Mantra Singlar yang Termaktub dalam Kitab “11.22”

Mantra Singlar yang Termaktub dalam Kitab “11.22”

 

Artikel : Rizza Hujan

 

[HujanMusik!], Bandung  – Kesenangan dan kesedihan adalah dua hal yang berjalan beriringan. Saat sedih atau kecewa biasanya ada sebuah kejutan menyenangkan menanti di tepinya, pun ketika senang ada baiknya tidak berlebihan karena rasa sedih akan setia mengintai. Seperti yang terjadi pada Sekar Vita, diantara kesedihan yang meraja akibat kehilangan dua hal yang teramat istimewa dalam rentang waktu berdekatan, tiba-tiba saja datang kabar baik dari seorang rekan dari Kota Kembang. Katanya proyek musik yang selama ini ia terlibat didalamnya resmi rilis dan sudah disebarluaskan secara digital. Proyek itu bernama SINGLAR.

Berdiri di Bandung pada tanggal 18 Agustus 2018, Singlar melalui proses panjang untuk melahirkan mini album “11.22”. Bermula dari pencarian personil hingga pembuatan lagu yang terkendala oleh jarak, belum lagi serangan pandemi yang sempat menghambat semua proses. Hingga sang inisiator berhasil merangkul mereka yang akhirnya didapuk sebagai personil tetap Singlar. Mereka adalah Ujang Gobed (Gitar 1), Deden Rantang (Gitar 2), Asep Kepang (Perkusi), Atang Posyandu (Kecapi), Maman Cangkeng (Suling), Emen Kabel (Engineer), dan Esih Pikok (Vokal). Nama-nama yang menggelitik dan saya yakin KawanHujan tahu kalau itu bukan nama sebenarnya. Mereka sengaja bersembunyi karena katanya malu. Tapi saya bisa yakinkan mereka bukanlah orang lama yang bersemi kembali. Ketujuh personil Singlar berasal dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), rincinya lima orang lulusan Seni Musik, satu orang masih aktif kuliah, dan satu lagi jebolan Seni Rupa.

Singlar yang masih kebingungan dengan genre yang dibawakannya adalah sebuah kolektif yang berakar budaya dan kesenian tradisional, khususnya Sunda. “Salah besar kalau menganggap Singlar memadukan musik tradisi dan moderen. Singlar murni memainkan musik tradisi, hanya saja Singlar tidak mengkarawitisir.” Jelas Ujang Gobed sang motor.

 

Simak di HujanMusik! : “Amalgama Menolak “Buta” Pada Single Kedua”

 

Saat disinggung mengenai gitar yang menurut pemahaman saya adalah alat musik moderen, Ujang menjawab, “Gitar yang kita pakai gitar nylon dan gitar adalah alat tradisi khas orang orang latin dulu. Sekalipun gitar steel tetap saja kita menggunakan alat musik tradisional, meski bukan asli Sunda.” Lanjutnya.

Malam yang biasanya ramai tiba-tiba senyap seakan mempersilahkan saya untuk meresapi kesakralan karya-karya Singlar. Petikan gitar dan kecapi saling bersahutan mendamaikan pendengaran dan hati yang belakangan terus digempur peristiwa kurang menyenangkan. Sesekali, tiupan suling Maman Cangkeng menyusup guna membelai jiwa yang resah. Diatas semua itu, Esih Pikok ‘ngahaleuang’ membaca mantra yang menawarkan imaji kemisteriusan. Jangan tertipu oleh nama, Esih merupakan seorang penyanyi yang mendalami musik klasik Eropa. Bisa disimak dari tarikan nafasnya, karakter vokalnya yang kuat, atau dari lengkingannya yang menurut Ujang bisa melewati lima oktaf.

Saya tidak percaya dengan istilah kebetulan karena semua kejadian sudah digariskan dalam sebuah buku besar. Pun ketika Vita diminta menulis oleh seorang yang kami kagumi untuk keperluan Singlar. Memiliki arti pengusir, pengurai, atau doa, Singlar jadi manifestasi harapan Vita yang ingin memliki karya dan semangat Singlar memang ada dalam jiwanya. Singlar tidak sekadar menawarkan komposisi musik ciamik tapi mereka sebenarnya bercerita melalui mantra-mantra yang termaktub dalam setiap lagu. Dengarkan lalu simak baik-baik mantra-mantra itu. “Lunar” yang ditulis oleh Darmanshoor, seorang travel blogger dari Malaysia, juga “Halimun” dan “Tantra” yang terlahir dari pemikiran seorang Vita merupakan cerita yang mengandung makna dalam. Untuk menyempurnakan semua mantra, Ujang Gobed mengaransemen dengan syahdu semua musik Singlar dan kemudian dilengkapi oleh masing-masing personel. Waktu lama yang diperlukan hingga keluarnya mini album “11.22” tidak terbuang percuma karena mereka mempersiapkan segala sesuatunya secara detil.

“11.22” dirilis secara digital dan bisa diunduh secara gratis melalui tautan https://linktr.ee/SinglarMusic. Bentuk fisik juga dibuat tapi tidak diperjualbelikan, hanya sebagai rasa hormat Singlar pada pihak-pihak yang berandil besar pada Singlar. Tapi saya harap nantinya akan dibuat juga untuk umum hingga doa yang dilafalkan bisa tersebar dan terdengar oleh banyak orang.

“Singlar itu obsesi buat kita. Dengan rilisnya mini album ini kami cukup puas, tapi nggak sangat. Dan semoga Singlar jadi warisan buat anak-anak kami nanti biar mereka bisa punya kebanggaan atas apa orang tuanya turunkan.” Tutup Ujang seraya tersenyum seolah memberi sinyal bahwa Singlar punya ambisi dan rencana besar di masa depan. Kita tunggu saja…..

One thought on “Mantra Singlar yang Termaktub dalam Kitab “11.22”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *