Gelora Rock Sosial Stinghaze untuk EP Perdana

Gelora Rock Sosial Stinghaze untuk EP Perdana

Stinghaze, heavy rock Jakarta yang kini telah memiliki EP “Rekam Persuasif”. Foto : dok.Stinghaze

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Jakarta – Gelora rock itu ahirnya sampai juga dengan yang namanya mini album. Terkuak sejak triwulan terakhir 2019 gelora rock berat yang dimainkan unit heavy rock Jakarta Stinghaze itu seperti menuntaskan resolusi akhir tahun lalu dalam bentu extended play (EP) bertajuk “Rekam Persuasif”. Sebuah koleksi musik dalam lima lagu yang menjadi indentitas formasi Panji (vokal), Yoga (gitar), Rei (gitar) Fikar (bass), dan juga Karizky (drum).

Koleksi lagu yang diakui atau tidak cukup terasa pengaruh heavy rock 70an yang terinfluens oleh Led Zeppelin, Black Sabbath dan juga Deep Purple. Karya-karya semacam “Distorsi”, “Genosida”, “Intrik”, “Bungkam”, dan “Gusar” telah menambatkan Stinghaze sebagai band yang pada praktiknya menggunakan musik sebagai media untuk mengajak para pendengarnya sadar, bahwa ada masalah sosial sekitaran yang perlu diingat dan diketahui oleh banyak orang.

Ujaran soal fakta-fakta sosial memang sudah diletupkan Stinghaze sejak mereka disemburkan pada April 2017. Pilihan suara arus bawah yang disuarakan secara musik telah menempatkan mereka menjadi satu dari sekian kolektif musik yang memiliki keberpihakan konkrit. Dengan musik Rock dan bahasa yang lugas, band ini bersikap dan berusaha untuk memberikan pesan untuk pendengarnya yang mungkin memiliki kesamaan dalam musik dan kepekaan sosial. Dengan mengusung judul “Rekam Persuasif” Sringhaze berusaha mengajak para mereka yang peka untuk melihat ulang, memahami dan memperjuangkan isu sosial itu disajikan dalam bentuk audio. Harapan kelak akan ada perubahan social yang lebih baik turut tersemat dalam EP ini.

“Setidaknya orang-orang bisa merasakan apa yang kami anggap meresahkan dalam isu soaial yang sering kami bahas sehari hari,” tulis pihak band dalam rilis yang diterima HujanMusik!.

Seperti lagu “Distorsi” yang klaim pembuatannya pada saat gencar-gencarnya musik pop di tanah air kembali medapatkan sorotan dan banyak orang yang menganggap musik rock telah mati. Lagu “Genosida” yang menceritaan tentang terbunuhnya pejuang Hak Asasi Manusia. Lagu “Intrik”, yang menceritakan tentang pemilu yang dibuat berdasarkan asumsi semata, tentang apa yang akan terjadi pada “Pemilihan Presiden 2019”. Juga “Bungkam” yang menceritakan tentang isu hoax dan sosial media, dan “Gusar” yang menceritakan tentang hiruk-pikuknya kejadian di 23-24 September 2019 lalu mengenai penolakan RUU KUHP.

Dalam proses pembuatan “Rekam Persuasif” Stinghaze turut menerapkan apa yang mereka yakini dengan persuasive itu. Hampir semua lirik lagu, kecuali ”Distorsi” dibuat dalam lingkungan yang jauh dari music Rock, vokalis Panji yang saat itu bekerja disebuah cafe milik musisi duo Endah n Rhesa yang membuat sebuah perkumpulan atau komunitas Songwriting Club yang rutin diadakan di hari Senin. Dari sana Panji membubuhkan karyanya yang lahir berkat Pekerjaan Rumah (PR) yang diberikan oleh Endah Widiastuti dan Rhesa Adhitya.

“Lagu bungkam itu merupakan lagu hasil dari PR yang diberikan mas Rhesa, waktu itu beliau memberikan pilihan gambar untuk dijadikan bahan menulis lagu. Pada saat itu, saya memilih gambar sebuah keyboard yang di atasnya terdapat banyak sekali ranjau darat. Dari situ, saya beranggapan bahwa bukan hanya media saja yang terkekang idealismenya untuk menulis dan menyiarkan informasi. Malahan dengan adanya konvergensi media, banyak juga orang yang ingin menyalurkan idealismenya secara bebas padahal informasi itu adalah hoax,” tulis Panji.

Tidak hanya di situ, Panji juga merasa bahwa media sosial hari ini bergerak sangat fleksibel, utamanya dalam penyebaran informasi yang ternyata hoax. Dia mencontihkan kasus penganiayaan seorang siswi SMP bernama di Pontianak.
Dalam pengerjaan mini album ini, Stinghaze juga berkolaborasi dengan seorang illustrator asal Semarang bernama Zulfajri MB. Buah pertamuan dan koneksi yang terjalin hingg Artwork dan booklet mini album “Rekam Persuasif” terjadi. “Kami merasa sangat beruntung sekaligus terbantu dengan tangan beliau yang ajaib, beliau dapat merepresentasikan apa yang kami inginkan dalam bentuk visual,” tambah pihak band.

Proses rekaman mini album perdana inj berlangsung di Apache Music Studio, Bekasi. Membutuhkan waktu sekitar satu setengah tahun untuk merampungkan seluruh lagu mulai dari penulisan lirik hingga mastering akhir lagunya. Proses merekam yang cukup melelahkan karena pada saat itu ada beberapa bagian yang diimprovisasi untuk menyempurnakan lagu. Dalam perekaman lagu, beberapa kali mereka harus menyesuaikan diri dengan keunikan masing-masing personil baru, sehingga mau tak mau mereka beradaptasi lagi dengan cara bermain Stinghaze.

Kini kumpulan karya telah hadir dan bisa disimak sejak 31 Januari 2020 di layanan pemutar musik digital seperti Spotify, Apple Music, iTunes, Joox, Deezer, Soundcloud, Bandcamp dan lainnya.

….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *