Sapardi yang Baka di Bulan Juli

Sapardi yang Baka di Bulan Juli

Artikel : Sekar Puspitasari

[HujanMusik!], Jakarta – Kita adalah sebuah kapas dalam kain yang dihembuskan nyawa untuk menghidupi jasad kita serta menyalakan panas dalam api yang akan redup disaat yang tepat. Dari setiap ritmik jantung akan menemukan heningnya dan sebuah cahaya misterius dalam terang dan gelapnya hidup menyapa kita di muka pintu agar kita segera kembali. Sementara sebuah jendela terbuka lebar menyusupkan suara nyanyian tentang sebuah penutup yang baik untuk menyudahi labirin hidup dari Sapardi Djoko Damono di rintik hujan bulan juni.

Mengingat Sapardi Djoko Damono selayaknya mengingat seseorang yang begitu dekat seperti angin dan arahnya. Terlalu dekat hingga kenangan-kenangan besar tentang beliau selalu menjadi cerita seru untuk bisa saya kisahkan. Kenangan-kenangan itu saat ini menjulur keluar seperti mimpi seolah saya sedang menyesapnya kembali di tahun 2010 dimana saya berada di sebuah toko buku kecil terpencil dari sesaknya Kota Bogor, memilah buku di sela-sela kayu rotan dan tangan saya terhenti pada sebuah buku berjudul Hujan Bulan Juni. Tidak seorang pun yang tidak merasa kehilangan atas kepergian beliau karena setiap orang memiliki romantisme pribadi milik mereka sendiri. Terbukti bahwa hampir di semua lini masa setiap khalayak menyampaikan pesan-pesan belasungkawa, mulai dari para pujangga hingga penikmat sastra biasa.

Eyang Sapardi atau SDD begitu panggilannya, dikenal melalui berbagai puisinya mengenai hal-hal sederhana namun begitu penuh akan makna kehidupan, sehingga beberapa di antaranya sangat populer, baik di kalangan sastrawan maupun khalayak umum. Sudah sejak duduk di bangku SMA, ia sudah tekun membuat puisi. Salah satu sajaknya yang ia tulis sewaktu umur 17 tahun sudah dijadikan sajak wajib dalam pertemuan Kesenian Nasional Indonesia sampai tiga kali. Dalam dunia teater, Sapardi pernah menjadi sutradara menggarap sebuah pentas drama Petang di Taman karya Iwan Simatupang. Ia juga pernah berperan sebagai lakon ketika tergabung dengan Teater Rendra pimpinan W.S. Rendra. Pernah pula Sapardi menjadi gitaris ketika belajar di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. Diceritakan oleh Umar Kayam, ketika menjadi Dekan di Fakultas Sastra UI, Sapardi kerap membawa gitar di kantornya. Dari sekian banyak kemampuan Sapardi dalam bidang seni, ia lebih dikenal sebagai seorang sastrawan lantaran karya-karyanya yang fenomenal.

Rintik rindu mengular menjadi hilir-hilir sungai yang mengalir sampai ke pantai dalam jejak-jejak kaki karya Sapardi yang tidak akan pernah tersembunyi lagi. Seperti “Hujan Bulan Juni”, “Pada Suatu Hari Nanti”, “Hutan Kelabu Dalam Hujan” dan masih banyak lagi adalah karya yang bagi para penikmatnya telah menjadi sebuah suar dalam menyalakan diri mereka pada lampu presensi sebuah komposisi Sapardi yang abadi. Begitupun bagi beberapa musisi yang berkontribusi dalam mengenalkan karya Sapardi dalam bentuk album musikalisasi puisi-puisi beliau. Dua Ibu, AriReda, dan Amigdala adalah musisi-musisi yang dikenal meniupkan ruh larik-larik puisi sederhana dalam bentuk nyanyian dan musik hingga menjadikannya simpul-simpul kesempurnaan itu begitu mengikat serta tidak bisa dipisahkan lagi. Lalu kemudian, salah satu musikalisasi milik AriReda yaitu “Sajak Kecil Tentang Cinta” ditakhlikkan dalam sebuah album musik tema dari film “Minggu Pagi di Victoria Park” di tahun 2010. Demikian pula musikalisasi puisi “Hujan Bulan Juni” yang dibawakan oleh Dua Ibu namun kemudian ditampilkan kembali oleh AriReda, musikalisasi itu begitu dicintai seperti kita tengah mencintai lagu wajib di sekolah dimana tidak pernah meminta kemampuan apa-apa selain meminta dirinya dinyanyikan dalam cara sederhana.

“Dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya;
Dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya”

Sesungguhnya hal yang indah adalah yang tidak bisa tertatap langsung oleh mata. Selalu ada sesuatu yang misterius tetapi sangat bermakna. Karena keindahan bukanlah yang bisa kita dengar atau lihat. Namun keindahan adalah yang kita rasakan jauh sampai ke hati. Sapardi telah melihat begitu banyak keindahan dalam hidupnya dan secangkir teh manis hangat yang sempat ia minum sebelum tarikan nafasnya berhenti menuju abadi adalah penyaksi akan keindahan hidupnya hingga akhirnya penemuan jalan keluar dari labirin hidupnya telah selesai. Ia telah menemukan rumah luas, berpintu, berjendela dengan taman dan daun-daun yang tidak akan pernah gugur ketika ia mencium tanah-tanah yang basah setelah hujan di peristirahatannya yang terakhir dimana ia disemayamkan di Giri Tonjong – Bogor. Barangkali ia menyambut hidupnya yang abadi dengan dekapan hangat penuh keharuan dan kerinduan. Saya percaya bahwa apa yang ia tinggalkan membawa kehidupan baru bagi tanah-tanah yang kering hingga meski kita semua kehilangan sosoknya, namun ia selalu ada. Seperti matahari yang berani terbit dan siap untuk tenggelam. Sosoknya dan tulisannya yang sederhana mampu bebas terbang seperti burung yang mencintai langit dengan sebebas-bebasnya. Seperti kearifan hujan bulan juni yang kebaikannya terserap ke akar-akar kehidupan orang-orang disekitarnya. Semoga semua kebaikan masa hidupnya menjelma tangga menuju surga. Tidak ada yang lebih indah dari merasa bahagia menjumpai ketenangan. Maka beristirahatlah dengan tenang Eyang dan lewat larik-larik sajakmu kami tidak akan pernah sendiri..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *