Terima Kasih Lord Didi! Saya Ambyar

Terima Kasih Lord Didi! Saya Ambyar

 

Artikel : Johanes Jenito

 

[HujanMusik!], Bogor – Seperti halnya awal karier musisi cum pegiat kemanusiaan (Alm) Glenn Fredly, (Alm) Didi Kempot pun tak pernah menjangkiti perhatian saya di era awal kemunculannya. Playlist MP3 saya jauh dari lagu-lagunya. Tak ada “Cidro” (1989), “Layang Kangen (1996), “Stasiun Balapan” (1999), “Kalung Emas (2013) pun “Suket Teki” (2016). Didi adalah penyanyi Pop Jawa Campursari dengan referensi musik yang jauh dari selera saya.

Sialnya. ketidaktertarikan itu berubah gara-gara Gofar Hilman. Pria bertato disekujur lengannya yang tenar sebagai penyiar radio HardRock FM Jakarta ini tiba-tiba mengunggah sosok Didi lewat laman YouTube miliknya pada 21 Juli 2019. Unggahan itu isinya adalah obrolan santai Gofar-Didi. Gofar bertanya, Didi menjawab dengan kelucuan Jawa khas Solo di sana-sini

Secara resmi judul unggahan itu adalah “#Ngobam Didi Kempot – #Ngobam Offair Pertama!” Dalam laman tersebut Gofar menulis alasannya mengunggah Didi. Diawali dengan tanya “Mengapa tiba-tiba ada militan Didi Kempot yang notabene anak-anak muda?” Gofar akhirnya menyimpulkan bahwa Didi adalah sebuah kultur dan aset budaya terutama di Jawa. Saat anak-anak muda pendengar punkrock dilanda patah hati, mereka akan bersenandung lagu “Cidro”.

#Ngobam menuai sukses secara offline dan online. Selama hampir dua jam, sekitar 1500-an orang tumpah ruah di Gulo Klopo Cafe Solo yang menjadi lokasi acara. Jutaan orang lainnya telah meng-klik laman YouTube-nya. Saya adalah salah satunya.

 

Simak di HujanMusik! : “Ode untuk Glenn

 

Rasanya sejak unggahan Gofar, Didi makin meroket. Lebih tepatnya kembali meroket.

Dua dekade sebelumnya jalan rezeki Didi menapaki arus utama penggemar lagu-lagu Pop Jawa Campursari, belum masuk pada kalangan milenial lintas kultur.

Diawali dengan jerih payahnya sebagai pengamen bermodal ukulele dan kendhang di seputaran Solo pada 1984-1986, Didi memberanikan diri hijrah ke Jakarta dengan modal nekad di tahun 1987. Dua tahun berkubang di sudut-sudut ibukota bersama komunitas Kempot (Kelompok Penyanyi Trotoar), Didi akhirnya berhasil merekam album pertamanya. Hits andalannya adalah lagu “Cidro” yang sepenuhnya berlirik bahasa Jawa.

“Cidro” membuat Didi bisa terbang ke Suriname di belahan bumi latin Amerika pada 1993. Negeri tersebut banyak dihuni keturunan Jawa. Lagu-lagu Didi merajai di sana, hingga kini.

Tak kurang sudah sekitar 12 kali ia bolak-balik menggelar konser di Suriname. Tiap kali datang jajaran menteri bahkan Sang Presiden negeri itu selalu menyambutnya, akunya dalam salah satu sesi #Ngobam.

Tiba-tiba kaum milenial lintas kultur menyukainya sejak 2-3 tahun silam. Apa pasal? Karena lagu patah hati bertalian erat dengan kultur anak muda masa kini. Pacaran dan dinamikanya adalah keumuman bagi sebagian besar mereka. Tak jarang putus cinta pun melanda. Bila itu terjadi, dunia seakan oleng dan butuh obat untuk meredakannya. Mereka menemukannya di lagu-lagu Didi.

Sebutlah contoh lagu “Cidro” yang rilis 30 tahun lalu. Spektrum penggemar baru Didi yang tergolong kaum muda milenial rata-rata belum lahir atau masih terlalu bayi saat Musica Studio merekam dan mengedarkannya tahun 1989.

“Patah hati itu booiming-nya cepat”, jelas Didi dalam #Ngobam

Selain lagu dan lirik, jangkauan Didi pada milenial juga dipengaruhi oleh penyebaran sosial media. Penggemar mudanya berkelompok. Mereka mengidentifikasi diri dalam komunitas Sobat Ambyar dan menjuluki diri sebagai Sadbois (laki-laki) dan Sadgirls (perempuan). Lalu beramai-ramai pula mereka menobatkan Didi sebagai The Godfather of Broken Heart. Kadangkala, mereka pun sebut Didi sebagai “Lord” ataupun “Pakdhe”

Antusiasme massa Sobat Ambyar telah saya saksikan sendiri pada Jumat malam 4 Oktober 2019 yang lalu. Ini adalah perjumpaan pertama saya dengannya

Hari itu Didi adalah headliner malam pertama gelaran Synchronize Festival 2019 di bilangan Kemayoran, Jakarta. Ribuan orang memadati lapangan di depan panggung utama. Didi naik ke panggung sekitar pukul 23.30. Selama hampir 90 menit penampilannya, crowds tak henti-hentinya bergoyang mengikuti irama lagu dan kadangkala membentuk koor nyanyian pada lirik-lirik lagu yang mereka akrabi. Mereka menjogeti lagu-lagu patah hati.

Rasanya baru kali itulah Didi tampil di festival musik indie. Festival jenis ini biasanya digemari oleh kaum muda berpenampilan edgy. Yang perempuan berdandan cantik. Yang lelaki berpenampilan masa kini,

Perjumpaan saya yang kedua adalah panggung Didi dalam Ngayogjazz Festival di pinggir Desa Kwagon, Godean, Yogyakarta pada Sabtu 16 November 2019. Lagi-lagi ia dipasang sebagai headliner. Jadwal penampilannya sekitar pukul 23.00.

Karena Ngayogjazz Festival gratis bagi penonton, lapangan panggung Didi penuh sesak dengan ribuan manusia dari semua kalangan. Tua-muda, laki-perempuan berkerumun dari depan panggung hingga petak-petak sawah dan kebun warga desa. Tak sedikit pula yang menonton dari atap-atap rumah.

Sejak saat itu saya makin sering menjumpai Didi lewat Spotify dan kanal-kanal laman YouTube, hingga tadi pagi media massa memberitakan kepergiannya. Ia adalah legenda.

Jika lagu-lagunya bertumpahan ada seputar kesedihan, maka kabar berpulangnya sang legenda adalah ratapan. Pun untuk saya yang ambyar belum pada saatnya.

Terima kasih Lord Didi!….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *