Tentang Kegelisahan Linimasa Shandya

Tentang Kegelisahan Linimasa Shandya

Duo Shandya asal Pangkalpinang merilis single “Linimasa Kini”. Foto : Reiproject Music

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Pangkalpinang – Ketika nada menembus gendang telinga, tak ada yang mempermasalahkan ia berasal dari mana. Barangkali ini yang dinamakan musik lintas teritori, ia tak berbatas wilayah geografis. Ritme yang dilantunkannya secara wajar akan diterjemahkan oleh benak masing-masing manusia yang mendengarnya. Seperti nada-nada yang mengalir dari dua talenta Bangka-Belitung, Shandya.

Shandya merupakan nama tampilan yang dipilih Isty Ulfartha (gitar, vokal) dan Ezra Prayoga (flute). Keduanya muncul sebagai dua penuh harapan, mengawali karir dalam dunia permusikan dengan merilis single pertama mereka yang berjudul “Linimasa Kini”.

Sebuah lagu dengan kandungan nada riang nan menyenangkan. Pilihan tepat untuk membangun mood yang ceria, meski maksud dalam lagu ini cukup kompleks dan menggelisahkan. Barangkali saya perlu angkat topi sajian aransemen yang disampaikan. Shandya menyampaikan keresahan dengan cara yang bersahabat, tanpa ingin menimbulkan kesan menasehati, menggurui, apalagi memprotes keadaan.

Tak ada keraguan, alih-alih mempermasalahkan mereka dari mana. Bagi saya nada yang mudah diingat dan melodi yang easy-listening cukup untuk menenangkan kebutuhan rohani.

“Linimasa Kini” merupakah sebuah lagu yang diharapkan dapat membangkitkan kesadaran terhadap sebuah keresahan. Lagu menyentuh dengan bahasa dari hati yang mengenai.

Sebuah lagu yang berisi curahan hati tentang keresahan dampak negatif kemajuan teknologi yang berimbas pada perubahan interaksi sosial di masyarakat. Keduanya merasa bahwa inovasi dalam perkembangan teknologi saat ini turut andil meminggirkan interaksi sosial di masyarakat, meski sejatinya memang ditunjukan untuk mempermudah kehidupan manusia.

Dampak negatif dengan kecenderungan orang-orang menjadi semakin individualis. Hal ini terlihat dari kebiasaan manakala kegiatan berkumpul kerap terinterupsi dunia layar kecil. Dari semula intensitas diskusi dunia nyata, teralihkan dengan gadget masing-masing, hingga menciptakan sebuah penjara tak kasat mata yang akhirnya membatasi interaksi antar sesame, bahkan di dunia nyata saat manusia saling berjumpa.

Begitulah Shandya. Nama yang secara harafiah berarti senja (dari bahasa India) dan juga cahaya (dari bahasa Sansekerta). Duo musisi berasal dari Kepulauan Bangka-Belitung. Berawal dari pertemuan mereka pada 2018 lalu di sebuah taman di tengah kota Pangkalpinang dan berdiskusi perihal skena musik di kota mereka, yang pada akhirnya sepakat berkarya bersama dengan Shandya.

Kecerdasan musiknya mengelabui asal, walaupun bahasan yang diangkat dalam lirik “Linimasa Kini” merupakan sebuah tema yang serius, namun mereka mencoba menyampaikannya dengan ringan dan bersahabat. Lirik berbalut pilihan kata-kata kiasan yang mudah dicerna maknanya.

“Memandang para insan tengah bersua, penjara dinding udara…”

“Tiada yang saling menyapa, mereka buang muka, enggan bercengkrama, sibuk perihal sendiri..”

“Linimasa Kini” direkam di Studio Masak Suara, Jakarta. Mixing dan mastering diolah oleh Rhesa Aditya.

Lagu ini sudah dapat didengarkan di semua platform musik digital sejak tanggal 1 Maret 2020 lalu. “Linimasa Kini” menjadi satu single perkenalan sebalum album perdana Shandya bersama Reiproject Music yang berisi delapan lagu rilis dalam waktu dekat…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *