Pusaran Sejarah Woodstock ‘94 Sekali Terjadi

Pusaran Sejarah Woodstock ‘94 Sekali Terjadi

Artikel : Johanes Jenito

[HujanMusik!], Bogor – Malam makin tua di bilangan Cimanggu, Kota Bogor. Tapi langit sedang tak marah. Agak berbintang malah. Cerah tak hujan. Cuaca yang kontras dengan kenangannya pada cuaca Woodstok ’94, lebih dari seperempat abad silam. Ia yang saat itu sedang ada pada pusaran sejarah.

“Baju basah. Kehujanan campur keringat. Bikin badan bau. Mengering di badan,” gerutu Sang Jurnalis

Tiap hari, pada langit yang selalu basah, pertunjukan rampung menjelang dini hari. Celakanya shuttle bus habis tepat tengah malam. Tak ada kendaraan umum yang bisa ditumpangi. Pilihannya cuma jalan kaki.

Gelap, dingin dan jalanan berbatu turun bukit jadi teman sepanjang jalan. Tiba di jalan raya yang mendatar, matahari sudah bersinar. Pagi telah datang. Jalan kaki berlanjut menuju hotel.

Sesampainya di hotel, bis transportasi bagi para jurnalis peliput sebentar lagi bergerak ke lokasi Woodstock. Tak ada waktu istirahat, cuma ganti baju kering, sambar makanan ringan di coffeshop, melompat naik ke bis dan membenamkan pantat di bangku penumpang. Bisalah tidur sejenak pada sepanjang perjalanan, sebelum bis berhenti di kaki bukit.

Rutinitas ini berlangsung sepanjang pagelaran Woodstock ’94. Berlelah-lelah demi liputan. Mengapa?

“Saya lagi ada di pusaran sejarah,” jawabnya.

Selama tiga hari, dengan posturnya yang kecil, ia tak pernah menyentuh bibir panggung. Perjuangannya adalah bertahan diantara desak-desakan ratusan ribu orang sambil melawan basah, lapar dan dingin. Menyerah tak ada dalam kamusnya karena Woodstock adalah momentum sejarah. Meliputnya tak sama dengan liputan konser di luar negeri yang acap kali didatanginya.

Pada awalnya, Sang Jurnalis merasa akan menikmati Woodstock ’94 dengan persepektif Woodstock ’69. Ternyata ia keliru.

“Event tetap besar. Kolosalnya sama. Sayang, spiritnya sudah berubah. Unsur bisnis sudah terasa. Ada sponsor,” jelasnya

Saat Woodstock ’69 tak ada sponsornya. Secara ekonomi tak berfaedah bagi Michael Lang dan teman-temannya. Kebangkrutan hampir menghampiri Michael saat ia harus merogoh kocek yang lebih dalam. Besarlah pasak daripada tiang.

Sementara Woodstock ’94 sebaliknya. Tiap penonton tak boleh menggunakan uang dollar Amerika. Mereka harus menukarkannya dengan dengan “Uang Woodstock”, yang jadi alat pembayaran sah selama pagelaran berlangsung. Setiap transaksi pembelian harus dilakukan di dalam arena. Semua merchandise dijamin keasliannya.

Sialnya mentalitas “Melayu” justru menghampiri Sang Jurnalis. Dengan alasan harga lebih miring, ia membeli merchandise di luar arena. Tak sampai lima menit setelah transaksi, panitia kemanan merampasnya. Dengan tegas panitia mengatakan bila ingin merchandise maka belilah di dalam arena.

Dengan membeli merchandise asli, berarti penonton juga turut menghormati Woodstock ’94 sebagai bagian dari sejarah musik. Nilainya akan jauh lebih tinggi seturut penghargaannya.

Panitia Woodstock ’94 juga sangat melayani permintaan para jurnalis yang meliput. Press room tersedia di backstage. Sang Jurnalis dan rekan-rekan seprofesinya bebas untuk melakukan wawancara kepada artis penampil, dengan didahului permintaan kepada panitia. Salah satu pengalamannya adalah Metallica. Panitia mendatangkan Metallica ke press room. Wawancara berlangsung ditengah panggung musik yang tetap menggempur.

Simak! di HujanMusik! : “Memori Sihir Woodstock ’94 dan Pesta Lumpur”

Michael Lang nampaknya berhasil membius tiap orang yang datang. Ia menampilkan sebagian besar artis-artis yang tengah naik daun pada masa itu juga para veteran Woodstock ’69. Mereka yang berumur mengobati rindu pada Joe Cooker, Santana, Crosby, Stills and Nash atau Aerosmith. Yang muda datang untuk surfing dan moshing buat Red Hot Chilli Peppers, Green Day atau Metallica.

Dua generasi bercampur baur di tengah lapangan. Keakraban adalah hal biasa. Mereka saling sapa, seolah-olah teman sekomplek perumahan.

Sayangnya hype Woodstock ’94 tak terlalu terdengar di negeri kita. Publik Indonesia baru tanggap paska pesta usai, saat majalah HAI menurunkan laporan atas liputan pagelaran itu dalam beberapa nomor terbitnya. Sejak itulah Woodstock menjadi buah bibir. Majalah HAI makin dipercaya publik sebagai rujukan musik yang bernas.

Salah satu warisan paling berharga dari Woodstock ’94 adalah knowledge-nya. Pagelaran itu menjadi pionir bagi beragam jambore musik yang hadir pada tahun-tahun selanjutnya.

“Liputan Woodstock ’94 adalah puncak dari karya jurnalistik saya,” ujar Sang Jurnalis penuh bangga.

Kebanggaan itu menjadi salah satu pencapaian diri sebagai bagian dari sejarah yang berulangkali dituturkan dari masa ke masa. Woodstock ’94 adalah peristiwa Einmalig, yang hanya sekali terjadi.

Benar, ia lantas memilih mundur dari majalah HAI pada 1998. Ia pindah profesi, dari jurnalis ke manager musik. PAS band jadi salah satu yang diasuhnya.

Sang Jurnalis itu adalah Denny Muhammad Ramadhan. Ia lebih populär dikenal sebagai Denny MR. Yang kala kami datang, ia tengah berteman malam..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *