Langit Antartick Membiru Kelabu dengan Karya Baru

Langit Antartick Membiru Kelabu dengan Karya Baru

 

Artikel : Rizza Hujan

 

[HujanMusik!], Bogor  – Setiap ditanya warna apa yang jadi kesukaan maka dengan gaya dan sedikit sombong seraya memukul pelan bagian dada sebelah kiri saya jawab “Hitam selalu di hati”. Tapi kemudian seseorang yang dekat dengan saya mengomentari jawaban tersebut dengan jernih dan tenang. Ringkasnya dia bilang pengakuan itu belum tentu sesuai karena harus dilihat dari beberapa aspek psikologis, salah satunya kebiasaan terutama yang sering dilakukan tanpa sadar. Membeli barang-barang dengan warna yang sama misalnya. Saya langsung terhenyak karena ternyata dari sepatu, jaket, tas, hingga gelang, dan barang lain kepunyaan saya didominasi warna biru. Arogansi kehitaman itu luruh seketika, tertutupi biru dengan secerca titik kelabu diantaranya.

Ingatan tersebut menyeruak kembali ke permukaan setelah seorang perempuan muda atraktif yang kebetulan tetangga jauh saya, Helvi, dengan tengilnya mengirimkan karya terbaru dari band-nya bersama Anang dan Joe yang berjudul “Biru Kelabu”. Iya, Antartick merilis single lagi. Kadang saya geleng-geleng kepala dengan produktivitas kelompok yang kini memiliki drummer tetap bernama Sandy Adityar ini. Tidak cuma rajin berkarya tapi racikan mereka hampir selalu berkualitas. Easy listening namun berkelas dan kadang terdengar sederhana tapi bernilai bintang lima. Berlebihan? Terserah saya karena ini pernyataan polos nan tulus dari seorang penggemar. Iya, saya ‘Fantartick’ (fans Antartick, – red). Dan jangan lupa, mereka jago dalam memberi kejutan karena setelah Noh Saleh dan Melanie Subono mereka seret ke dapur rekaman hingga menumpahkan “Hujan” untuk kemudian berpacu dalam “Mobil Butut”, Didiet Violin pun tak kuasa menolak sihir Antartick guna menggesekkan biolanya hingga menambah kepiluan “Biru Kelabu”. Kecurigaan saya mengerucut pada Anang dan sosok Yulia Dian berperan besar dalam hal ini.

“Saat pertama kali ngajak Didiet dan ngirim versi demo, jujur saya agak ragu apakah dia mau untuk berkolaborasi. Lalu beberapa menit kemudian, Didiet mengkonfirmasi lewat WhatsApp bahwa dia bersedia dan sudah kebayang untuk mengisi dengan nada apa aja,” kenang Anang.

 

Simak di HujanMusik! : “Kenakalan Antartick Dalam Mobil Tua dan Nostalgia Rock & Roll

 

Lagu bernuansa pop yang disesaki aura kegalauan hakiki ini diciptakan oleh Helvi (bassis) dan Anang (gitaris) sebagai co-witter dalam penyempurnaan lirik dan aransemen musik. Seakan tidak pernah berhenti dalam bereksplorasi, lagi-lagi Antartick membuat lagu dengan konsep yang sangat jauh berbeda dengan single sebelumnya. Bahkan penyajiannya pun seratus persen berbeda karena jika biasanya lagu dilantunkan oleh Joe sebagai frontman, kali ini Helvi didapuk untuk bernyanyi. Alasannya? Improvisasi atas kesalahan yang tidak disadari pada saat proses rekaman. Dan buat saya sebagai penikmat hasilnya jauh dari kata mengecewakan.

“Pada saat proses workshop menjelang rekaman lagu ini, Joe tidak bisa ikut karena sedang persiapan sidang kuliah. Mau tidak mau Helvi sendiri yang nyanyi untuk membuat guide dan dilanjutkan take instrumen dengan aransemen dan nada yang sesuai dengan range vokal Helvi. Nah, di situ masalahnya; Saya lupa untuk mengubah nadanya sesuai dengan vokal Joe. Hahahaha.” lanjut Anang.

Maka setelah proses rekaman instrumen dan dengan vokal guide Helvi yang sudah disempurnakan sedikit, ternyata mereka menilai kalau hasilnya terasa enak dan jiwa dari lagu tersampaikan. Akhirnya diputuskan, Helvi-lah yang akan membiru kelabu. Memang, kadang kesalahan mampu membangun sebuah perspektif baru.

Didiet Violin

Katanya “Biru Kelabu” menceritakan tentang ketidakpastian sebuah hubungan. Tema yang identik dengan kehidupan nyata muda-mudi di seantero negeri, digantung kemudian ditinggalkan tanpa pesan.

“Curhatan sih lebih tepatnya. Gue terjebak di situasi ‘Ghosting’. Di saat gue merasa nyaman dengan seseorang tiba-tiba orang itu menghilang. Sampai akhirnya gue menyerah, mundur dan mulai melupakan. Nah lucunya adalah ketika lagu ini selesai gue tulis dengan perasaan yang sudah luntur, dia malah balik ngejar gue. Tapi ya sudahlah, bak nasi sudah menjadi bubur perasaan pun nggak bisa seperti dulu lagi,” jelas Helvi tentang latar belakang pembuatan lagu ini.

Melalui lagu ini, Antartick seolah ingin berpesan agar kita selalu aware terhadap siapapun yang berada di sekitar. Bukan hanya sebatas perasaan, tapi orang lain pun memiliki peran sendiri-sendiri yang secara langsung maupun tidak berpengaruh pada kita.

“Untuk pesan lagu ini adalah jangan pernah sia-siakan orang yang menyayangimu. Karena saat dia sudah pergi, belum tentu dia kembali,” tutup Helvi.

Jadi, KawanHujan pilih mana, langit biru atau awan kelabu? Saya sih “Biru Kelabu”. Nggak tahu kalau mas Anang…..

One thought on “Langit Antartick Membiru Kelabu dengan Karya Baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *