Rilisan Pop Orchestra Paruhwaktu dalam Alexithymia

Rilisan Pop Orchestra Paruhwaktu dalam Alexithymia

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Malang – Panas landasan menyambut siang nan cerah, menyucup kuat saat matahari tengah terik-teriknya. Saya berada pada antrian menuju moda angkutan udara yang sudah terjadwal pasti berangkat setelah semua penumpangnya naik. Tapi tetap saja para pengantrinya sibuk berebut naik tangga pesawat, seolah takut tertinggal. Sungguh sebuah situasi jamak yang membuat melemahkan emosi, nyaris sedikit dalam ancaman alexithymia.

Alexithymia merupakan fenomona psikologis ketika kita tak lagi menemukan cara mengungkapkan emosi dengan baik. Satu kondisi ketidakmampuan untuk mengenali dan menyampaikan emosi, atau dalam pengertian sederhananya sering dikaitkan dengan gangguan antisosial dengan karakteristik yang berbeda.

Seperti judul single sebuah band pop asal Malang bentukan tahun 2016 bernama Paruhwaktu. Tataran kondisi subklinis yang menjadi inspirasi unit pop yang telah mimiliki satu EP itu. Menempatkan judul “Alexithymia” lantaran kerumitan istilah, demi melengkapi proses kreatif studio yang dilakukan Anita (vokal), Andhika Kusuma (gitar) dan Rizal Rosyadi (gitar).

Rizal sang gitaris menuturkan bahwa sesungguhnya lagu yang mereka rilis 14 Februari itu sudah sampai pada lirik, instrumen dan selesai direkam, namun belum ada judulnya.

“Akhirnya sebelum proses mixing mastering kita mencari judul yang pas untuk lagu ini. Setelah ada 4 judul akhirnya kita voting bertiga dan terpilihlah ‘Alexithymia’ ini. Alasannya malah cenderung bukan artinya, kita pilih karena namanya keren seperti nama band emo,” terang Rizal yang bertindak sebagai penata musik sekaligus penulis lirik.

Secara musical, single baru Paruhwaktu ini terdengar sangat jauh berbeda dengan EP Filantropi yang dirilis pada 2018. “Alexithymia” didominasi dengan tatanan musik orkestra yang memenuhi hampir seluruh bagian lagu. Para pengubahnya seperti hendak menajamkan dan memperdalam makna lirik dengan aransemen ber-nuansa orkestra. Pahatan proses kreatif setelah selesai membuat notasi dan lirik dengan bebunyian violin dan cello mengiringi lirik-lirik yang terucap.

Diluar ide tiga personel, tatasuara musik Paruhwaktu dalam “Alexithymia” dibantu oleh Gun Saleh (solois) sebagai pemain cello, Fibe Yulinda Cesa untuk bebunyian violin, juga Welly Soeganda (Liqua/Hyakushiki) yang mendukung permainan drum. Sementara untuk bass dimainkan Johan Wiharja dengan engineer recording Hanif Himsa (Ekstraversi).

Sesi rekaman yang dilakukan Paruhwaktu kali ini cukup lama dan berpindah pindah tempat dari rumah Rizal, rumah Fibe, radio Kosmonita Malang, hingga kamar kos Himsa. “Pengalaman yang cukup unik ketika harus berpindah-pindah tempat untuk sesi rekaman dikarenakan jadwal manggung atau pekerjaan yang padat. Efeknya adalah proses penggarapan lagu yang memakan waktu lama” lanjut Rizal.

Artwork single Paruhwaktu ‘Alexithymia’ digarap oleh seniman desain grafis yang tinggal dan menetap di Kota Malang bernama Benigno A.B.

Single Paruhwaktu “Alexithymia” yang dipublikasikan Sunsetroad Records itu sudah dapat dinikmati pada gerai musik digital Spotify, iTunes, dan banyak lainnya. Sunsetroad Records adalah label distribusi digital asal Malang yang dipercaya kembali untuk membantu Paruhwaktu menyebarkan musiknya ke berbagai kanal digital. Label ini sebelumnya juga terlibat dalam distribusi musik dari band Chamomile, Oddwain, hingga C-Four.

….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *