanMusik!, Bogor – Saya paling senang bangun pagi-pagi, karena dari pagi saya dapat puas memandangi wajah-wajah yang tengah tertidur pulas. Lalu saat mereka membuka mata, saya menjadi yang pertama kali mengucap selamat pagi. Dan cukup dengan melihat mata-mata mereka yang dengan tulus menyapa, hal itulah yang akan menjadi energi saya seharian penuh karena ada matahari terbit disitu. Dari sana pula saya menyadari bahwa hidup itu selayaknya hukum Newton bahwa “Jika suatu gaya total bekerja pada benda, maka benda akan mengalami percepatan, dimana arah percepatan sama dengan arah gaya total yang bekerja padanya. Vektor gaya total sama dengan massa benda dikalikan dengan percepatan benda”. Dapat ditarik kesimpulan bahwa hidup akan selalu menarik kita ke arah-arah yang sangat misterius, seperti retorika cinta yang mempengaruhi dinamika hidup manusia ketika menemukan seseorang dengan ‘gaya total’ yang menyebabkan percepatan degup jantung setiap kali bertemu dengannya atau sekedar melihatnya. Sebuah cinta sederhana yang mengambil cahaya tidak terduga dalam pertemuan, perpisahan, penyangkalan. Dan dalam rupa cinta itulah Asian Fusion menarik ‘gaya total’ mereka dalam semburat kehidupan sederhana dalam durasi waktu untuk mengungkapkan sepi dalam kata-kata cinta yang dipasrahkan dalam sebuah lagu berjudul “Eight Weeks, Six Days” Yang dirilis pada tanggal 7 Juni 2020 bersamaan dengan sebuah mini album.

Simak! di HujanMusik! : “Life Cicla, Artikain yang Kembali Mengemuka”

Terkadang manusia mencintai orang lain dengan alasan yang rumit. Sedangkan rindu melahirkan racun yang tengah kita racik dari kesendirian kita yang sunyi, dari kehilangan kesempatan untuk melihat senyum seseorang yang kita sayangi dan dari apa pun yang membuat kita nelangsa yang kemudian memperumit bentuk cinta itu sendiri. Dan seperti sebuah cinta yang rumit, Asian Fusion menulis segalanya dalam sebuah komposisi berjudul “Eight Weeks, Six Days”. Lagu yang bernafaskan musik math rock yang ritimis dengan second-wave emo melodis yang lebih dikenal sebagai midwest emo ini seolah menggerakan tandu-tandu hidup dalam sejumput cahaya warna-warni di langit. Tak hanya itu, nuansa ambient yang dihadirkan melalui sound twinkle dari dua gitar yang saling bersahut-sahutan pada album “Figure” itu kemudian menjadi arena tepat bagi notasi dan lirik yang hendak disampaikan oleh Asian Fusion.

Kita semua tahu bahwa hidup itu seperti berjalan tanpa cahaya dimana kita tidak pernah tahu kemana arah itu mengada. Dalam lagu “Eight Weeks, Six Days” ini begitu banyak rasa yang tersimpan disana seperti kesepian dan perjumpaan yang impulsif. Kerinduan yang menyala dalam lagu tersebut seolah jerit yang paling pilu tertoreh dalam notasinya. Lagu yang dibuat oleh Ndaru Firman (Vocal), Iqbal Febriansyah (Gitar), Rizky Marliansyah (Gitar), Rhyan Sadewo (Bass), dan Rizky Kurnia (Drum) seolah tengah menunjukan bahwa segala yang menguatkan akan membebaskan kita sebagai manusia.

Tidak semua dari kita benar-benar tersesat karena sesungguhnya kita tidak pernah sendirian dan setiap perjumpaan membuktikan bahwa kita tidak benar-benar terasing. Sedangkan segala penantian adalah buah dari cinta sederhana yang menjelma menjadi kupu-kupu bersayap gelap ungu di setiap gelap-pejam kita. Maka jika ada yang meleleh dari mata , mencair dari hati, biarkan ia membasahi semua yang kering dari diri. Karena segala cinta, pertemuan, dan penantian akan menjadi cahaya yang akan terus menuntun kita sepanjang usia. Maka delapan minggu enam hari hanyalah waktu kuantitatif yang sangat relatif, karenanya jika kita merindukan seseorang, bersujudlah. Dari setiap sujud akan menjadi doa yang menemani sepanjang perjalanan berikutnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *