“Si Lemah”, Single Penutup Omne Trium Perfectum

“Si Lemah”, Single Penutup Omne Trium Perfectum

 

Artikel : Anggitane

 

[HujanMusik!], Jakarta – Gumpalan ide kreatif tengan bergerak secara nyata dalam kepala Rayi, Asta dan Nino. Ide yang saling berpelukan, lantas mengalir secara estetik melalui berbagai karya lagu yang mereka gulirkan melalui proyek musik bertajuk “Omne Trium Perfectum; The Series”. Sebuah proyek perilisan single secara berturut dan mewakili diri masing-masing personel. Sejak dimulai pada Agustus 2019 dengan “Ain’t Gonna Give Up” yang ditulis oleh Rayi dan “Saling Merindu” oleh Asta pada Oktober 2019,  kini “Si Lemah” oleh Nino menjadi single penutup.

“Omne Trium Perfectum” yang dalam terjemahan bahasa inggrisnya “Everything that comes in threes is perfect” tak sekedar proyek eksistensi semata, ada makna tersendiri bagi RAN. Ketiganya merasa bahwa ini adalah model dialog karya, dimana masing-masing personil menulis dan memproduseri lagu yang dirilis, meski tetap saja personil lain akan turut ambil bagian.

Menutup rangkaian tiga karya RAN, kali ini Nino menunjukan flavournya melalui lagu Si Lemah. Tak hanya bertiga, Rayi Asta dan Nino juga mengajak HINDIA untuk ikut ambil bagian di dalamnya. Sosoknya yang kritis terhadap banyak issue, tajam dalam menulis lirik dan punya taste bermusik yang sangat unik dianggap sangat bisa mewakili kedalaman nyawa sekaligus menambah kekuatan dari lagu “Si Lemah”.

 

Simak di HujanMusik! : “Serenata Diskoria feat Dian Sastro Untuk Jiwa Lara”

 

Untuk musiknya sendiri dinahkodai oleh Lale dan Ilman dari Maliq & D’Essentials. Keduanya adalah kolega akrab Nino dalam penciptaan banyak lagu hits bersama Laleilmanino.

“Ini mungkin lagu dengan lirik terdalam yang pernah saya ciptakan. Mencoba lebih kenal dengan musuh terbesar saya dengan berdiam diri sejenak di depan cermin. Dalam momen tersebut saya coba membayangkan apa yang orangorang pikirkan ketika beradu tatap dengan diri mereka sendiri. Sekuat-kuatnya hati seorang manusia, pasti akan lemah ketika dituntut mengakui kekurangannya,” tulis Nino, saat menceritakan proyek musiknya kepada HujanMusik!.

Nino berusaha mengisahkan tentang musuh terbesar manusia, yaitu dirinya sendiri. “Si Lemah” yang seringkali ditutup rapat-rapat, yang sengaja disembunyikan di lapisan terdalam dari kesadaran seseorang, yang tak ingin kita perlihatkan namun seringkali mendominasi banyak keputusan. “Si Lemah” yang paling dibenci dan bahkan sulit diterima oleh dirinya sendiri. Seseorang yang bersedih karena terluka dan hampa, lalu berpura-pura bahagia hanya akan membuat dirinya seolah tampak bahagia. Larut dalam kefanaan, berusaha melawan kenyataan, dan kerap kali yang dilawan adalah perasaan serta kesadarannya sendiri.

“Lewat lagu ini kami ingin mengajak semua yang mendengar berdamai dan menemukan dirinya kembali. Self-acceptance bukan hal yang mudah, tapi apa yang kurang tentang kita mungkin saja indah di mata orang. Akan selalu ada tempat dimana keunikan kita dapat diterima. Semoga semua yang mendengar lagu ini terpanggil menemukan jati dirinya, pulang dan kembali menjadi dirinya sendiri,” lanjut Rayi.

Melalui lagu ini, RAN bersama HINDIA ingin mengingatkan, tentang pentingnya berhenti sejenak, berdamai, menghargai & menerima diri sendiri. Belajar mengurangi berpura-pura, karena sesungguhnya hal tersebut sangat melelahkan.

“Karena bagi saya mengakui kelemahan itu sama dengan kuat. Berhenti berpura-pura. Be the best version of you. Terima semua yang tuhan berikan pada kita. bukan menutupinya,” tutup Nino.

Baiklah, tampaknya memang lagu penutuo dengan makna refleksi yang dalam. Tepat digulirkan saat-saat pandemi, ketika kita menepi dan menjauhi keramaian.

….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *