Kersik Akustik Diserojakan

Kersik Akustik Diserojakan

 

Artikel : Fahriza Nugraha

 

[HujanMusik!], Bogor – Saya dengan atas nama Diserojakan, membayangkan diri tengah berada di atas jembatan yang dahulunya digunakan sebagai pelintasan kereta api. Dari atas sini bintang tak tampak hanya dari langit melainkan berserakan pula di bawah. Dan saya lambat laun jadi melihat luasnya ‘kita’ yang terus didesak untuk menanggap diri sebagai pemilik bakat. Dan inisiatif kita sendiri betapa kita diperintah untuk bersaing dan beradaptasi; selalu; berputar; begitu seterusnya. O, penyerbuan kersik kehidupan andai tombol turn off dapat ditekan. Namun, bayangan saya tadi mendadak mogok ketika Aldian Sobari rekan saya yang di awal tampak sibuk pada layar komputer jinjing itu mengambil gitar akustik dan menyodorkannya kepada saya. Sontak saya bingung apa maksudnya itu.

“Mainkan saja lagu-lagumu itu. Kita coba rekam pakai kamera.” pungkasnya santai.

“Di masa pandemi ini kita harus tetap produktif!” lanjutnya sembari membedah ransel kamera.

Tidak ada suara yang rembes dari mulut saya, walau sebetulnya saya menyimpan sanggahan, “Memangnya ada masalah bilamana tidak produktif di masa karantina diri seperti ini? Bukankah bermalas-malasan laksana seekor kucing lebih nikmat bila dibanding dengan keproduktifan semu di ruang maya?” namun akhirnya saya memilih untuk manut saja dan mencoba mengingat-ingat satu lagu yang pernah saya tulis di penghujung akhir tahun lalu.

Kemudian saya nyanyikan lagu tersebut dengan bantuan mikrofon berecho cukup kental ala penyanyi Smule milik kekasih Aldian. Dan ternyata kelakuan itu mengundang tawa jadi berhamburan. Aldian tertarik untuk merekam lagu bertajuk Macan, Zebra, dan Kupu-kupu yang baru saja saya bawakan itu. Begitupun dengan saya.

 

Simak di HujanMusik! : “Menakluk Rebah Rinjani Reza”

 

Tanpa mempertimbangkan ini dan itu, di sudut dapur kontrakan pada waktu sore yang masih dalam suasana lebaran sekaligus masih dalam masa karantina diri akhirnya lagu Macan, Zebra, dan Kupu-kupu terekam dengan satu kali pengambilan gambar.

Lagu Macan, Zebra, dan Kupu-kupu punya kesan tersendiri bagi saya. Iya, sebelum adanya pandemi yang membuat kita tidak bisa pergi ke mana-mana selain berjaga diri di rumah, sebetulnya saya tengah belajar berproses kreatif dalam menggarap sebuah album musik. Sedikitnya ada 11 materi yang harus saya rekam. Namun karena adanya halangan jadi saya congkongkan saja dulu target tersebut di atas bantal. Dan dari 11 materi yang sudah masuk daftar, lagu Macan, Zebra, dan Kupu-kupu itu tidak hadir di sana. Yang saya katakan miliki kesan tersendiri bagi saya karena lagu tersebut adalah adaptasi atau semacam respons dari curahan hati rekan saya, Odon BK namanya. Saya juga kaget saat pria berperawakan sedikit mirip tukang pukul itu menaruh kepercayaan kepada saya untuk mendengarkan curahan hatinya sekaligus menantang curahan hati tersebut bermutasi menjadi sebuah karya.

Dari judul yang saya pilih dalam lagu itu sebetulnya tidak miliki filosofi yang kental. Saya seenak mulut saja mengambil ketiga nama hewan tersebut yang kebetulan tengah mondar-mandir di pikiran saya. Dan untuk lirik lagu yang saya tulis pun tidak menyita banyak waktu. Sekiranya hanya tiga puluh menit setelah saya berhasil memasukan mie instan ke dalam perut. Dan singkat cerita, secara garis besar lagu Macan, Zebra, dan Kupu-kupu menceritakan kondisi perasaan manusia di abad 21 yang tengah dalam pergulatan baik hati maupun kehidupan. Namun itu hanya sedikit pandangan atau lebih tepatnya pembuka dari saya terkait lagu yang saya tulis. Dan bilamana ada yang menangkap pemaknaan lain dari lagu tersebut jelas saya mafhumkan dengan sangat.

Itu pun bila ada yang tertarik menyimaknya – – dengan cukup menulis “Macan Zebra dan Kupu-kupu” pada mesin pencari Youtube.

….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *