Manifesto Urutan Pertama Hathgone

Manifesto Urutan Pertama Hathgone

 

Artikel : Anggitane

 

[HujanMusik!], Bandung – Manifesto pertahanan sebuah idealism terdengar hentak menghentak. Membabat alur, menolak skenario yang disuguhkan pakem kepatutan. Berderak mengurut kemauan yang tersembul dari jiwa-jiwa merdeka. Seperti lokomotif tanpa pengendali jarak, Hathgone, trio hardcore punk asal Bandung melempar “Broken Psalm”. Sebuah Manifesto ututan pertama dari mereka.

Kekerabatan mereka baru terbentuk pada kuartal akhir tahun 2019, memilih format trio demi mematangkan konsep hardcore punk yang mereka usung. Berderak dari kota Bandung, Hathgone, resmi merilis debut single-nya pada April 2020 lalu.

Hathgone mendasarkan kekuatan musiknya bersama Ridwan Ariansyah (gitar), Dimas “Dritt” Saputra (vokal) dan Farhan Naufal (bass). Ketiganya memainkan beberapa unsur sederhana leburan dari hardcore punk, crust, sampai metal sekalipun. Hasilnya “Broken Psalm” dari Hathgone siap menggerus gendang telinga usang para pendengar.

“Untuk musik, kami tidak mau ambil pusing mematok sebagai genre ‘a’ atau ‘b’. Sebuah hal yang tidak lagi relevan untuk hari ini, ya, karena memang influens-nya datang dari segala musik yang kami dengarkan dengan berbagai selera masing-masing yang notabene bermacam-macam jenisnya. Namun, jika bicara roots, ya, boleh disederhanakan sebagai hardcore punk. Dalam segi lirikal, lagu ini bercerita tentang pergulatan pikiran dan rasa cemas. Saya banyak menulis hal yang sifatnya personal dan terjadi di lingkungan terdekat, ketimbang sesuatu yang jauh dari pelupuk mata dan belum pernah saya alami. Terlalu pretensius dan mengawang,” ujar Dimas, seperti dituliskannya untuk HujanMusik!.

Penciptaan single dubut ini memakan waktu pada proses produksinya yang cukup lama, karena dilakukan selama dua sesi dengan jarak waktu yang lumayan jauh. Direkam di Funhouse Studio oleh EDZ pada September 2019 dan Februari 2020, untuk mixing dan mastering dikerjakan di The Pandora Labs oleh Alikbal Rusyad. Serta tongkat estafet divisi artwork sampul dipercayakan secara penuh kepada Alditia Krama Yudha (Ammonia).

“Sebenarnya proses pembuatan materi, produksi, sampai post-produksi berjalan lancar-lancar saja. Bahkan, tanpa kendala yang terlalu berarti. Namun, kami lebih memilih untuk menjalani secara santai. Contohnya seperti, perlu take dua kali untuk trek drum, karena pada sesi pertama menurut kami hasilnya agak kurang memuaskan,” tambah Dimas.

Perekaman “Broken Psalm” untuk sesi track drum dibantu oleh Rully Ramdhani dari unit dark hardcore, Ametis. Single yang rilis melalui platform Soundcloud ini disiapkan sebagai amunisi menuju EP.

Semoga lancar.

….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *