Sensasi Pop Eksperimental Elektronik Dippydoo

Sensasi Pop Eksperimental Elektronik Dippydoo

 

Artikel : Anggitane

 

[HujanMusik!], Surabaya – Tak ada narasi yang merugi jika dituturkan dengan cara-cara yang baik. Terlebih cara-cara baik tersebut sudah tercetus sejak dalam niat. Esensi yang terlahir tak sekedar mitos, namun akan menguat layaknya prasasti. Dikenang karena hal-hal monumentalnya. Niat yang sama ketika Raissa membesut Dippydoo demi mencari sensasi musik eksperimentalnya secara elektronik.

Dippydoo adalah band pop Indonesia asal Surabaya yang muncul dengan sensasi electronic experimental. Unit ini memang belum lama dibentuk, namun kemunculannya dengan karya menandakan keseriusan mereka untuk menjadi bagian dari sejarah musik Indonesia kelak, paling tidak jika menilik energi muda mereka yang tersisa cukup banyak.

Dippydoo terbentuk pada tahun 2019, berawal dari Raissa, yang gemar membuat musiknya sendiri, tetapi belum menemukan lingkaran yang tepat dan paham apa yang harusnya dia lakukan selanjutnya dengan musiknya itu. Akhirnya Raissa berpikir untuk mencari partner bermusik. Setelah sekian lama, bertemulah ia dengan Bella Marsha, teman Sekolah Menengah Pertama dan Oldi Goldino. Nama terakhir ditemukannya saat beraksi secara reguler di salah satu cafe. Dippydoo kini terdiri dari Bella (vokal), Dino (gitar) dan Raissa (Keyboard). Sebagai perkenalan mereka merilis “Somebody Help Me to Fallin’ in Love”, single yang ditulis Raissa sekaligus produser pengkaryaan single band ini.

 

Simak di HujanMusik! : “Kelana Cinta EL Fierro”

 

Single debut pertama “Somebody Help Me to Fallin’ in Love” diproduksi sendiri di kamar tidur Raissa dan dirilis pada bulan April, 2020.

Dalam catatan rilis yang dikirim kepada HujanMusik!, “Somebody Help Me to Fallin’ in Love” diceritakan adalah true story tentang seseorang yang sangat lama tidak merasakan jatuh cinta apalagi dicintai, namun dalam hati kecilnya ingin sekali merasakan itu. Banyak alasan di baliknya, mungkin karena terlalu menikmati hidup, sibuk dengan rutinitas, terlalu pemilih, atau adanya perasaan tidak percaya diri sehingga soal percintaan menjadi terabaikan. Namun saat ia duduk sendiri dan melihat orang-orang disekitarnya yang memiliki bahkan dengan mudahnya berganti-ganti pasangan dalam waktu yang singkat, timbul pertanyaan dalam diri sendiri mengenai misteri percintaan dalam hidupnya, “why I single for a long long time? Even though my face isn’t too bad” menjadi salah satu point yang tertulis dalam lirik lagu ini. Overall, lagu ini diharapkan bisa menjadi anthem for lonely people.

Begitulah, kita nikmati saja karya perdana ini.

….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *