Pohon Experimental Perdana Ash-Shur

Pohon Experimental Perdana Ash-Shur

 

Artikel : Anggitane

 

[HujanMusik!], Bandung  – Dayu mendayu menggapai pendengaran, mengajak menyimak lebih dalam tentang petualangan nada experimental. Bebunyian tak biasa yang secara samar seperti menarik ingatan tahunan silam, masa-masa barisan musik bebas berkembang pesat di negara barat, masa ketika tahun 1960-1970an akhir menjadi standar kebebasan berekspresi anak muda dunia.

Masa itu dunia pernah kagum dengan bebunyian eksperimental rock. Sebuah gaya permainan rock yang melompat dari batas-batas komposisi umum dan bereksperimen dengan unsur dasar dari musik rock itu sendiri. Disana saya melihatnya sebagai upaya membebaskan diri dari belenggu kontra inovasi, memilih karakteristik genre yang berbeda dengan pertunjukan penuh improvisasi, pengaruh avant-garde yang kuat, instrumentasi aneh, lirik buram dan cenderung instrumental, hingga struktur dan ritme yang tak ortodoks. Seringkali bebunyian mereka diidentikkan sebagai penolakan mendasar terhadap aspek komersial.

Kini dalam zaman yang berbeda, Ingatan itu ditorehkan oleh unit eksploratif yang menamai diri mereka Ash-Shur. Mereka mengucur dengan sematan musik yang mereka klaim sebagai experimental gypsy rock band.

 

Simak di HujanMusik! : “Jalan Musik dan Sosial The Highway

 

Adalah Andi William (gitar/vokal), Galih Dwi Rizki (gitar), Daniel Pratama (bass), dan Gifran Aria (drums). Kuartet asal Bandung yang berdiri pada tahun 2016 ini mencoba meramaikan musik independen dengan caranya. Bergaung dengan merilis single perdananya yang bertajuk “I See The Tree” pada tanggal 20 Maret 2020 lalu.

Saya tak paham alasan mereka memilih nama Ash-Shur yang berarti Sangkakala dalam bahasa Arab. Selain dipilih sebagai nama band karena mudah didengar dan dirasa cocok dengan situasi terkini yang digadang-gadang menuju tanda akhir zaman.

“I See The Tree” lahir setelah proses rekaman sejak tahun 2017. Proses panjang yang sempat tertunda karena kesibukan duniawi dan masalah hidup yang menerpa para personil, Ash-Shur. Momentum yang kemudian mereka manfaatkan untuk menmyempurnakan penggarapan single hingga akhirnya final untuk dirilis.

“Tidak ada tema yg terlalu mendalam sih, cuman mengcapture pemikiran dan perasaan yg dituangkan pada sebuah nada, kebetulan saja yang ada dipikiran tentang kehidupan,” jelas para personil Ash-Shur dalam rilis medianya kepada HujanMusik!.

Cerita bagaimana mereka memahami kehidupan dalam pemikiran yg abstrak, searching for meaning or something.

“Intinya ada pengharapan dalam sebuah kehidupan, harapan seperti pohon yang tegak berdiri,” tambah pihak band.

Menelusuri musik yang dibunyikan Ash-Shur dengan seksama, saya semacam didongengkan aura ketakutan namun nikmat pada saat yang bersamaan. Pilihan soundnya yang sengaja merengkuh vintage mampu membawa kita kembali ke masa jaya musik gypsy rock era 70an. Paling tidak, menurut daya ingat amatir saya, ada semacam salinan lokal setelah menyimak musik Frank Zappa dan Velvet Underground. Musik yang kebebasan rock yang tak harus se-Psychedelic The Doors.

Single debut “I See The Tree” karya Ash-Shur dapat didengarkan di berbagai Digital Streaming Platform.

….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *