Titah-Titah Lembut Imajinasi Isi Kepala Gumam dalam Single “Kelana”

Titah-Titah Lembut Imajinasi Isi Kepala Gumam dalam Single “Kelana”

Artikel : Sekar Puspitasari

[HujanMusik!], Bandung – Cuaca demi cuaca singgah dan menepi sejenak di tepi sudut rerumputan sore ini, seolah sedang menjelaskan bahwa hidup adalah keterpisahan ilusi dimana segalanya selalu dibuat dalam bentuk dua sisi koin sama, seperti dunia jasad dan roh, dunia materi dan energi, duka juga bahagia, kemudian segalanya ikut terbungkus dalam segenap rasa sederhana. Seperti bercermin keduanya menjadi satu dalam gerakan sama bernama penciptaan dimana itu berarti suatu letusan yang seringkali tidak dapat terjelaskan. Hingga ketika segalanya hampir terlupa, kita kembali diingatkan untuk berdansa bersama dalam alunan petualangan yang membura di tanah bijana untuk menikmati sisa-sisa kebahagian yang hampir habis. Dan disaat setiap langkah rasa itu hilang dalam keraguan, gumam pun datang untuk berkelana dan menyisakan jejak dari akhir hingga awal mereka melangkah yang semuanya berasal dari pusat yang sama yaitu rasa dan logika hingga sukma akan mencipta bianglala. Imajinasi kelana.

Hujan hadir di atas tanah seolah sedang menyampaikan endapan pesan Gumam yang bergemuruh di semesta hidup. Disaat yang tepat, sang “Kelana” lahir lewat pembiasan cahaya yang meleburkan molekul-molekul ke udara hingga segenap alunan folk-rock melarutkan senyawa itu lalu membentuk sekumpulan atom dari Maulana Agung (Akustik Gitar), Dinar Rizkianti (Vokal), Wahyu Winata (Bass), Rifqi Prayoga (Drum), Ghilang Prasetya (Elektrik Gitar) dan Sofyan Triyana (Flute) selayaknya menetaskan kunang-kunang menjadi lelatu ke seribu penjuru. Gugus-gugus partikel mereka menjadi katalisator terciptanya “Kelana” selayaknya wangi petrichor yang tercium berkilometer jauhnya untuk menyapa semua penikmat musik di tanah air. Alunan ritmis gitar dan flute yang saling bersahutan, drum, bass, melodi gitar yang selalu berbuah panjang dibalut dengan lirik vokal dan syair tentang keseharian adalah buah manis nan ranum yang liriknya mengajarkan agar tetap berjalan meski tanpa alas kaki sehingga kita bisa meneropong dunia  untuk melatih mata dan melihat ke berbagai arah juga melepas luka yang sebelumnya dijaga begitu kuat lalu bersandar sejenak pada ilalang.

Simak di HujanMusik! : Kerinduan Fajar Sandy yang Tertuang dalam “Surat Untuk Mallieh”

Eksplanasi hidup yang terperangkap dalam lagu “Kelana” menggantung di selubung relung agar senantiasa mudah melepas beban dan menjumpai keheningan. Imaji itulah yang tertangkap dari single yang digarap di Arten Audio Work Studio untuk kemudian secara resmi dirilis diberbagai kanal digital pada bulan Juli 2020  dan merupakan sumbangsih pertama dari Gumam untuk dunia musik tanah air.  Interpretasi kehidupan ala Gumam pada “Kelana” tersebut dapat kita temukan begitu jelas di alunan musiknya yang bisa kita dengarkan di pemutar digital dan Spotify adalah salah satunya. Hingga  selagi kita mencapai notasi terakhir dari lagunya, kelindan rindu untuk satu masa yang telah terlewati itu ikut bertumbuh.

 

Gumam

Kiranya begitulah representasi dari penggubahan tembang “Kelana” ini. Segalanya selalu bersumbu pada perjalanan dalam menyusuri duka. Sementara beberapa luka akan menyisakan tanda bahwa sebuah peristiwa pernah ada. Sesungguhnya disanalah kita mengasingkan diri dari kebisingan, mengakrabi ruang–ruang hati hingga ketika luka menggumpal menjadi sesak mengganjal leher kita yang majal, maka terimalah ia dengan pelukan hangat seolah teman lama. Setiap luka adalah akar dari kekuatan, sebab pada akhirnya selalu ada seseorang yang bersedia mengulurkan genggaman sebagai teman membaca rambu.

Barangkali memang benar bahwa waktu adalah penyembuh luka terbaik, karenanya mari mengegah kemudian mengembara ke alam kesadaran tanpa perlu tahu apa yang dijanjikan tawa, tangis dan segala karya yang tercipta. Karena kekuatan Gumam dalam “Kelana” adalah ruang yang memungkinkan untuk membentuk semesta pengalaman seseorang. Dan jika kita beruntung, kita mampu mengintip secercah-dua cercah indahnya kebenaran tanpa kacamata.

 

.

One thought on “Titah-Titah Lembut Imajinasi Isi Kepala Gumam dalam Single “Kelana”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *