Hantu Huru Hara : Harmoni Musik, Intuisi dan Fitrah Manusia

Hantu Huru Hara : Harmoni Musik, Intuisi dan Fitrah Manusia

 

Artikel : Ridho Rakhman

 

[HujanMusik!], Bogor – Layaknya kondisi pandemi saat ini, aktivitas dirumah dengan rutinitas diluar kebiasaan WFH (Work From Home) yang sudah terlalu lama, bahkan diperpanjang entah berapa lama membuat adanya desakan atau distruption membuat kita ingin mencipta, apalagi kebiasaan orang tersebut selalu dekat dengan musik dan nada-nada. Agar tidak mudah bosan, bagaimana caranya membuat suasana hati gembira, berbagai cara dilakukan, terkadang kita terbesit mengingat nada-nada dengan (Humming) bersenandung bisa dengan mulut tertutup atau dengan siulan, bisa mengingat lagu orang lain atau membuat nada sendiri. Pun halnya dengan Hantu Huru Hara, memilih cara elektronik.

Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tharkan al-Faraby, filsuf terkemuka mendefinisikan musik dalam bukunya Kitab al – Musiqa al- Kabir menegaskan bahwa musik adalah seni yang sejak awal ada dalam intuisi dan fitrah manusia. Instrumen musik bisa berbicara dan berkata-kata, kira-kira visual apa yang akan hadir dibenak anda dan menggambarkan apa isi cerita yang terkandung dalam sebuah lagu tersebut.

Seperti halnya yang dilakukan Hantu Huru Hara, sebuah proyek musik ska elektronik yang diinisiasi SCUB (synthesizer, MIDI keyboard) yang dirilis Jejak Tikus Records, Label independen lokal khusus unit Jamaican sound di Bogor ini, membuat EP berisi 4 track dan dirilis secara digital oleh Jejak Tikus Records. Sengaja dirilis dalam keadaan pandemi Covid-19 demi memberikan alternatif tema audio selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan.

 

Simak di HujanMusik! : “Terra Firma The Partikelir dalam Klip Kolaborasi “Never Give Up””

 

Terlahir dari gumpalan kerumitan gegara pandemi Covid-19, Hantu HuruHara! menyalurkan kosep dasar musiknya pada Jamaican Sound. Mereka memilih bermain-main dengan gaya Horor Ska layaknya “Ghost Town” The Specials maupun “Night Boat to Cairo” Madness versi elektronik. Selebihnya menderu pelan bersama “Clint Eastwood” Gorilaz, meski sebagian pengusungnya mendengarkan Avicii, The Prodigy, The Independents, Madness, Sublime, Schoolyard Heroes, Idles bahkan The Jolly Boys dan Rancid.

 

Proyek yang bermula dari materi demo yang dipoles menjadi musik ska intrumental dan mengajak koleganya CULT untuk membangun sebuah karakter. Para pendengar bisa membayangkan, berimajinansi seperti di lagunya “Berantah”. Instrumen yang divisualisasikan dalam bentuk video musik yang digambarkan Hantu Huru Hara yaitu perjuangan makhluk hutan (Orang Utan) yang sulit menemukan rumah dan habitatnya. Kerusakan yang diakibatkan makhluk lain mematikan harkat dan kebebasannya sebagai orang utan.

Hantu huru hara ingin memberi pesan, mengangkat fenomena dan memberitahu khalayak bahwa musik tidak hanya kesatuan utuh dengan lirik. Musik instrumen juga bisa mewakili perasaan manusia seperti fitrah dan intuisi manusia. Mungkin setelah mendengar 4 track tersebut kita sebagai pendengar akan menstimulasi, kira-kira cerita apa yang akan terlontar dari mulut kita secara harfiah dan menyebutnya sebagai bait lirik. Hal ini yang dapat menyambungkan lidah intuisi para penggemar musik yang dapat dijadikan bahan kolaborasi dimasa Pandemi Covid 19 ini. Semoga Karya ini dapat cepat meluas, membuat para penikmatnya ingin berkontribusi dan bermanfaat untuk berkarya.

 

 

 ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *